Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Senin, 13 Juli 2015

Kentongan Sahur



Kentongan Sahur

Malam begitu sunyi, bahkan hanya denting jam yang bersua. Malam yang begitu tenang, seakan tidak ada kehidupan malam yang ada disini, tidak ada suara hewan jangkrik, kelelawar, bahkan burung malam yang sampai sekarang belum ku ketahui namanya. Malam ini, tepatnya pagi ini pukul 02.17 am aku masih terjaga, tak ada kantuk yang biasanya selalu menghampiri malam-malamku. Aku tak bisa berkutik dengan semua itu, hanya sebuah benda warna hitam legam dan memiliki banyak tombol pada salah satu permukaannya yang menemani sunyi, laptop kesayanganku.
Dari jauh, suara permainan kentongan khas anak desa pun terdengar. Suaranya terdengar masih jauh, bergemuruh dan berirama. Dengan tanpa alas kaki, aku berlari sepelan mungkin agar tak terdengar berisik, ku pegang perlahan gagang pintu yang memisahkan kamarku dan ruang tamu, ku hampiri jendela, membuka tirai hijaunya perlahan serta mulai menerawang dikegelapan. Ku tunggu, mereka belum muncul. Mungkin adik laki-lakiku ada diantara mereka, celoteh batinku yang hamper tak terdengar.
Dalam hitungan detik saja suara permainan kentongan itu semakin keras. Dengan berbagai kombinasi nada yang tak begitu ku pahami, apakah do, re, mi atau lainnya. Aku yang berdiri dibalik kaca pun seolah acuh, apakah nada itu sesuai dengan pelajaran kesenian yang ku pelajari saat bangku SMA dulu atau tidak. Meski tak mengerti nada-nada itu, aku tetap menunggu segerombolan anak kecil yang melewati jalan depan rumahku. Segerombolan anak yang wajahnya terlihat samar diselimuti sendunya malam. Bolehkah aku menamainya pahlawan sahur?
Satu persatu banyangan mereka muncul dari kegelapan, meski tak terlihat siapa mereka, tapi aku menyukainya. Ada lebih dari sepuluh anak dari setiap kelompok. Meski begitu, aku hanya bisa melihat bayangan hitam dari tubuh mereka. Dengan suka cita mereka membangunkan masyarakat untuk mempersiapkan sahurnya. Tanpa peduli dinginnya hembusan malam, aku mudita melihatnya. Sejenak, aku kembali bernostalgia dengan masa kecilku dulu.
Dulu sekali, mungkin ketika aku masih duduk dibangku sekolah dasar atau bahkan sebelumnya, aku sudah mulai menyukai kentongan. Bahkan ketika belum memasuki sekolah taman kanak-kanak. Kata nenek, aku senang bermain dan memukul-mukul serta membawa kentongan yang berasal dari rumah saudara nenek. Rumah saudara nenek mungkin hanya berjarak kurang dari 50 meter, yang kebetulan satu kompleks dengan tempat tinggalku. Bisa dibilang, kami adalah keluarga besar, tanah yang kami pijaki merupakan tanah dari leluhur kami, entah buyutku yang tidak pernah kulihat raut wajahnya.
Masih teringat jelas, kala itu aku dan sepupuku yang terpaut 2 tahun lebih muda dariku sering bermain kentongan. Bahkan bukan diwaktu malam untuk membangunkan masyarakat untuk persiapan sahur, tapi bisa pagi, siang, bahkan sore. Aku juga masih ingat ketika aku dan saudara sepupuku tidur di teras rumah, tepatnya dibawah kursi kayu kuno yang belum ada sandarannya. Dengan sebuah kentongan ditangan masing-masing, kami janjian membangunkan masyarakat untuk bangun sahur seperti para remaja desa pada masa itu.
Dinginnya pagi memang menusuk tulang, apalagi untuk anak kecil seusia kami. Mungkin karena kami masih sangat kecil, kami tidak bisa bertahan lama dengan rasa kantuk yang terus menghantui. Ditambah lagi bujukan dari orang tua kami, nanti kalau sudah waktu membangunkan sahur, kami akan dibangunkan begitu janji mereka. Kami yang masih sangat polos pun menuruti apa yang dikatakan orang tua. Kami pun tidur dibawah kursi depan rumah, berharap jika ada suara rombongan pemain kentongan, kami langsung bisa bergabung. Tapi, seiring berjalannya waktu, keinginan itu tidak pernah terjadi, hingga ramadhan berakhir. Setelah usai menunaikan sholat subuh, kami yang masih sangat kecil itu bisa dibohongi bahwa setelah sholat subuh, nantinya aka nada lagi rombongan anak-anak desa yang bermain kentongan akan lewat mengajak kami bermain, dan kami percaya itu.
Hari-hari berjalan seperti itu dan seterusnya, hingga suatu ketika kami berinisiatif untuk tidur di musholla dekat rumah kami. Lantas kedua orang tua dengan tegas tidak membolehkannya karena memang kami masih sangat kecil dan polos, bukan seperti anak-anak sekolah dasar sekarang yang sudah paham pacaran. Kami hanya mengenal belajar, bermain, dan mengaji. Dalam bermain, memang semua temanku laki-laki, hanya aku yang perempuan. Tak heran ketika aku masih sekolah dasar terlihat sosok anak yang agak tomboy, anak perempuan yang suka memancing dikali depan rumah bersama anak laki-laki sebaya, suka mencari belut disawah, suka bermain layang-layang, bahkaan kata ibu, aku takut dengan boneka sewaktu kecil.
Aku tersadar dari lamunanku, rombongan kedua melewati jalan depan rumahku yang masih sangat sepi itu. Entah kenapa sepertinya mataku berkaca-kaca, seolah tergambar jelas keinginan ketika masih kecil tak dapat kucapai. Bukan keinginan yang muluk-muluk, tapi hanya keinginan ikut serta dalam rombongan pemain kentongan untuk membangunkan sahur, hanya itu. Aku sekarang sadar, melihat tubuhku sendiri dan telah tumbuh dengan cepat. Rasanya baru kemarin aku bermain kentongan dengan sepupu dan teman-teman kecilku itu, tapi kini aku telah tumbuh menjadi gadis dewasa muda yang sudah memasuki bangku kuliah diluar bumi angling dharma ini. Sepertinya baru ramadhan ini aku mendengar lagi suara permainan kentongan lagi setelah dua ramadhan berturut-turut aku menjalani puasa di pondok pesantren alumniku. Jika ingat tentang ini, aku jadi tersipu. Impian konyol yang belum pernah sekalipun ku capai, dan kini ketika aku bisa melakukan keinginan itu, aku telah mengetahui batasan-batasanku sebagai seorang akhwat. Terimakasih Allah, Kau melindungiku dari hal-hal yang tak pantas.

Bumi Angling Dharma, 13 Juli 2015
02.55 am
Bersama rangkulan malam yang tenang.

Minggu, 12 Juli 2015

Puisi: Untukmu Nama Semu



Untukmu Nama Semu
Oleh: Hasanatul Mutmainah

Ajarkan aku bagaimana menjagamu
Tunjukkan aku apa yang tak kau suka
Agar ku toreh ridhomu dan ridho-Nya
Lidahku memang kelu tuk ucap cinta
Aku diatas sajadah merahku
Menunggumu datang tuk meminang
Kau yang kusebut dalam hembusan do’aku
Kau yang akan menjadi imamku
Ku merajuk pada-Nya
Agar mendekatkan kita dalam do’a
Mempertemukan dalam nyata
Untukmu, nama semu

Bojonegoro, 12 Juli 2015


Sabtu, 11 Juli 2015

Puisi: Kekasih Pilihan



Kekasih Pilihan
Oleh: Hasanatul Mutmainah

Ribuan hari ku berlalu begitu saja
Menanti dan mendamba
Kedatanganmu yang tak pasti kapan
Menunggu nama seorang yang masih semu
Bergelantungan dipikiranku
Siapa kamu? Siapa namamu?
Akankah kau kan segera datang?
Dalam deraian air mata ku menunggu
Memantaskan diriku dalam diamku
Dalam riak-riak do’a ku lantunkan
Butiran-butiran air kerinduan tercurahkan
Hanya bisa seperti ini
Menyebut semu namamu
Kau yanga ada di lauhul mahfudz

Bojonegoro, 11 Juli 2015