Kentongan
Sahur
Malam
begitu sunyi, bahkan hanya denting jam yang bersua. Malam yang begitu tenang,
seakan tidak ada kehidupan malam yang ada disini, tidak ada suara hewan
jangkrik, kelelawar, bahkan burung malam yang sampai sekarang belum ku ketahui
namanya. Malam ini, tepatnya pagi ini pukul 02.17 am aku masih terjaga, tak ada
kantuk yang biasanya selalu menghampiri malam-malamku. Aku tak bisa berkutik
dengan semua itu, hanya sebuah benda warna hitam legam dan memiliki banyak
tombol pada salah satu permukaannya yang menemani sunyi, laptop kesayanganku.
Dari
jauh, suara permainan kentongan khas anak desa pun terdengar. Suaranya terdengar
masih jauh, bergemuruh dan berirama. Dengan tanpa alas kaki, aku berlari sepelan
mungkin agar tak terdengar berisik, ku pegang perlahan gagang pintu yang
memisahkan kamarku dan ruang tamu, ku hampiri jendela, membuka tirai hijaunya
perlahan serta mulai menerawang dikegelapan. Ku tunggu, mereka belum muncul. Mungkin
adik laki-lakiku ada diantara mereka, celoteh batinku yang hamper tak terdengar.
Dalam
hitungan detik saja suara permainan kentongan itu semakin keras. Dengan
berbagai kombinasi nada yang tak begitu ku pahami, apakah do, re, mi atau
lainnya. Aku yang berdiri dibalik kaca pun seolah acuh, apakah nada itu sesuai
dengan pelajaran kesenian yang ku pelajari saat bangku SMA dulu atau tidak.
Meski tak mengerti nada-nada itu, aku tetap menunggu segerombolan anak kecil
yang melewati jalan depan rumahku. Segerombolan anak yang wajahnya terlihat
samar diselimuti sendunya malam. Bolehkah aku menamainya pahlawan sahur?
Satu
persatu banyangan mereka muncul dari kegelapan, meski tak terlihat siapa
mereka, tapi aku menyukainya. Ada lebih dari sepuluh anak dari setiap kelompok.
Meski begitu, aku hanya bisa melihat bayangan hitam dari tubuh mereka. Dengan
suka cita mereka membangunkan masyarakat untuk mempersiapkan sahurnya. Tanpa
peduli dinginnya hembusan malam, aku mudita melihatnya. Sejenak, aku kembali
bernostalgia dengan masa kecilku dulu.
Dulu
sekali, mungkin ketika aku masih duduk dibangku sekolah dasar atau bahkan
sebelumnya, aku sudah mulai menyukai kentongan. Bahkan ketika belum memasuki
sekolah taman kanak-kanak. Kata nenek, aku senang bermain dan memukul-mukul
serta membawa kentongan yang berasal dari rumah saudara nenek. Rumah saudara
nenek mungkin hanya berjarak kurang dari 50 meter, yang kebetulan satu kompleks
dengan tempat tinggalku. Bisa dibilang, kami adalah keluarga besar, tanah yang
kami pijaki merupakan tanah dari leluhur kami, entah buyutku yang tidak pernah
kulihat raut wajahnya.
Masih
teringat jelas, kala itu aku dan sepupuku yang terpaut 2 tahun lebih muda
dariku sering bermain kentongan. Bahkan bukan diwaktu malam untuk membangunkan
masyarakat untuk persiapan sahur, tapi bisa pagi, siang, bahkan sore. Aku juga
masih ingat ketika aku dan saudara sepupuku tidur di teras rumah, tepatnya
dibawah kursi kayu kuno yang belum ada sandarannya. Dengan sebuah kentongan
ditangan masing-masing, kami janjian membangunkan masyarakat untuk bangun sahur
seperti para remaja desa pada masa itu.
Dinginnya
pagi memang menusuk tulang, apalagi untuk anak kecil seusia kami. Mungkin
karena kami masih sangat kecil, kami tidak bisa bertahan lama dengan rasa
kantuk yang terus menghantui. Ditambah lagi bujukan dari orang tua kami, nanti
kalau sudah waktu membangunkan sahur, kami akan dibangunkan begitu janji mereka.
Kami yang masih sangat polos pun menuruti apa yang dikatakan orang tua. Kami
pun tidur dibawah kursi depan rumah, berharap jika ada suara rombongan pemain
kentongan, kami langsung bisa bergabung. Tapi, seiring berjalannya waktu, keinginan
itu tidak pernah terjadi, hingga ramadhan berakhir. Setelah usai menunaikan
sholat subuh, kami yang masih sangat kecil itu bisa dibohongi bahwa setelah
sholat subuh, nantinya aka nada lagi rombongan anak-anak desa yang bermain
kentongan akan lewat mengajak kami bermain, dan kami percaya itu.
Hari-hari
berjalan seperti itu dan seterusnya, hingga suatu ketika kami berinisiatif untuk
tidur di musholla dekat rumah kami. Lantas kedua orang tua dengan tegas tidak
membolehkannya karena memang kami masih sangat kecil dan polos, bukan seperti
anak-anak sekolah dasar sekarang yang sudah paham pacaran. Kami hanya mengenal
belajar, bermain, dan mengaji. Dalam bermain, memang semua temanku laki-laki,
hanya aku yang perempuan. Tak heran ketika aku masih sekolah dasar terlihat
sosok anak yang agak tomboy, anak perempuan yang suka memancing dikali depan
rumah bersama anak laki-laki sebaya, suka mencari belut disawah, suka bermain
layang-layang, bahkaan kata ibu, aku takut dengan boneka sewaktu kecil.
Aku
tersadar dari lamunanku, rombongan kedua melewati jalan depan rumahku yang
masih sangat sepi itu. Entah kenapa sepertinya mataku berkaca-kaca, seolah
tergambar jelas keinginan ketika masih kecil tak dapat kucapai. Bukan keinginan
yang muluk-muluk, tapi hanya keinginan ikut serta dalam rombongan pemain
kentongan untuk membangunkan sahur, hanya itu. Aku sekarang sadar, melihat
tubuhku sendiri dan telah tumbuh dengan cepat. Rasanya baru kemarin aku bermain
kentongan dengan sepupu dan teman-teman kecilku itu, tapi kini aku telah tumbuh
menjadi gadis dewasa muda yang sudah memasuki bangku kuliah diluar bumi angling
dharma ini. Sepertinya baru ramadhan ini aku mendengar lagi suara permainan
kentongan lagi setelah dua ramadhan berturut-turut aku menjalani puasa di
pondok pesantren alumniku. Jika ingat tentang ini, aku jadi tersipu. Impian
konyol yang belum pernah sekalipun ku capai, dan kini ketika aku bisa melakukan
keinginan itu, aku telah mengetahui batasan-batasanku sebagai seorang akhwat.
Terimakasih Allah, Kau melindungiku dari hal-hal yang tak pantas.
Bumi Angling
Dharma, 13 Juli 2015
02.55 am
Bersama
rangkulan malam yang tenang.