Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Sabtu, 16 Januari 2016

Pengajian Dalu



Asap panas masih megepul, sembilan tungku perapian masih menyala dengan warna khasnya, bara api pun masih terlihat senang bersemayam. Terlihat beberapa orang yang sibuk mengaduk sesuatu yang diletakkan diatas tungku perapian itu, ada pula yang mondar mandir mengangkat ember dan sebagainya. Suasana sangat riuh meskipun dalam kondisi tenang, ditambah sayup-sayup lantunan Surah Al Ikhlas seperti mengobarkan semangat setiap manusia yang berada ditempat itu. Dapur umum, biasa mereka menyebutnya.

Diluarsana ratusan bahkan ribuan jama’ah thoriqoh sedang melakukan dzikir fida’ bersama al ‘arifbillah Abah yang menjadi mursyid dari ajaran thoriqoh Syadziliyah Al Mas’udiyah. Mendengar dzikir fida’ pun sepertinya membuat langit ikut mengamini do’a para jama’ah, langit yang tadinya cerah sedikit demi sedikit berubah abu-abu, tidak salah lagi mendung yang mengepul disana. Hati ini mulai cemas tatkala setetes air mulai jatuh dari atas sana, selang beberapa menit, hujan deras pun mengguyur dapur umum yang hanya terbuat dari selembar karpet anti air (terpal) yang telah dipasang cak-cak Banser tadi siang. Semakin deras dan semakin deras hujan turun bersamaan dengan air mata jama’ah yang mulai khidmat menikmati dzikir fida’ mereka lakukan dihalaman masjid sana. Kami yang berada didapur umum sangat sibuk menutupi segala yang kami masak agar tidak tertetesi air dari terpal diatasnya. Komando dari koordinator memasakpun sulit kami dengar karena guyuran hujan yang lebat itu.

Beberapa cak-cak banser tiba-tiba sudah berada dilokasi untuk membantu memperbaiki terpal. Beberapa orang naik membenahi tali yang diikat diujung-ujung terpal dan beberapa lainnya membawa terpal baru dan hendak dipasang diatasnya agar air hujan tak masuk nasi yang sudah masak. Bagian sambal ternyata terkena air dari atas, alhasil semua payung dikeluarkan dan dipegang diatasnya, jadinya ya ngaduk sambal sambil pegang payung. Merasa hal tersebut kurang kondusif, akhirnya papan kayu dimiringkan untuk menghalangi air masuk, tapi apa boleh buat, usaha yang kami lakukan tidak berujung maksimal, bahkan ada sebagian air yang masuk dalam adonan sambal dan jadilah sambal rasa terpal, hehe. Semua yag ada dilokasi saling bahu membahu, bahkan karena darurat, kami terkadang terpaksa berbicara dengan cak-cak Banser dan bahkan jarak kami hanya 1 meter. Jarak seperti itu adalah jarak yang sebenarnya bisa membuat kami langsung lari menjauh, jujur sih kami paling takut dengan laki-laki. Bukannya apa-apa, tiap ada komando “mbak-mbak, ada cak-cak masuk asrama putri” langsung saja semua santri masuk kekamar.

Begitulah, berusaha menghindari seminimal mungkin interaksi dengan lawan jenis. Berusaha menjaga diri, semoga Allah meridhoi usaha kecil ini. Amiin.