Memaknai
yang terjadi.
Terkadang apa yang ada dalam
hati tidak semuanya harus tertuang dalam setiap perkataan, terkadang dengan
perkataan memang sengaja berusaha menutupi setiap makna dari sebuah hati. Merasa
malu mengakui apa yang ada dalam hati. Seperti sahabat saya yang menyayangi
seseorang, tetapi dia memilih diam, atau berusaha mengatakan tidak dihadapan
saya, padahal saya tahu betul betapa sayangnya dia kepada sahabat saya yang
satunya. Bahkan terkesan menolak setiap omongan yang membuatnya harus mengakui
hatinya, tapi lantas malah perkataannya seperti tidak membutuhkan sahabat saya
yang satunya itu, iya seperti kebalikannya, dia tidak ingin diketahui perasaannya.
Menyayangi seseorang tidak
lantas mengumbar kata sayang dalam setiap kata, tapi lebih bermakna dari itu,
yaitu mewujudkannya dengan tindakan nyata. Seorang yang berilmu tidak akan
mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya, tetapi dia beramal dengan ilmu itu.
Tindakan cukuplah memberikan sebuah keteladanan, bukan lantas berkata seperti
menggurui seseorang.
Dalam tenang, perlahan akan
bisa meresapi sebuah makna dalam kehidupan. Tenang, memandang keluar jendela,
mentafakkuri setiap inci dari ciptaanNya sambil menikmati nikmat berupa sakit
dan belajar ridho menerima setiap kebaikan atau kekurangan karena itulah nikmat
dari Allah, entah kita ridho atau tidak sakit ini akan dirasakan, bukankah
lebih baik kita ikhlas, ridho dan sabar? meski Allah menampakkan kepada kita
dengan nikmatNya yang berbeda, tapi perbedaan itulah yang menjadi keseimbangan.
Seperti sebuah timbangan yang
akan sejajar jika memiliki bobot yang sama antara utara dan selatan. Seperti
magnet yang kedua ujungnya berjauhan, tetapi ketika berdekatan, hingga tak
dapat dipisahkan. Bicara tentang timbangan, saya mengingat pertanyaan yang
sering muncul
“berat mana kapas 50 kg
dengan besi 50 kg?”.
Seorang yang memandang
sebelah mata sebuah perbedaan tentu akan menjawab “besi”, padahal hakikatnya
seimbang atau sama. Memilih antara Laptop atau notebook, hampir sama tetapi
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika ingin memutar vcd dengan
laptop akan langsung bisa, tetapi jika menggunakan notebook kita membutuhkan
cdroom. Seperti itulah.
Begitu pula dengan kehidupan
kita, butuh penyeimbang. Nikmat yang Allah berikan kepada kita bukan hanya
berupa keindahan, kemewahan, dan sebagainya. Adanya sakit, musibah, dan lainnya
akan menjadi penyeimbang, bisa saja kita akan menjadi orang yang sombong jika
kita ditakdirkan mendapatkan kenikmatan saja seperti Fir’aun yang tidak pernah
sakit lantas dia mengaku sebagai tuhan, bisa jadi kita akan menjadi tukang
mengeluh dan mengingkari nikmat Allah jika kita diberikan musibah terus
menerus.
Allah Maha Mengetahui segala
yang tebaik untuk kita. Kita hanya diperintah untuk berdo’a meminta kepadaNya.
Jika Allah memberikan nikmat yang berupa sakit, kita harus ridho, bersyukur,
dan sabar. Karena itulah Maha SayangNya. Seseorang berkata kepada saya tentang
apa itu menyayangi dengan kaffah dalam konteks tertentu. Menyayangi seseorang
jangan lantas hanya melihat kelebihannya, tapi kita juga harus menerima setiap
kekurangannya. Menjadikan kekurangan sebagi daya tarik paling tinggi bukan
karena kelebihannya. Perkataan yang sangat bermakna dalam bagi saya. Allah masih
menempelkan lekat dibenak saya.
Setiap kekurangan yang
terlihat oleh orang lain, itulah memang wujud asli dari nafsu kita, tetapi jika
Allah memperlihatkan kebaikan kita kepada orang lain, maka Allah telah menutup
aib kita kepada orang lain, itulah Maha Sayang Allah kepada kita. Saya teringat
sebuah kejadian, setelah selesai mencuci baju, orang tersebut duduk sambil
melihat film kartun, dari balik pintu ada tamu, sontak dia langsung mengucapkan
istighfar dan lari kedalam kamar karena tidak mengenakan jilbab didalam rumah. Iya,
memang begitu seharusnya, kita merasa malu jika aurat kita terlihat orang lain,
apalagi wanita. Bukan hanya aurat yang seperti kita pelajari dalam pelajaran
PAI, tetapi makna aurat bisa lebih luas dari itu.
Dengan adanya media sosial
banyak sekali aurat yang terpajang disana. Dan dengan bangganya mengupdate
ke-publik. Jika dipikir, apa manfaatnya? Apakah untuk mendapatkan pujian?
Ataukah ingin mendapatkan perhatian? Ataukah ada niatan yang lain? Tentunya
setiap orang akan berbeda dalam mentafsirkannya, karena ini sudut pandang
pribadi, (maasyaa Allah, batapa Agungnya Dia yang menjadikan setiap pemikiran
atau sudut pandang manusia tak semuanya sama.)
Bukankah lebih baik setiap
yang diupdate adalah kebaikan agar dapat memberi inspirasi kepada orang lain
untuk selalu berbuat kebaikan? Bukankah itu dapat menjadi investasi akhirat
kita? Alhamdulillah, Allah masih memberikan ingatan ini kepada saya, saat
ngaji, seorang ustadz menyinggung sedikit tentang “Tembok Ratapan” yang
dimiliki oleh orang Yahudi di Yerussalem sana. Sekarang ada yang lebih modern
lagi, sebut saja facebook. Banyak sekali dari kita yang meratap disana,
mengumbar aib diri sendiri bahkan orang lain, memperlihatkan nafsu dengan
bangga, mengolok orang lain seperti merasa dirinyalah yang paling baik. Padahal
jika kita lihat dalam hati nurani kita, perkataan yang buruk itulah yang
menunjukkan busuknya hati kita.
Lantas jika kita tarik
kesimpulan, berapa banyak hati yang telah busuk, dan betapa busuknya hati kita
yang mengatakan keburukan kepada orang lain? Mari perbaiki hati, ingat sabda
Rasulullah tentang hati? Didalam tubuh ada segumpal darah, jika dia baik makan
akan baik tubuh kita, nah jika segumpal darah itu busuk? Betapa busuknya kita?
Jika bau busuk itu memang tercium, siapakah yang akan mau berteman dengan kita?
Tak perlu berteman, mungkin tidak ada seorangpun yang mau mendekati kita bahkan
akan jijik jika melihat kita. Semoga bermanfaat.
Kamis, 15 September 2016.
di Jalur Babat – Jombang.