Dalam ruang ini aku mengenang.
Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya.
Kau ingat di ruang itu?
Kau pun tak bisa mengelak terhadap
fakta yang ada.
Bibir – bibir mereka terus
menyudutkan kita.
Tatapanmu didepan mereka kepadaku
menjawab mereka.
Hingga hanya senyum simpul yang bisa
ku berikan.
Tatapan itu bisa mereka baca.
Bercerminlah.. Apakah kau lihat sorot matamu?
Ada cerita bermakna dibalik
pupilnya.
Apakah kau dapat melihatnya kembali?
Dan aku kembali berada ditempat ini.
Mengenang setiap jengkal langkah
kita.
Melihat setiap atsar yang semu.
Aku, engkau, kita pernah duduk
disana.
Menikmati lembutnya angin yang
menerpa. Menikmati hangatnya mentari.
Menikmati sejuknya embun pagi. Merasakan
dinginnya hujan.
Ingatkah saat ku membangunkanmu
untuk dhuhur?
Ingatkah saat aku diam membisu pagi
itu?
Dengan tersenyum kau berkata “Apakah
kau cemburu dengan anak kecil sepertinya?”
Aku hanya diam tertunduk dan tersirat
“maaf aku ingin mengakhiri semua cerita.”
Kau mendongakkan kepalaku, aku
menghindar.
Kau membujukku agar kembali bersamamu,
membangun kembali komitmen kita.
Kau genggam erat tanganku, ku lepas...
lalu semakin erat kau menggenggamnya.
Ku akhiri kediamanku, ku ucapkan
maaf.
Kau masih bergeming, tak ingin aku
pergi sebelum ku memaafkan khilafnya.
Aku mengangguk, tanpa sadar aku menjabat
tangannya.
Tak sadar bibirnya mendarat di
pipiku, dan aku masih tertunduk, berjalan keluar.
Ku lihat kaca, apa yang barusan
terjadi? Mengapa wajahku merah sekali?
Aku menangis tersedu di toilet,
menangis sejadi – jadinya.
Apakah aku harus marah? Semuanya tlah
terjadi, percuma jika aku marah.
Hanya diam dan diam. Kejadian ini
tak boleh terulang sebelum kita halal.