Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Rabu, 16 November 2016

Tersiksa Rindu?




Suatu waktu, akan ada rasa rindu yang sangat mencekik, suatu waktu akan ada rasa gundah yang menghantui, suatu waktu akan ada senyuman tipis mengingat kenangan-kenangan ini. Ini tentang sebuah episode, dimana pertemuan tak sengaja terjadi didalam sana. Ketika ada sebuah hati yang gundah akan tawaran, tapi kedua orang tua tidak menyetujuinya, ketika ada sebuah hati yang masih buta merasa geram akan lelucon yang dianggap tak pantas, ketika sebuah hati hampir saja berpaling, ketika sebuah hati membunuh paksa bibit yang baru kecambah dan menetralkannya, dan ketika hati dipertemukan kembali dalam sebuah organisasi.

Ini tentang kisah dua insan yang sama-sama masih belajar menjadi orang baik, saling menasehati dikala salah, saling memahami dikala ada masalah, saling bertukar pikiran ketika diskusi, saling ketergantungan ketika dalam sebuah struktur organisasi. Akan ada rasa rindu yang dalam, rindu melihat sosok yang tiap pagi mengendarai sepeda unta tersenyum penuh kehangatan, akan rindu sosok yang biasa mengambilkan sepatu seperti laki-laki yang sigap terhadap kebutuhan istrinya, akan rindu candaan-candaan renyahnya, akan rindu sosok yang bersama-sama mendampingi peserta lomba debate PAI, akan rindu sosok yang tiba-tiba cuek dengan sengaja, akan rindu sosok yang menjadi tempat berbagi privasi, akan rindu sosok yang biasa diajak berkoordinasi dengan orang-orang penting, akan rindu sosok yang sama-sama saling memotivasi, saling mengingatkan pentingnya bersyukur, saling mengingatkan pentingnya tahu siapa diri kita, sosok yang dengan perhatian menunggui dikala sakit, sosok yang dengan sabar membersihkan virus dilaptop dan ngomel saat laptopnya lemot, akan rindu sosok yang cemburu ketika bercanda dengan ikhwan lainnya, akan rindu sosok yang bersama mengajar kelas itu, ketika anak-anak berceloteh “bu.. dapet kode dari bapak yang didepan”, juga celoteh anak-anak “cie cinta bersemi dikelas X MIPA-1”, sampai ngendikan guru BK “seumpama mas sama mbak ini, jangan takut nikah muda, dst....”, ada juga yang ngendikan “pak... ini ibunya sudah saya kembalikan, makasih nggeh”, dan sosok itu pun berkata, “gimana neng, sudah banyak yang mendukung kita” dan dengan santai lawan bicaranya pun menjawab, “yaudah langsung aja bersatu, menjadi powerrangers, hehe” kataku, “jangan, jadi ultramen aja” katanya. Iya deh ya, menyenangkan hatinya ketua batinku.

Sosok-sosok luar biasa, sosok yang oleh Allah dipertemukan lagi di lembar cerita yang berbeda, tapi dengan tema yang masih sama. Jika tema ini memang selalu sama, semoga dipermudahkan untuk semakin dekat denganNya, semakin dipermudah menghamba kepadaNya, dipermudah segala perbuatan yang bernilai ibadah untuk menggapai ridhoNya. Disatukan dengan cinta dan ridho-Nya.

Selasa, 15 November 2016

Dua Pasang Kaki



Ini tentang sebuah kisah, ketika dua pasang mata tak pernah saling bertatap muka. Hanya saling berkata dalam maya. Ini tentang sebuah rasa yang diam-diam menyelinap kedalam dada masing-masing dari mereka. Ini tentang sebuah rasa, yang keduanya berusaha menepis rasa itu, memilih diam, memilih saling menjauh, karena takut rasa itu akan membutakan hati mereka, karena takut rasa itu akan membuat mereka lupa kepada sejatinya cinta, karena mereka takut akan semua itu, mereka memilih untuk sama-sama saling berhenti menyapa, berhenti berkata, meski kedua hati sangat menahan gejolak rindu yang ada. Tapi apalah daya, keduanya berusaha menjaga hati, hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk masa depan masing-masing. Meski bukan dia, meski rasa itu hanya pernah menyusup kedalam dada. Tapi kenangan itu tetap ada, meski tak ada lagi rasa. Hingga kini mereka tak saling sapa, karena takut rasa itu kembali menyusup kedalam dada mereka. Ini tentang mereka, yang memiliki kisah dibulan Juli. Sebuah nama tanpa inisial.


Ini kisah kemarin sore. Saat senja dengan lembut semakin mendekat, saat mendung mulai berarak, dan saat ke-2 pasang kaki menyusuri sebuah jalan beraspal. Ini kisah yang telah ditulis sejak dulu, yang mungkin ini adalah waktu yang ditunjuk pada tulisan itu. Teringat kisah sunan Kalijaga yang diutus sang Guru untuk menunggu sebuah tongkat. Dengan ketawadhu’an yang luar biasa, beliau menunggu dan terus menunggu, bahkan hingga sang Guru lupa. Ini bukan tentang ke-khilafan, ini bukan tentang kekurangan seseorang. Karena kisah itulah yang telah dituliskan disana, tak perlu ada kemarahan dan juga penyesalan. Begitu juga kisah ini, menunggu dalam diam dan bisu. Hingga sosok yang ditunggu pun muncul dalam tepian waktu, menggoreskan sebuah senyum penuh makna. Hingga suasana diam dan bisu pun berubah menjadi suasana yang tak bisa terlukiskan kata.

Kamis, 10 November 2016

Puisi: Trauma Hati



TERAUMA HATI
Oleh: Hasanatul Mutmainah

Pernah ku percaya, pernah ku menjaga
Pernah ku menyimpan, pernah ku tenggelam
Dalam cerita ilusi yang tak berujung
Dalam hayalan semu yang tak tergambar
Hanya dalam sekejap mata ini melirik
Hanya dalam sekejap hati ini terpalingkan
Tenangkah? Senangkah? Puaskah?
Ketika nafsu merasa senang
Ketika hati merasa sakit
Ketika akal terlalu berharap
Ketika jasad lelah mengikuti
Semua terlihat buram
Merasa sayang yang terlalu dalam
Hingga sedetik kenanganpun berbekas
Entah luka atau senyuman

Selasa, 08 November 2016

Puisi: Sebuah Episode



Sebuah Episode
Oleh: Hasanatul Mutmainah

Ku tulis sebuah goresan hati
Tentangmu, tentang keinginan hatimu, dan hatiku
Sebuah episode yang masih rahasia
Bahkan kadang tak sengaja menggores luka
Tak tertinggal guratan pedih dan tawa
Saat ku bergurau bersama lainnya
Saat kau berhubungan dengan bebasnya
Ada hati yang terluka, hatiku dan hatimu
Saling cemburu, saling tak rela
Rasa ini tak seharusnya ada
Hingga kau ungkapkan maksud hatimu yang telah lama
Dan hanya lewat barisan do’a ku menyapa
Dan aku bertanya, apakah ini jawaban do’aku?
Ataukah ini hanya sebuah episode semu?
Aku takut akan hal itu
Takut hati suci ini ternodai, takut hati rapuh ini tersakiti
Karena setiap tindakan akan ada konsekuensi
Seperti membuat guratan ini
Pernah ku mengadu
Dalam diam dan kesunyian malam
Nafsukan rasa ini? Fitrahkah rasa ini?
Kedua ketakutan yang terus mencambuk hati
Wahai tokoh dalam episode
Jangan sesekali kau mengoyak hati
Jika tidak, mari kita akhiri episode semu ini

Bersama rinai hujan. @Lt. 1 Kompleks Tarbiyah
Jombang, 8 Nopember 2016






Kebanyakan selalu haus akan pujian dan enggan akan kritikan. Ibaratkan seseorang memberikan kritikan adalah ketika seseorang memukul ular berbisa yang berada disebelah temannya dengan tujuan agar tidak dipatuk oleh ular tersebut, sedangkan orang yang suka memuji ibaratkan hanya sekedar memberitahu ada ular berbisa disebelahnya tanpa bermaksud menghindarkan temannya dai ular tersebut.