Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Sabtu, 26 September 2015

Puisi: Pilihanku

Pilihanku
Oleh: Hasanatul Mutmainah

Dalam kerinduan yang tersemai dalam do’a
Terangkai sebuah nama
Terlukis indah dalam khayalku
Membuatku goresan senyum dalam rautku
Nama yang tak pernah kau sangka
Terukir istimewa dalam jiwa yang tersembunyi, itu namamu..
Meski…
Disetiap tawa yang ku pandang, disetiap cerita yang ku dengar
Disetiap mata yang tergambar, dia ada disana, selalu disana
Seorang yang kau simpan dihatimu
Kau takkan tahu seberapa lama, kau takkan tahu seberapa sulit
Kau takkan tahu seberapa ingin ku melupakanmu
Dalam diamku yang semakin semu
Kau mungkin perlahan memahami
Kau mungkin perlahan menerka-nerka
Perasaan yang selalu tenggelam
Dan entah kapan sampai pada permukaan
Tapi biarlah ku simpan sendiri
Kau tak perlu tahu rasa ini
Cukup kau bahagia dengan bidadari impianmu
Ku lepaskan jiwamu, ku ikhlaskan hatimu.
Ini pilihanku..

Jombang, 26 September 2015

Kamis, 10 September 2015

Ingat Ibu Bapak



Istighosah maghrib tadi aku duduk tepat di belakang imam. Disebelahku ada seorang anak yang baru duduk dikelas VIII MTs. Sebut saja namanya Diah, dia terlihat sangat mengantuk, bahkan terlihat manggut-manggut ketika yang lain melantunkan dzikir. Ku ketahui dia adalah anak yang suka menyendiri. Ku lihat jarang sekali dia bermain bersama teman seusianya. Mungkin akrena daya fikirnya yang lambat membuatnya tersingkir dari pergaulan teman-temannya. Diusianya yang masih kecil terlihat sekali dia sangat kesepian dan memang anaknya terlihat sedikit anah, tidak seperti biasanya. Pikiranku tergelitik, ya Allah bisa saja orang-orang yang aneh menurut kacamata kami adalah wali-Mu. Mungkin dia tampak aneh dihadapan manusia, tapi dia selalu menyepi dan menyendiri untuk mendekatkan dirinya kepada-Mu. Astaghfirullah…mungkin begitulah pandangan manusia, terlalu terbatas sehingga hanya melihat seseorang dari sebagian matanya. Astaghfirullah … istighosahku tak khusyuk sama sekali. Ighfirlanaa yaa Robb…

Kembali pikiranku melayang, tiba-tiba saja ku ingat resleting ranselku yang sudah mulai rusak. Yah namanya juga buatan manusia. Sejenak aku ingat ibu yang jaraknya beribu-ribu meter dari tempatku berpijak kini. Setiap kali pulang kerumah dan menggunakan baju yang sebelumnya belum pernah diketahui ibu, pasti ibu selalu member nasihat “jangan ngumpulin baju terus”. Aku tahu maksud ibu, agar aku belajar berhemat. Memang teman yang lumayan dekat denganku pasti suka ngajak kembaran gamis, dan yang membeli kain juga dia atau kami patungan. Aku tahu, segala yang kita gunakan didunia akan dihisab meskipun itu halal, tapi yang haram langsung tanpa hisab masuk neraka.

Kadang memang godaan wanita itu sangat banyak, jika kita tidak berhasil digoda dari segi asmara, maka syetan akan selalu mencari jalan lain agar kita bisa terjerumus menjadi sahabatnya di neraka. Aku ingat sewaktu masih kecil, memang keluarga kami pas-pasan. Satu tahun hanya sekali dibelikan baju baru, yaitu ketika lebaran. Bahkan bapak paling jarang membeli baju baru. Jujur, aku bersyukur memiliki bapak seperti beliau, selalu sederhana dan bersahaja. Bahkan ketika lebaran bapak pasti diberi baju atau sarung baru oleh tetangga, kepala desa atau lainnya. Ku ingat ketika bapak mendapatkan sarung atlas yang harganya lumayan mahal menurutku. Iyalah sarungku hanya sekitar 25ribu, sedangkan atlas 50rb lebih. Sarung atlas itu berwarna biru, sangat hangat. Ku ingat bapak mendapatkannya tahun 2009 sebelum aku lulus MTs. Sarung itu yang menemaniku pertama kalinya dipondok dan hingga sekarang selalu menghangatkan tubuhku ketika aku terlelap. Beeh jadi kangen bapak deeh.

Aku jadi ingat ketika liburan lebaran Idul Fitri tahun 2015 ini, ketika hendak berangkat menunaikan sholat jum’at, ibu menegur bapak “Sarungnya robek kok masih dipakek sih pak”. Ketika kedua mataku melihatnya, ternyata memang sarung itu robek karena dimakan tikus. Ya Allah, meskipun bapak punya banyak sarung baru didalam almari tetapi bapak lebih senang dengan penampilan yang bersahaja, bahkan ketika diundang mengisi acara khotmil qur’an juga seperti itu. Aku ingat ketika usiaku semakin beranjak dewasa tetapi aku tidak mau kamarku diberi kasur, bahkan badan terasa sakit dan panas jika tidur diatasnya. Iya, aku ingat kisahnya Rasulullah yang tidurnya saja dengan pelepah pohon kurma. Yaa Rasulullah mungkin hanya sedikit dari diri ini yang bisa menauladani sifat-sifatmu.

Sabtu, 05 September 2015

Puisi: Salah Terka



Salah Terka
Oleh. Hasanatul Mutmainah

Mataku terpejam
Ku telusuri dalam gelapnya pandang
Namamu yag telah ku buang tak ku temukan lagi
Mungkin tlah terkubur
Mungkin tlah terbang terhempas angin
Atau mungkin telah dipungut oleh pemilik yang baru
Sosok serba putih itu
Yang selalu mewarnai setiap hembusan do’aku
Yang menjadi tema setiap puisiku
Kini tlah hilang, pudar
Biarkan dia lenyap
Meski bisa saja ku susun lagi
Biar dia mencari tempatnya sendiri
Tempat yang dipilihnya bersama sosok yang baru
Bersama kenangan yang indah
Karna ku kecewa
Karenanya…
Sosok yang selalu indah
Membawa racun yang tak ku ketahui
Racun yang membuatku kecewa
Maaf ku terlalu menyanjungmu
Maaf ku salah menilaimu
Sebuah nama… kecewa.

Jombang, 5 September 2015

Jumat, 04 September 2015

Pelantikanku



Pagi ini ku segera bergegas bangun dari tempat tidur, meskipun dari semalam badan ini terasa kurang sehat. Iya, mungkin karena pagi ini adalah pagi yang special, hari ini adalah hari pelantikanku sebagai presiden mahasiswi dikampus perjuangan ini. bergegas ku ambil seperangkat alat mandiku, dan segera meluncur ke kamar mandi, ya meski engga pake papan seluncur kaya dipantai-pantai gitu sih. Selesai mandi ternyata sudah ditungguin sama salah satu anggota BEM yang lain. Sementara yang lain masih cemong-cemong belum mandi, si presmi udah rapi banget.

Selanjutnya tentang masalah tempat pelantikan, karena memang waktu yang sangat sebentar, belum sempat melobi bagian pengurus aula masjid dan soundsystem. Setelah Aida mengubungi cak Sunardi, Alhamdulillah cak-cak yang sedang melakukan pelatihan diaula bisa dipindah kelantai dasar. Segera teman-teman menyapu dan menata kursi-kursi untuk peserta pelantikan dan undangan.

Setelah menghubungi kembali pihak soundsystem, ternyata ada soundsystemnya rusak. Katanya sih terlalu mendadak menghubunginya, padahal pada sorenya udah tak hubungin tuh cak Sholikin yang mengurusi soundsystem. Tempat beres, selanjutnya masih mencari soundsytem. Setelah ada cak-cak yang member ide untuk mencari sound aktif, akhirnya bisa juga deh meskipun berlangsung sangat alot, saya salut dengan perjuangan April, Aida dkk. 

Allah, semoga hamba kuat memikul amanah ini.
Kembali isak tangis dalam batinku bergejolak, aku ingat kembali firman-Nya yang semalam membuat kedua mataku menjadi bengkak.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab/33:72)

Allah.. apakah hamba ini manusia yang bodoh? Tapi bukankah Engkau memberikan amanah ini berarti Engkau percaya bahwa hamba bisa mengemban amanah ini? Allah bimbing hati ini, kuatkan pundak ini agar bisa memikul amanah besar dari-Mu ini.