Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Selasa, 13 Juni 2017

Kenangan Kita



Dalam ruang ini aku mengenang.
Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya.
Kau ingat di ruang itu?
Kau pun tak bisa mengelak terhadap fakta yang ada.
Bibir – bibir mereka terus menyudutkan kita.
Tatapanmu didepan mereka kepadaku menjawab mereka.
Hingga hanya senyum simpul yang bisa ku berikan.
Tatapan itu bisa mereka baca.
Bercerminlah..  Apakah kau lihat sorot matamu?
Ada cerita bermakna dibalik pupilnya.
Apakah kau dapat melihatnya kembali?
Dan aku kembali berada ditempat ini.
Mengenang setiap jengkal langkah kita.
Melihat setiap atsar yang semu.
Aku, engkau, kita pernah duduk disana.
Menikmati lembutnya angin yang menerpa. Menikmati hangatnya mentari.
Menikmati sejuknya embun pagi. Merasakan dinginnya hujan.
Ingatkah saat ku membangunkanmu untuk dhuhur?
Ingatkah saat aku diam membisu pagi itu?
Dengan tersenyum kau berkata “Apakah kau cemburu dengan anak kecil sepertinya?”
Aku hanya diam tertunduk dan tersirat “maaf aku ingin mengakhiri semua cerita.”
Kau mendongakkan kepalaku, aku menghindar.
Kau membujukku agar kembali bersamamu, membangun kembali komitmen kita.
Kau genggam erat tanganku, ku lepas... lalu semakin erat kau menggenggamnya.
Ku akhiri kediamanku, ku ucapkan maaf.
Kau masih bergeming, tak ingin aku pergi sebelum ku memaafkan khilafnya.
Aku mengangguk, tanpa sadar aku menjabat tangannya.
Tak sadar bibirnya mendarat di pipiku, dan aku masih tertunduk, berjalan keluar.
Ku lihat kaca, apa yang barusan terjadi? Mengapa wajahku merah sekali?
Aku menangis tersedu di toilet, menangis sejadi – jadinya.
Apakah aku harus marah? Semuanya tlah terjadi, percuma jika aku marah.
Hanya diam dan diam. Kejadian ini tak boleh terulang sebelum kita halal.