“GAK PUNYA AKHLAK ANAK ITU!”
Kata itu terus saja terngiang dalam telinga ketika
seorang pengurus pondok mengatakan hal demikian didepan seluruh santri dan
ditujukan kepada seorang santri. Mungkin jika santri tersebut tidak dijadikan
kuat oleh Allah, bisa saja sudah kabur dari pondok dan tidak mau kembali lagi,
mungkin masih mendingan jika mengatakannya didepan beberapa santri, lha ini
didepan seluruh santri, bagaimana kewajiban kita agar tidak menyakiti hati
seseorang?
Apakah kita penentu baik buruknya akhlak
seseorang? Bukankah kita tak berhak untuk menghukumi seseorang baik atau buruk
akhlaknya? Apakah kita tahu batin seseorang? Apakah kita tahu alasan seseorang
berlaku demikian? Mengapa tak melakukan tabayyun dulu kepada yang bersangkutan
tetapi malah langsung menghukuminya semau kita, sesuka nafsu kita? Bukankah
mengatakan demikian didepan seluruh santri bukankah hal yang berlebihan? Apakah
tidak bisa mengatakan kepada yang bersangkutan saja agar lebih belajar akhlak?
Apakah begitu yang diajarkan dalam pendidikan dan agama? Bukankah hal tersebut
termasuk telah melanggar hak seseorang untuk mendapatkan nama baik?
Jangan olok mereka, mereka hanya masih awam, masih
belajar akhlak tapi ajarilah mereka, nasehatilah mereka agar belajar dari
kekhilafannya. Lantas tidak punya akhlak juga jika kita mengoloknya, lalu apa
bedanya kita sebagai pengolok dengan dia yang kita olok?
Allah.. bimbing kami...
Jombang, 18 Mei 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar