REVIEW BUKU "FILSAFAT ISLAM"
(Karya Dr. Zaprulkhan,
M.S.I)
Oleh: Hasanatul Mutmainah
NIM: 2013.112.01.2363
BAB 1 SEJARAH DAN PERKEMBANGAN FILSAFAT ISLAM
A. Prawacana
Dilihat dari kacamata tradisi
intelektual barat, filsafat Islam terlihat sekedar filsafat Yunani dan berperan sebagai pusat salah satu
penyalur unsur penting dari warisan kuno kepada barat abad pertengahan. Tetapi jika dilihat dari perpektifnya berdasarkan
pada keutuhan tradisi filosof Islam yang mempunyai kesinambungan selam 12 abad
dan masih tetap hidup hingga kini, seperti halnya yang berlabel ‘Islam’,
berakar pada Al-quran dan Hadist.
B. Pengertian Filsafat Islam
Filsafat
Islam merupakan gabungan dari dua kata yaitu filsafat dan Islam. Secara
etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani
yaitu philos dan Sophia. Philos artinya cinta yang makana
luasnya yaitu hasrat ingin tahu seseorang terhadap kebiksanaan, ilmu pengetahuan
atau kebenaran. SedangkanSophia berarti kebiksanaan, sehingga secara
sederhana filsafat adalah mencintai kebiksanaan.
Secara
terminologis, filsafat merupakan mempelajari pernyataan-pernyataan penting
tentang eksitensi kehidupan yang berakhir dengan pencerahan dan pemahaman
secara keseluruhan.Kata Islam berasal dari akar kata salima yang berarti
menyerah, tunduk, dan selamat. Islam artinya menyerahkan diri kepada Allah, dan
dengan menyerahkan diri kepada-Nya maka akan memperoleh keselamatan dan
kedamaian.
Jadi filsafat Islam pada
hakikatnya adalah filsafat yang bercorak Islami yang artinya filsafat Islam
adalah berpikir dengan bebas dan radikal namun tetap pada maknanya yang sesuai
dengan sifat,corak, serta karakter yang menyelamatkan dan memberi kedamaian
hati.
C. Polemik Seputar Filsafat Islam
Terjadi
perbedaan antara para ilmuwan mengenai penamaan filsafat Islam, yakni apakah lebih
layak disebut filsafat Arab
atau memang filsafat Islam. Termasuk Carlo Nallino seorang orientalis yang
menggunakan istilah arab terhadap filsafat Islam. Dan orang-orang india juga menentang penamaan
filsafat arab dalam tilikan Prof.Tarashad, penamaan filsafat arab sama sekali
tidak sesuai. Sebenarnya perbedaan istilah tersebut hanya perbedaan nama saja,
sebab bagaimana pun filsafat adalah dibawah naungan filsafat Islam
yang kebanykan ditulis dalam bahasa arab.
D. Perjumpaan dengan Tradisi-tradisi Lain
1. Perjumpaan dengan Tradisi Yunani dan Suryani.
-
Berawal dari penaklukan
Iskandaria pada641 memperluas kekuasaan Arab
atas timur tengah dan menjadi taman
peradaban Yunani (ketika dipimpin oleh Iskandar Agung).
-
Ketika jatuhnya
Iskandariah digantikannya dengan
Athena,semakin menjadi lumbung filsafat dan sains untuk bersentuhan
dengan peradapan Yunani
dan peradapan timur tengah lainnya, karena Iskandar-lah yang menjadi pusat bergelutnya dalam
tradisi keagamaan dan mistis Mesir,
Persia, Yunani, Yahudi
dan Phoenisia. Dengan demikian adanya pengaruh
besar dari aristoteles bahwa kaum muslim banyak memanfaatkan metode berfikir
logis.
2. Perjumpaan dengan Tradisi Persia dan India.
-
Meski budaya kaum Muslim
berutang budi terhadap tradisi yunani, tapi orang arab tidak dapat melepaskan
diri dari pengaruh orang Persia dan India.Pemikiran Persia menyentuh dunia
Muslim hanya terbatas, terutama atas sejumlah tradisi moral, keunggulan mereka
sedemikian rupa sehingga setelah tahun 750 hampir semua bintang-bintang pemikir
Islam yang berasal dari Persia. Adapun sejumlah karya-karya dari India
diterjemahkan selama masa pemerintahan Al-Mansur dan Harun atas permohonan
wazir besar Persia, yahya al-Barmaki. Dan filsafat Islam pada dasarnya adalah
sebagamana dapat dipahami dari dalam tradisi sendiri yang juga merupakan usaha
menyikapi suatu sarana untuk mendapatkan hakikat dalam dimensi Al-Quran.
E.
Penutup. Dengan bijak
cukup demikian bahwa ditegaskan bahwa filsafatIslam bisa disebut demikian
bukan sekedar filsafat Muslim atau arab karenasifat menentukananya ajaran Islam
di dalamnya. Begitu pula dalam kegiatan filsafat adalah
benar benar pelaksanaan perintah Allah dalam kitab
suci. Maka filsafat dan agama adalah dua saudara kandung, sehingga merupakan
suatu kezaliman besar jika keduanya dipisahkan.
BAB 2 PARA FILSUF ISLAM
A. Para Filsuf Islam di Wilayah Timur
1.
Mengenal
Al-Kindi dan Minat Filosofisnya.
Orang yang diterima sebagai Filsuf arab pertama, adalah
Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi. Berasal dari Suku Kindah di Yaman tetapi
lahir di Kufah (Irak) pada tahun 796 M. Orang tuanya adalah Gubernur dari
Bashrah. Al-Kindi menganut aliran Mu’tazilah kemudian belajar
berfilsafat. Meninggal sekitar tahun 866 M.Ibn al-Nadim seorang pustakawan terpercaya
menyebutkan ada 242 buah karya Al-Kindi bidang logika, metafisika, aritmatika,
falaq,musik astrologi, geometri, kedokteran, politik dan sebagainya. Karyanya yang
cukup terkenal adalah Fial-Falsafah al-Ula.Bagi Al-Kindi, kebenaran
agama tidak berlawanan dengan kebenaran filosofis. Mengnai kebenaran dari luar,
Al-Kindi menegaskan bahwa kaum Muslim tidak perlu malu mengakui
sebuah kebaikan dan mengambilnya dari manapun datangnya, meskipun datang dari
orang yang berbeda keyakinannya dengan kaum muslimin.Terhadap mereka yang
menolak filsafat, Al-Kindi menjuluki
sebagai Orang-orang yang asing dengan kebenaran dan memakai mahkota kebenaran
yang berhak mereka pakai.
a.
Filsafat
Ketuhanan. Al-Kindi
merupakan filsuf Islam pertama yang menggagas bukti rasional-filosofis tentang
Tuhan. Menurut Al-Kindi, alam semesta betapa pun luasnya adalah terbatas.Dengan
terbatasnya materi alam, terbatas pula hal-hal yang melekat dengannya, yaitu
gerak dan waktu. Dengan terbuktinya bahwa materi, gerak dan waktu dari alam
semesta ini terbatas, berarti alam semesta ini baru (huduts). Dengan demikian,melaui argumen kebaruan alam,Al-Kindi
membuktikan secara logis bahwa tuhan itu ada, sebagai pencipta alam. Al-Kindi
mampu mampu membangun argumentasi filosofis yang cukup mudah dicerna sehingga
bisa diterima di luar kalangan filsuf.
b.
Filsafat
Jiwa dan Akal. MenurutAl-Kindi, jiwa dipandang sebagai intisari dari manusia
dan filsuf-filsuf Islam banyak memperbincangkan hal ini. Menurutnya jiwa dan roh tidak
tersusun, tetapi mempunyai arti penting, sempurna dan mulia.Melalui perantara
jiwa, manusia bisa memperoleh pengetahuan yang
sebenarnya. Ada dua macam pengetahuan, pengetahuan panca indera daan
pengetahuan akal. Pengetahuan pancaindera hanya mengenai hal lahiriah
maka pengetahuan akal menyibak hakikat-hakikat yang hanya dapat diperoleh
manusia dengan melepas dirinya dari sifat binatang yang ada dalam tubuhnya.
Caranya dengan meninggalkan dunia dan berkontemplasi tentang wujud.
c.
Catatan
Kritis. Al-Kindi merupakan orang pertama yang
memindahkan filsafat Yunani secara sistematis dari sumber-sumber literer asing
dan menyalurkannya ke dalam lingkungan Islam. Keistimewaan unik lain dari Al-Kindi
adalah ia begitu ahli bagaimana mengatur permainan musik yang mempunyai pola
masing-masing pada waktu pagi, siang dan malam hari.
2.
Mengenal
al-Farabi dan Karyanya.
Nama lengkapnya adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad
bin Tarkhan bin Uzalagh al-Farabi, lahir di Wasij tahun 870 M. Menurut Louis
Massignon, al-Farabi adalah seorang filsuf Islam pertama yang sesungguhnya.
Al-Farabi juga menjadi guru bagi Ibnu Sina, Ibn Rusyd dan filsuf-filsuf Islam
lain setelahnya hingga ia mendapat gelar “Guru pertama” (al-mu’allim
al-tsani), sebagai kelanjutan Aristoteles yang mendapat gelar “Guru
pertama” (al-Mu’allim al-awwal).
a.
Teori
Epistemologi. Al-Farabi
membangun teori demonstrasi atau epistemologi yang terpusat pada analisis
terhadap syarat-syarat yang harus dipenuhi agar memperoleh ilmu atau
pengetahuan. Al-Farabi mendasarkan analisis ini pada perbedaan antara dua
tindakan kognitif dasar, yakni konseptualisasi (tashawwur) dan
pembenaran(tashdiq). Salah satu sisi penting interpretasi ini
adalah analisis al-Farabi tentang
kepastian yang mencirikan konfirmasi sempurna. Al-Farabi mendefinisikan
kepastian mutlak dalam batas-batas yang disebut sebagai pngetahuan tingkat
kedua, dengan menegaskan bahwa kepastian itu terdiri :1) keyakinan bahwa
kebenaran yang telah diterima seseorang mustahil menjadi kebalikannya dan 2)
keyakinan bahwa tidak ada keyakinan lain yang mungkin selain keyakinan yang ia
pegang. Kesimpulannya adalah Kepastian tidak hanya
mensyaratkan pengetahuan seseorang bahwa sesuatu itu adalah suatu hal, tetapi
juga pengetahuannya bahwa ia mengetahuinya.Perbincangan teori epistemologi
juga berusaha membuat Al-Farabi menggabungkan teori ide Plato dan teori
Pengabstrakan objek-objek dari Aristoteles. Menurut Al-Farabi, adalah suatu
kesalahan kalau dikatakan ada pertentangan antara Plato dan Aristoteles, sebab
keduanya sama berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalaah wujud Tuhan, wujud
alam rohani dan wujud atau objek yang diabstraksikan dengan kekuatan akal untuk
menjadi bahan pengetahuan manusia. Al-Farabi menggunakan ta’wil yang kadangkala
ia mengikuti pandangan Plato dan di saat lain ia mengikuti pandangan
Aristoteles. Namun, usaha al-farabi tersebut kiranya sangat lemah dan kurang
berhasil.
b.
Teori
Emanasi.
Emanasi merupakan teori tentang keluarnya suatu wujud
yang mumkin (alam makhluk) dari Zat yang wajibul wujud (Zat yang wajib
adanya yakni Tuhan). Teori emanasi disebut juga dengan nama “teori
urut-urutan wujud”.
Al-Farabi mendapat ilham dari seorang filsuf emanasi, Plotinus. Allah, menurut
al-Farabi, menciptakan alam semesta melalui emanasi, dalam arti bahwa wujud
Tuhan melimpahkan wujud alam semesta. Emanasi itu terjadi melalui tafakkur
(berfikir) Tuhan tentang zat-Nya, yang merupakan prinsip dari peraturan dan
perbaikan dalam alam.Dengan kata lain, berpikirnya Allah tentang zat-Nya adalah
adanya sebab adanya alam ini. Dalam arti Ia-lah yang memberi wujud kekal dari
segala yang ada. Berpikirnya Allah tentang zat-Nya sebagaimana kata Sayyed
Zayid, adalah ilmu Tuhan tentang diri-Nya, dan ilmu itu adalah daya (al-qudrah)
yang menciptakan segalannya. Agar sesuatu tercipta, cukup Tuhan mengetahuinya.
Berpikirnya Allah yang maha Esa tentang zat-Nya yang Esa melimpahkanlah yang
terbilang pertama, yaitu akalpertama.Akal pertama berpikir, yang
merupakan qudrah, tentang Allah, mewujudkan akal kedua, dan berpikir
tentang diri-Nya mewujudkan langit pertama. Akal kedua juga berpikir tentang
Tuhan dan mewujudkan akal ketiga dan berpikir tentang diri-Nya mewujudkan alam
bintang. Akal ketiga sampai dengan akal keesepuluh juga berpikir tentang
Allah dan tentang diri masing-masing. Berpikir tentang Tuhan menghasilkan
akal-akal dan berpikir tentang diri menghasilkan planet-planet. Demikian akal ketiga mewujudkan akal keempat dan
saturnus, akal keempat mewujudkan akal kelima dan Yupiter, akal kelima
mewujudkan akal keenam dan Mars, akal keenam mewujudkan akal ketujuh dan
matahari, Akal ketujuh menghasilkan akal kedelapan dan venus, akal kedelapan
mewujudkan akal kesembilan dan Mercurius, dan akal kesembilan mewujudkan akal
kesepuluh dan Bulan. Tetapi,berpikirnya akal kesepuluh tidak menghasilkan akal
yang diwujudkannya hanyalah bumi.
c.
Teori tentang Nalar.
Dalam risalah terkenal yang berjudul Risalah fi al-aql
(Risalah tentang Nalar), al-farabi mengurai enam istilah seputar nalar atau
akal “pertama, nalar yang oleh masyarakat awam dikenakan pada orang cerdas,
yang juga dipakai untuk mengukur “ kemasuk-akalan.” Kedua,
nalar seperti yang dimaksud oleh para teolog ketika membenarkan atau menolak
pendapat tertentu. Dalam konteks ini kata Al-Farabi nalar dapat diprediksi
menjadi “kesepakatan umum”.
3.
Mengenal
Ibn Sina dan Karyanya.
Ibn
Sina mulai menuangkan gagasan-gagasannya secara tertulis. Berbagai
karyanya,menurut versi modern berjumlah 276 buah yang mencakup seluruh kajian
filosofis, saintifik, kedokteran dan juga kebahasaan. Diantara karya-karya itu
adalah Al-syifa’ (pengobatan), Al-Najat (keselamatan), dan Al-Isyarat
(Isyarat-isyarat) Juga sejumlah risalah mistis atau isyraqi.Berbeda
dengan al-Farabi, Ibn Sina tampak acuh tak acuh terhadap filsafat politik atau
etika. Perhatian Ibnu Sina terpusat pada bidang metafisika dan logika,
sebagaimana yang tercermin pada luasnya kajian filosofis yang terhadap dalam
Al-Syifa’, Al-Isyarat, dan sebagainya.
a.
Filsafat
Wujud/Ketuhanan
Ibn Sina terkenal dengan
argumennya melalui kemungkinan (dalil al-jawaz), beliau membagi wujud
menjadi tiga, yaitu (1) Wujud niscaya (wujud harus senantiasa ada, tidak
boleh tidak ada) (2) wujud mungkin (wujud yang boleh saja ada atau tidak
ada, kedua – duanya boleh saja) (3) Wujud mustahil (keberadaannya tidak
terbayangkan oleh akal).
b.
Filsafat
Jiwa
Menurut Ibn Sina, jiwa
manusia seperti jiwa – jiwa yang lainnya berada dibawah bulan, memancar dari
akal kesepuluh. Beliau membagi jiwa menjadi tiga, yaitu jiwa tumbuh –
tumbuhan (nafs nabatiyyah) (kesempurnaan untuk bertahan hidup,
berkembang biak dan makan. Jiwa tumbuh mempunyai tiga kekuatan, yaitu kekuatan
menyerap makanan (gizaiyah), kekuatan pertumbuhan (quatun namiyyah),
dan kekuatan perkembangbiakan (quatu tawaludiyyah).), jiwa binatang (nafs
haiwaniyyah) untuk melengkapi kesempurnaan manusia yaitu bergerak dan
berpikir, dan jiwa kemanusiaan (nafs insaniyyah) dengan memiliki jiwa
kesempurnaan manusia yang dengannya bisa berpikir dengan akal, meneliti, serta
membandingkan.
c.
Catatan Kritis
Khaldun, bajjah sebagai gerbang wacana
filosofis dinegeri Andalusia,sebuahkawasan
barat islam. Ibn khaldun ahli teori
sosia besar arab, menyebut al-farabi dan ibnu sina sebagai filsuf- filsuf utama
islam ditimur, ibnu bajjah dan Ibn Rusydi dibarat
C.
Para Filsuf Islam di
Wilayah Barat Islam
1.
Mengenal Ibn Bajjah dan
Karyanya.
a.
Teori Pemerintahan
b.
Teori Ittishal,
kontak intektual dengan tuhan
2.
Mengenal
Ibn Thufail.
Tokoh terkemuka kedua dalam sejarah Filsafat Andalusia
adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail, yang lebih dikenal
dengan Ibn Thufail. Buku karangan dari Ibn Thufail menyangkut beberapa
persoalan filsafat, seperti filsafat fisika, metafisika, kejiwaan dan
sebagaimana, di samping risalah-risalah (surat surat) kiriman kepada Ibn Rusyd,
tetapi karya-karya tersebut tidak mampu bertahan hingga hari ini, kecuali
sebuah karangan terkenal yaitu risalah Hayy ibn Yaqzhan, merupakan intisari
pikiran-pikiran filsafat Ibn Thufail dan yang diterjemahkan ke dalam berbagai
bahasa.Judul Hayy ibn Yaqzhan memang sama dengan buah karya Ibn Sina yang
diakuinya sendiri berisikan kebijaksanaan Timur (Oriental Wisdom). Kebijaksanaan
Timur pulalah yang menjadi pokok pikiran Ibn Thufail dalam buku ini.Beliau
menguraikan tentang tangga-tangga pengetahuan yang ditempuh oleh akal, mulai
dari objek-objek inderawi samapi pikiran-pikiran universal. Ia
mendemonstrasikan bahwa tanpa pengajaran dan petunjuk, akal manusia bisa
mengetahui wujud tuhan, yaitu melalui tanda-tandanya dan menegakkan dalil-dalil
atas wujudnya tersebut. Akhirnya apa yang dititahkan syariat islam adan apa
yang diketahui akal sehat dengan dendirinya, berupa kebenaran, kebaikan dan
keindahan dapt bertemu keduanya dalam satu titik tanpa diperselisihkan.
3.
Mengenal
Ibn Rusyd dan Karyanya.
-
Tidak
bisa tidak,tokoh terbesar dalam sejarah filsafat Andalusia adalah Abu al-Walid
Muhammad Ibn Ahmad ibn Rusyd. Dalam literatur Latin, Ibn Rusyd disebut
Averros.Pada mulanya Ibn Rusyd mendapat kedudukan terbaik dari khalifah
al-Manshur sehingga pada waktu itu Ibn Rusyd menjadi raja semua pikiran, tidak
ada pendapat kecuali pendapatnya, dan tidak ada kata-kata kecuali kata-katanya.
Tetapi keadaan tersebut segera berubah ketika ia difitnah telah merusaka agama
dan telah keluar dari Islam, yang dilancarkan oleh golongan penentang filsafat
yaitu para fuqaha masanya, sehingga ia dikurung di suatu kampung Yahudi,
bernama Alisanah. Setahun
lamanya Ibn Rusyd mengalami masa yang sangat getir itu, dan pada tahun 1197 M,
khlifah mencabut hukumannya dan mengembalikkan semua pangkat yang pernah dia
pegang sebelumnya. Ibn Rusyd meninggal 10 desember 1198 M/ 9 Shafar 595 H di
marakesh dalam usia 72 tahun menurut perhitungan Masehi dan 75 tahun menurut
perhitungan tahun Hijriyah. Buku-buku penting yang
masih hingga hari ini ada empat, yaitu:
a.
Bidayatul
Mujtahid
b.
Faslul
Maqal
c.
Manhaj
al-Adillah
d.
Tahafut
at-Tahafut
-
Ibn
Rusydi salah satu seorang filsuf yang sangat keras dalam berusaha untuk
mendamaikan kebenaran filsafat dan agama. Menurutnya perbedaan keduanya masih
bisa di damaikan apabila pertama-tama orang mau mematuhi ketentuan Al Qur’an
(QS.Ali Imran ayat 7). Beliau juga berpendapat bahawa “ karena filsafat
berbicara tentang keberadaan entatis sejauh ia di cipta dan menunjuk kepada
sang pencipta.”
-
Hukum Sebab-Akibat dan Hubungannya dengan
Mukjizat Menurut Ibnu
Rusyd.
Berikut ini merupakan bantahan
Ibnu Ruysd terhadap imam ghazali mengenai sebab-akibat yang memang merupakan
kejadian yang keluar dari kebiasaan;
1.
Terdapat hubungan yang dharuuriiy ( pasti ) antara sebab
dan akibat
Menurut
Ibn Rusyd, bahwasanya semua benda atau segala sesuatu yang ada di alam ini
memiliki sifat dan ciri tertentu yang disebut dengan zatiyah. Dengan
arti bahwasanya untuk terwujudnya sesuatu keadaan mesti ada daya atau kekuatan
yang telah ada sebelumnya. Menurut Ibn Rusyd, kita bisa mengenali mawjud yang ada ini dengan adanya
hukum sebab-akibat zatiyah, maka
dengan itu pula kita bisa membedakan antara satu dengan lainnya.
Misalnya, api yang
sifat zatiyyah-nya adalah
membakar, air yang sifat zatiyyah-nya
adalah membasahi. Sifat membakar dan membasahi ini adalah sifat zatiyyah-nya dan merupakan pembedan
antara api dengan air, jika tidak ada sifat tertentu, tentunya air dan api sama
saja, tidak ada bendanya, akan tetapi hal ini adalah sesuatu yang mustahil.
2.
Hubungan
sebab-akibat dengan adat atau kebiasaan
Menurut
Ibn Rusyd, bahwasanya al-ghazali tidaklah jelas dalam mengemukakan
pendapatnya mengenai sebab-akibat yang dianggap sebagai adat atau
kebiasaan. Ibn Rusyd mempertanyakan apakah yang al-ghazali maksud ini
adalah adat fa’il (Allah),
atau adat maujud, atau juga
adat bagi kita dalam menentukan suatu sifat atau predikat terhadap
maujud ini.
Kalaulah
yang dimaksudnya adalah adat Allah, hal ini mustahil karena apa yang disebut
dengan adat adalah suatu kemampuan atau potensi yang diusahakan oleh fa’il yang mengkibatkan berulang-ulangnya
perhatin mawjud ini. Hal ini sangat
bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa sunnatullah tidak
akan berganti dan tidak berubah. Jika yang dimaksudnya adalah adat bagi maujud, maka hal ini hanya akan berlaku
bagi yang memiliki roh atau nyawa karena bagi yang selain itu, bukanlah adat
namanya, tetapi tabia’at. Dan apabila yang dia maksud adalah adat bagi kita
dalam menentukan suatu sifat atau predikat terhadap mawjud, sepert si fulan baik san sebagainya, maka hal
ini mawjud terlepas
daripada nisbat (hubungan)-nya kepada fa’il(Allah).
3.
Hubungan
sebab-akibat dengan akal
Menurut
Ibn Rusyd, pengetahuan akal tidak lebih daripada pengetahuan
tentang gejala yang mawjud beserta
sebab-akibatnya yang menyertainya. Pengingkaran terhadap sebab-akibat berarti
pengingkaran terhadap akal dan ilmu pengetahuan.
4.
Hubungan
sebab-akibat dengan mukjizat
Di
awali dengan pendapatnya imam Ghazali, ketika seseorang percaya akan
keniscayaan, maka akan mengakibatkannya tidak percaya terhadap adanya mukjizat
nabi. Mengenai
hal ini, Ibn Rusyd membedakan antara dua mukjizat; mukjizat:
a.
Mukjizat al-Barraaniy, adalah mukjizat yang diberikan
kepada seorang Nabi, tetapi tidak sesuai dengan risalah kenabiannya,
seperti tongkat nabi Musa as yang merumbah menjadi ular, nabi Isa yang dapat
menghidupkan orang mati, dan lainnya. Mukjizat seperti ini yang saat itu
dipandang sebagai mukjizat atau perbuatan diluar kebiasaan dan boleh jadi satu
waktu dapat diungkapkan oleh pengetahuan. Ketika ilmu
pengetahuan dapat mengungkapkannya, maka ia tidak dipandang sebagai mukjizat
lagi.
b.
Mukjizat al-Jawaaniy, adalah mukjizat yang diberikan
kepada seorang nabi yang sesuai dengan risalah kenabiannya, seperti
mukjizatNabi Muhammad yakni al-Quran. Mukjizat seperti inilah yang dipandang oleh Ibn
Rusyd sebagai mukjizat yang sebenarnya, karena al-quran tidak dapat diungkapkan
oleh pengetahuan (sains) dimana pun
dan kapan pun.
5.
Catatan
Kritis Ibn Rusydi
Buku-buku
filsafat karangan Ibn Rusydi saja yang menguasai dunia barat sehingga nama filsuf lain hampir
dilupakan.
BAB 3 FILSAFAT
RASIONALISME ISLAM (STUDI EPISTEMOLOGI BURHANI ABED AL-JABIRI)
A.
Histori
Epistemologi Burhani
Menurut
ahli sejarah Filsafat, Heraclitus adalah orang pertama yang mengemukakan
pemikiran tentang logos, atau disebut juga akal universal (al-aql
al-Kauni). Untuk menjelaskan sistem yang menguasai jalannya kosmos yang
jauh dari mitologi dan mite, filsuf ini menggagas adanya “hukum universal” (al-qanun
al-kuli), yang mengatur realitas dan mengontrol proses terjadinya realitas(becoming)
yang terjadi secara terus-menerus dan abadi. Heraclitus memandang alam
semesta sebagai kosmos yang dinamis dan selalu berubah. Akal manusia bisa
sampai kepada pengetahuan yang benar tentang realitas alam jika ia “bersekutu” dengan “akal universal”, yakni
ketika ia berusaha mengkaji sistem natural dan memahami keniscayaan-keniscayaan
dan cakupan yang melekat pada sistem itu.
Selanjutnya, konsep akal
universal dikembangkanoleh puncak Filsuf Yunani: Aristoteles, sebelum
Aristoteles, metode-metode logika dan filsafat diuraikan secara terpisah, tidak
teratur serta tidak ada klasifikasi yang jelas. Dialah
yang menyusun metode logika secara sistematis beserta uraiannya. Logika
dijadikan sebagai langkah awal dan pembuka ilmu-ilmu filsafat. Karena
kejeniusannya dalam formulasi-formulasi persoalan logika dan filsafat, sehingga
ia dijuluki Guru pertama (The first teacher).
Aristoteles
mengidentifikasi Tuhan sebagai penggerak pertama. Penggerak yang tidak
digerakkan mengakibatkan semua gerak dan aktivitas di alam semesta, karena
setiap pergerakan meniscayakan sebab yang dapat dilacak kembali kepada sumber
tunggal. Meskipun penjelasannya tentang penggerak pertama agak berbau metafisik
dan spekulatif, Tuhan Aristoteles tidak banyak terkait dengan agama, Tuhan yang
tidak menciptakan dunia, tidak mewahyukan dirinya dalam sejarah dan tidak akan
mengadili di hari kiamat.
B.
Metode
Burhani
Sebagai
aktivitas kognitif, metode burhani atau demonstratif merupakan sebentuk
inferensi rasional, yaitu penggalian premis-premis yang menghasilkan
konklusi yang bernilai Metode demonstratif ini berasal dari filsuf terkenal
Yunani, Aristoteles dalam penuturan Aristoteles yang dimaksud dengan metode
demonstratif adalah silogisme ilmiah, yakni silogisme yang apabila seseorang
memilikinya maka ia akan memiliki pengetahuan. Menurutnya silogisme adalah
seperangkat metodeberpikir yang dengannya seseorang dapat
menyimpulkan pengetahuan baru dari pengetahuan-pengetahuan sebelumnya.
Metode burhani pada
dasarnya adalah metode logika atau penalaran rasional yang digunakan
untuk menguji kebenaran dan kekeliruan dari sebuah pernyataan atau teori ilmiah
dan filosofis dengan memerhatikan keabsahan dan akurasi pengambilan sebuah
kesimpulan ilmiah. Ini misalnya dilakukan dengan memerhatikan
validitas pernyataan-pernyataan yang ada dalam premis-premis mayor atau
minornya, serta ada atau tidaknya middle term yang sah yang mengantarai kedua
premis tersebut. Bentuk formal metode inilah yang disebut silogisme :
berupaya mengambil kesimpulan dari premis mayor dan minor yang
mengandung unsur sama, yang di sebut middle term (al-hadd al-ausath).
Sebuah
silogisme baru dikatakan demonstratif apabila premis-premisnya didasarkan bukan
pada opini, melainkan pada kebenaran yang telah teruji atau kenbenaran utama (primary
truth), karena hanya apabila premis-premisnya benar, kesimpulannya dapat
dipastikan benar. Contoh klasik
silogisme demonstratif adalah sebagai berikut: semua manusia akan mati (fana).Socrates
adalah manusia maka Socrates
akan mati.
C.
Aplikasi
Burhani: Filsuf Muslim Timur
Secara
historis Al-Kindi adalah filsuf muslim pertama yang mengakses diskursus
filosofis burhani Aristoteles di dunia
Arab. Al-Kindi bertolak dari ketetapan bahwa tujuan filsafat tiada lain adalah
mencari hakikat-hakikat segala sesuatu dan intinya tentang kebenaran awal,
yakni Allah, sama seperti tujuan agama. Dia memaparkan kalau tidak ada
pertentangan antara kebenaran agama dengan kebenaran rasional, karena keduanya
merupakan penampakan atas satu kebenaran. Dengan pendekatan Aristotelian ia
berusaha meyakinkan bila kebenaran filsafat dicapai melalui penalaran akal
murni.
Walaupun
Al-Kindi berusaha memopulerkan konsep filsafat Aristotelian, agaknya paradigma
normatif nalar Arab masih mewarnai corak filsafatnya. Ia sepenuhnya menggunakan
sistem argumentasi filsafat untuk menopang ajaran pokok Islam tentang tauhid. Al-Kindi
menolak untuk menyebut Allah sebagai akal, baginya Allah adalah Esa dari segala
hal ini: baginya tidaka ada kategori, tidak ada unsur, genus, spesies, jiwa,
akal dan Esa bukan karena disandingkan dengan yang lain, ia Esa secara
independen (wahid mursal). Esa secara independen artinya di sisi Allah
tidaka ada hal lain yang bersifat ketuhanan semacam ‘akal universal’ atau ‘akal
kesepuluh’.
D.
Aplikasi
Burhani: Filsuf Muslim Barat
Ketika menyebut nama Ibn
Hazm, menurut al-Jabiri, lazimnya orang hanya menganggap sebagai seorang ahli
hukum zahiri dan seorang polemikus yang pantang menyerah. Ibn
Hazm menolak dan membongkar seluruh prinsip kognitif yang menjadi dasar
pemikiran syiah Imamiyah dan Batiniyah. Dengan logika akal universal adopsi
pemikiran Aristoteles, secara tegas menyanggah irasionalitas di kalangan
Asy’ariyah dan menentang irfan kaum sufi. Menurutnya hanya akal yakni akal
universal yang bisa diterima sebagai standar penilaian, penentu maupun ilmu
rasional, karena segala yang benar dalam metode demonstratif niscaya ada
dalam Al-Qur’an dan sabda Nabi.
Lebih
jauh dengan logika yang sama, disamping akal, indra juga bisa dijadikan jalan
untuk meraih pengetahuan yang benar. Tradisi pemikiran Islam yang dominan pada
masa Ibn Rusyd adalah: 1) tradisi kalam dan filsafat 2) tradisi fiqih dan ushul
fiqih 3) tradisi tasawuf teoretik. Agama tidak menafikkan metode burhani atau
rasionalisme , tapi malah menganjurkannya, agar menjadi sarana yang efektif
bagi kalangan ulama’ atau kaum rasionalis untuk memahami agama secara rasional.
BAB 4 FILSAFAT KETUHANAN
BEDIUZZAMAN SAID NURSI
A.
Prawacana
Istilah
filsafat Islam pertama atau metafisika, salah satu unsuranya membahas tuhan.
Pertama kali digulirkan Aristoteles
yang dalam perkembanganya
selanjutnnya dipergunakan , termasuk oleh para filsuf Muslim dalam menguraikan
eksitensi Tuhan.
B.
Sketsa
Biografi Said Nursi dan Karya-Karyanya
Said
Nursi lahir menjelang fajar terbit pada tahun 1876 M di desa Nursi sebuah
perkampungan Qadha di wilayah Bitlis terletak di sebelah timur Anatoli. Dari
keluarga yang wara, Mirza dan Nuriah, beliau membinailmu dari bilik ayahnya
sendiri, Mirza dan saudara lakinya, Abdullah. Sebagai pelajar muslim dan mulai
mengkaji bidang nahwu dan sharf pada tahun 1888 dengan ketekunannya Nursi masuk
di sekolah Bayazid yang ditempuh selama 3 bulan. Ia berhasil membaca seluruh
buku-buku yang umumnya dipelajari disekolah agama dan lulus dengan membawa
ijazah dari Syaikh Muhammad Jalali.
Pada tahun1989, Nursi
berguru pada Fahullah Afandi, lalu kejeniusannya tersebar luas lebih dari 80
kitab induk tentang keislaman berhasil dihapal dan juga mampu menghafal kamus al-Qamus
al-Muhith karya Fairus Abadi, sampai pada huruf sin. Kemudian pergi ke
Bitlis untuk menelaah sejumbalah buku, sehingga pada tahun 1894 beliau pergi
menuju kota Wan untuk menpelajari disiplin ilmu modern, seperti geografi,kimia
dan lainya.
Ketika pecah Perang Dunia
I pada tahun 1914 dengan Rusia, Nursi ikut perang dan ditawan di Qustarma
selama dua tahun empat bulan. Kemudian Nursi ingin uzlah, mengasingkan diri di
masjid kecil milik bangsa Tatar di sungai Volga.Namun dalam sepanjang hidupnya
Nursi selalu hidup dalam penjara dari satu daerah ke daerah lain oleh kekuasaan
Kemal Attturk pada tanggal 23 maret 1960, Nursi menutup usia untuk selamanya
dan ia meninggalkan sehelai surban sepotong kain, dan uang dua puluh lira.
C.
Eksitensi
Tuhan dalam wacana Filsafat
Dalam pembuktian argument ada 5 macam antara
lain:
1.
Argumen Ontologis, yang membuktikan tentang adanya tuhan dan ide tentang
tuhan yang dimiliki oleh manusia.
2.
Argumen
Kosmologis, apabila
argument ontologis benihnya berasal dari Plato,
sedang Aristoteles yang mencetuskan pertama argument
kosmologis,yang beragumen bahwa Tuhan menggerakkan alam bukan sebagian
penyebab efisien, tapi sebagai penyebab final. Karena Tuhan menggerakkan
karena dicintai dan segala sesuatu di alam semesta
bergerak pula menuju penggerak yang sempurna.
3.
Argument
Teleologis, alam semesta
menunjukkan ada yang mengatur, mempunyai suatu tujuan, antara satu dan
lainnya berhubungan dengan erat.dalil teleologi selalu bermuara pada sifat atau
tindakan Tuhan Yang Maha Esa.
4.
Argument
Moral, yang dipelopori oleh filsuf ternama Jerman,
Immanuel Khan, dan dapat diuraikan menjadi dua, yakni bentuk dimana argument
disajikan sebagai inferensi logika, dari hukum
moral yang objektif, dan sebagai kelanjutan bentuk pertama yang melandasi
setiap perasaan moral dalam diri manusia adalah imperative kategoris.
5.
Argumen
pengalaman Religius, yang dipopulerkan oleh filsuf yang terkemuka dari
Pakistan, Muhammad Iqbal
“pemikiran dan relitas sesunggunya merupakan
kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Ini hanya mungkin kalau kita secara
saksama meneliti dan menafsirkan pengalaman, dengan mengikuti petunjuk yang
diberikan Al-quran yang menganggap pengalaman di dalam serta di luar sebagai
sutu relitas yang digambarkan yang pertama dan terakhir, yang terlihat dan yang
tidak terlihat.”
D.
Pandangan
Said Nursi Tentang Tuhan
Secar
global pandangan Nursi mengenai Tuhan dapat diuraikan dalam 3 kategori antara
lain:
1.
Nursi
memandang Tuhan sebagai dzat yang sangat unik dan memiliki kesempurnaan yang
tidak akan bisa dibandingkan dengan apa pun.
2.
Pandangan
Nursi tentang Allah yang memiliki kekuasaan absolut dan tidak bertepi atas
segala ciptaan-Nya.
3.
Meskipun
Allah mempunyai kesempunaan dan kekuasaan tak tertandingi yang sejatinya tak
terjangkau oleh nalar manusia yang lemah. Dia tetap ingin menunukkan
kesempurnaan dan kekuasaan-Nya.
E.
Pembuktian
Eksitensi Tuhan Menurut Said NUrsi
1.
Eksitensi
Tuhan dalam Bingkai Argumentasi Kosmologis
Ide
sentral yang terkandung dalam argumentasi kosmologis adalah rangkaian hokum
sebab akibat pada alam semesta yang harus berakhir pada sebab pertama yang
disebut Tuhan.
Uraian
Nursi tentang eksitensi Than melalui argument dapat diklasifikasikan sbb:
a.
Penciptaan
alam semesta dengan segala keanekaragaman yang membuktikan adanya Pencipta
Tunggal Yang Maha Kuasa.
b.
Adanya
kesempurnaan relatifyang menunjukkan kesempurnaan mutlak.
c.
Seluruh
makhluk berada dalam kebutuhan dan ketergantungan yang mengharuskan adanya satu
wujud wajib tempat bergantung.
d.
Keunikan
setiap ciptaan menunjukkan pengetahuan Tuhan yang Maha komperehensif dan
membuktikan adanya tuhan yang maha Esa.
e.
Setiap
makhluk ciptaan Tuhan merefleksikan Asma-asma-Nya secara indah, factual, dan
komperehensif.
2.
Eksitensi
Tuhan dalam Bingkai Argumentasi Ontologis
Argument ontologis berpijak pada filsafat
wujud yang menyatakan bahwa manusia mempunyai suatu gagasan tentang zat yang
sempurna dan tidak ada wujud yang lebih besar dari zat tersebut. Nursi
memberikan ilustrasi proses penciptaan itu bagaikan gambar bayngan pada cermin
yang menempel dikertas alat pemotret sehingga menjadi gambar yang konkret.
3.
Eksitensi
Tuhan Bingkai Arguentasi Teleologis
a.
Saling
kerja samaantara makhluk mereflesikan Tuhan yang maha kuasa dan maha
bijakasana.
b.
Alam
semesta selain memiliki tujuan juga memiliki manfaat sesuai dengan karakter
uniknya masing-masing yang mencerminkan adanya pencipta yang maha Bijaksana.
c.
Masih
bermuara pada asma Tuhan yang Maha Bijakasana menrut Nursi ada kebiksanaan
universal dalam setiapa penciptaannya.
4.
Eksitensi
Tuhan dalam Bingkai Argumentasi Intuitif.
a.
Hati
mengikarkan dan membuktikan eksitensi Tuhan secara hakiki. menurut Nursi
salah satu jendela yang menghatarkan
manusia berhubungan dengan dunia ghaib adalah hati.
b.
Pengakuan
eksitensi ketunggalan Tuhan merupakan implikasi keimanan yang bersemayam dalam
hati manusia.
c.
Kalbu
manusia yang mempunyai posisi begitu kuat untuk mencintai keabadian., dan
kesempurnaan mutlak menunjukkan bahwa betapa Maha kekalnya Allah yang Maha Esa.
Nursi menyarankan agar manusia memperkuat dan
mempertajam sensitivitas intuitifnya dengan mengkorelasikan cinta semata
terhadap Tuhan,dan mengosongkan kalbu dari cinta terhadap
kesenangan duniawi.
BAB 5 FILSAFAT MANUSIA
PERSPEKTIF AL QUR’AN
Secara
filosofis, kita bisa membedakan hakikat manusia dari persefektif filsafat
humanisme, positifisme, eksistensialisme rasionalisme hingga sampai
strukturalisme dan postdermisme. Semua aliran, filsafat tersebut berupaya
menyoroti figur manusia dengan sudut pandang pemikiran mereka masing-masing.
Karena konsep pemikiran dan pendekatan yang mereka gunakan saling berbeda
antara satu sama lain, konsekuensinya hasil bidikan mereka terhadap eksistensi
manusia pun membuahkan wawasan yang berbeda.
Manusia
dari perspestik al Quir’an manusia akan dilihat bukan hanya melalui pendekatan
semantik dan tematik semata tetapi juga akan disoroti berbagai fakultas manusia
yang bersifat Unik yakni fakultas rohaniyahnya (Roh/ spiritual/ jiwa).
A.
Pendekatan
Semantik
Dalam
pendekatan ini pembahasaan tentang manusia harus dianalisis secara rasional
dalam hubungannya dengan Tuhan. Ketika manusia berbicara tentang manusia, maka
setiap dimensi kemanusiaannya selalu beerhubungan dengan Tuhan. Dalam
perspektif Thosihiko Izutsu, relasi manusia dan Tuhan dianalisis berdasarkan
empat macam: relasi ontologis, relasi komunikatif yang mencakup komunikasi non
liguistik dan komunikasi linguistik, relasi Tuhan-hamba, relasi etik.
1.
Relasi
ontologis:
bentuk relasi antara tuhan sebagai sumber eksistensi manusia yang utama dan
manusia sebagai representasi dunia wujud yang eksistensinya berasal dari Tuhan.
Pertanyaan: Sumber wujud adalah Tuhan itu sendiri; perlu disyukuri. Al Qur’an
mendorong agar kaum muslimin selalu menyadari eksistensinya sebagai makhluk.
Muslim sebenarnya dituntut untuk memiliki kesadaran mengenai dimensi
kemakhlukannya; bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan dan kehidupannya sepenuhnya
bergantung kepadanya, sampai kematian menjemputnya.
2.
Relasi
komunikatif:
Tuhan dan manusia berada dalam korelasi yang dekat satu sama lain. Dua bentuk
yaitu verbal dan non verbel. Komunikasi Tuhan kepada umat manusia dalam bentuk
al Qur’an secara spesifik oleh kaum muslim mutlak harus dipatuhi segala
perintah dan larangannya. Jenis prilaku lingkuistik ini hanya terjadi dalam
situasi istimewa yang menempatkan manusia diluar kerangka pikiran normal
sehari-hari. Kondisi darurat manusia mengendor dan seluruh peristiwa itu tidak
berlalu begitu saja semata-mata sebagai fenomena sementara, tetapi dijadikan
kebiasaan yang tetap dan mengakar, maka doa tersebut menjadisinonim dengan
ibadah. Dengan pemahaman yang mendalam suatu gejala alam tidak lagi sebagai
gejala alam tapi merupakan tanda atau lambang dari al Qur’an disebut ayat.
Dalam konteks ini menurut pandangan al Qur’an, Tuhan mengirim ayat, sebenarnya
dalam rangka bimbingan-nya kepada umat manusia.
3.
Relasi
Tuhan-hamba:
relasi ini melibatkan di pihak Tuhan sebagai Rabb, semua konsep yang berhubungan dengan keagungan-Nya,
kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya dsb. Seorang hamba “’abd” harus berbuat dan
bertingkah laku sebagai hamba dengan demikian perkembangan semantik penting
yang ditunjukkan oleh ibadah yang berdasarkan makna harfiyah aslinya adalah mengabdi
kepada-Nya yang menjadi makna “menyembah” dan “memuja”. Fungsi utama seorang
hamba adalah mengabdi dengan tuannya dengan setia, selalu memperhatikan
kehandaknya dan apa yang dikehendakinya dan mentaati perintahnya tanpa
mengeluh. Islam kata kerjanya Aslama, dalam
frasa aslama wajhahu lilllaahi yang
berarti ia telah menyerahkan wajahnya kepada Allah. Yang bermakna bahwa
sukarela menyerahkan dirinya kepada kehendak ilahi dan mempercayakan dirinya
sepenuhnya kepada Allah. Juga merupakan
penyerahan diri secara verbal. Konsep ini menjadi sangat penting diantara semua
konsep yang berkaitan dengan kerendahan diri dan penyerahan, karena fakta bahwa Tuhan sendiri
telah memilih Islam sebagai nama agama yang baru. Fakta bahwa Islam sebagai
pengalaman batin religius bersifat personal pada tiap orang.
Seorang menjadi muslim
mengaplikasikan banyak hal yang berbeda. Berdasarkan sudut pandan khusus,
seorang yang telah meninggalkan semua kepentingan dirinys sendiri, semua
kebanggaan sebagai manusia sehingga dalam keadaan hina, lemah dan menyerah
sebagi hamba, dihadapan Tuhan yang menjadi penguasa.
4.
Relasi
Etik: berpijak
pada perbedaan dua aspek, konsep Tuhan yang bersifat etik. Sehingga relasi
Tuhan dan manusia juga bersifat etik, bertindak dengan cara etik yaitu sebagai
Tuhan keadilan dan kebaikan. Demikian manusia diharap respon dengan tindakan
Tuhan yang bersifat etis. Dalam perspektif sufistik yang berorientasi Qur’ani,
dua dimensi Jalaliyah dan Jamaliyah Tuhan memiliki signifikasi
tersendiri bagi kaum muslim ketika berhubungan dengan sang pencipta. Sifat Jalaliyah Tuhan menutut manusia agar takuk (khauf)
sebagai kendaraan mengabdi pada-Nya. Sedangkan sifat Jamaliyah Tuhan mengajak
hambanya untuk menjadi harapan (raja’) sebagai sarana mengabdi pada-Nya. Kedua
aspek tersebut menggambarkan bahwa Allah maha pemurah, pengasih, pengampun,
dsb.
Dengan adanya tanda-tanda dari
Allah (peristiwa) maka adanya pemahaman bagi manusia sehingga ia bersyukur.
Relasi etis antara Tuhan dan manusia yaitu jika manusia bersyukur maka Allah
akan membalas, tapi jika mengingkari nikmat Allah maka Allah akan mengazabnya.
Jadi relasi etis antara Tuhan dan manusia, terutama dari dimensi ketuhanan,
sebenarnya melampaui pola yang baku. Meski Tuhan sangat pedih azab-Nya, namun cinta-Nya
merupakan samudera yang tidak bertepi, yang anugerah-Nya laksana cakrawala yang
tak berujung, yang amara-Nya dikalahkan oleh rahmat-Nya, serta pintu
ampunan-Nya terbuka lebar sepanjang saat.
Dalam pendekatan tematik,
tertadap beberapa istilah yang digunakan al Qur’an ketika membicarakan tentang manusia. Secara umum, al Qur’an
menggunakan beberapa istilah seperti an-nas, insan, basyar, bani Adam, dan
zuriyat Adam.
Dalam konklusi amal shaleh
sintesis imaniah ilmiah bahwa puncak prestasi manusia bermuara apa yang disebut
al Qur’an dengan amal shaleh. Secara literal istilah shaleh mempunyai beberapa
arti sebagai baik, bagus, pantas, sesuai, bermanfaat dan serasi. Keserasian
material adalah dimensi hubungan manusia dengan alam semesta. Hubungan manusia
dengan alam semesta bisa bersifat serasi atau harmonis jika manusia
mendekatinya dengan mematuhi pola-pola tetap yang telah ditetapkan oleh Allah
sebagai aturan-Nya. Iman tumbuh dan berkembang dengan bertitik tolak dari
wahyu, sedangkan ilmu tumbuh dan berkembang karena rasionalitas. Pendekatan
dalam kehidupan ukhrowi yang spiritual dapat dilakukan dengan sepenuhnya
mengabaikan dimensi kehidupan duniawi.
B.
Pendekatan
Tematik
Tiga istilah yang dikaji dalam pendekatan
tematik antara lain:
1.
Basyar
dalam Al-Quran disebut sebanyak 27 kali seperti dalam surat Al-Imran (3)(47).
Secara singkat, konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis
manusia: makan,minum,berjalan, seperti QS.Al-Tin(95)(4). Insan disebut sebanyak
65 kali dalam Al-Quran kontek Insan
mengelomokkan menjadi 3 yaituinsan yang dihubungkan dengankeistimewaan sebagai
khalifah, insan dihubungkan dengan posisi negative dari manusia, dan insan
dihubungkan dengan proses penciptaan manusia.
2.
Manusia
adalah makhluk yang memikul
amanahQS.Al-Azhab(33)(72).
3.
Karena manusia memikul
amanah maka insan dalam Al-quran juga dihubungkan dengan konsep
tanggungjawabQS.Al-Qiyamah (75).
4.
Dalm
menyembah Allah, insan sangat dihubungkan dengan preposisi negative pada diri
manusia. Qs,Ibrahim(14)(34). Dalam
prespektif Qurais Shihab bahwa Allah menganugerakan manusia empat daya:
a.
Daya
tubuh, yang mengantar manusia berkekuatan fisik
b.
Daya
hidup, menjadikannya memiliki kemampuan mengaembangkan dan menesuaikan diri
dengan lingkungannya serta dapat mempertahankan hidupnyadalam menghadapi
tantangan.
c.
Daya
akal,memungkinkan mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi
d.
Daya
kalbu, yang memungkinkannya bermoral, merasakan keidahan iman dan kehadiran
Allah.
b.
Konkulasi
Amal Saleh Sintesis Imaniah-Ilmiah
Amal
saleh merupakan perbuatan yang bagus,baik, pantas, sesui, serasi dan
bermanfaat. Ada 2 dimensi keserasian antara lain:1. Kesersian spriual yaitu
keserasian yang dialami dan dihayati secara individual ialah keserasian akibat
adanya penghayatan keagamaan serta apresiasi ketuhanan.2. keserasian material
yaitu dimensi hubungan manusia dengan alam semesta yang sifatnnya serasi jika
manusia mematuhi pola-pola aturan Tuhan yang ada pada lam semesta ini disebut
Sunnahtullah, hokum-hukum atau aturan Allah. Meskipun dua aspek
duniawi dan ukhrawi berbada, namun sejalan dengan fitrah manusia, seorang harus
berusaha mencapai tingkat setinggi-tingginya dalam kehidupan dunia dan akhirat.
BAB 6 PENGETAHUAN MISTIK
DITINJAU DARI ASPEK ONTOLOGIS, EPISTEMOLOGIS, DAN AKSIOLOGIS
A.
Ontologis
Pengetahuan Mistik
1.
Pengertian
Mistik
Secara luas Mistik berkonotasi seorang yang
menyatakan bahwa ia telah mengalami atau menjalani pengetahuan mistik dan
memahami kebenaran di luat jangkauan manusia secara intuitif. Sedangkan
Mistisisme merupakan keyakinan bahwa kebenaran terakhir tentang kenyataan tidak
dapat diperoleh melalui pemahaman biasa, dan tidak pula melalui intelek tapi
hanya melalui pengalaman mistik atau non mistik.
2.
Hakikat
pengala Mistik
Pengalaman Mistik adalah pengalaman spiritual
orang-orang sufi ketika berhubungan dengan eksitensi diluar batas dunia dan
dunia nyata, yang berbentuk alam kejiwaan, roh,dan sifat ilahiyah. Mimpi
dikatakan Objektif karena seseorang tidak pernah berbagi mimpi dengan orang
ain, demikian ula sebaliknya. Namun dapat disimpulkan bahwa mimpi tidak
mempunyai basis basis ontologisnya secara objektif. Sebab ekalipun orang tidak
mempunyai mimpi maka dunia mimpi mereka masingmasing memiliki ciri yang
universal yang objektif.
B.
Epistemology
Pengetahuan Mistk
Epistemologi
merupan cabang filsafat ynag membicarakan dasar-dasar pengetahuan, sumber
engetahuan,kareakteristik pengetahuan, ukuran kebebaran serta cara mendapatkan
pengetahuan. Dalam epistemology Islam ada tiga metode untuk mengetahui obek
ilmu antara lan:Metode Observasi yakni melalui pancaindra untuk mengenal objek dengan cara mengamanti,
metode Logis yakni dengan akal akan mampu memahami benda-benda dengan cara
mengabrasikan makna secara universal dari data-data indrawi dengan cara
menyimpulkan dari yang telah diketahui menuju yang tidak diketahui. dan Metode
Intuitif yakni hati berperan untuk mengakap objek non fisik melalui kontak langsung dan objek
yang hadir dalam jiwa seseorang.
1.
Metode
memperoleh Pengetahuan Mistik
a.
pengetahuan
intuitif dicapai melalui pengalaman secara langsung objeknya.
b.
sifat
langsung pengetahuan intuitif bisa dilihat dari apa yang disebut ilmu hudhuri
yakni hadirnya objek dalam diri objek.
c.
metode
intuitif mampu menembus langsung pengalaman eksistensial, pengalaman riil
manusia yang berhubungan dengan hati, perasan, bukan sebagaimana
dikompensasikan oleh akal.
2.
langkah-
langkah Metode Intuitif
c.
Takhalli
yakni berusaha dngan sekuat mungkin untuk menjauhkan diri dari makasiat, baik
maksiat internal mupun eksternal.
d.
Tahalli
yakni menghiasi diri dengan sifat yang mulia.
C.
Aksiologi
Pengetahuan Mistik
Aksiologi
merupakan bagian dari filsafat yang membicarakan tentang nilai dan kegunaan
ilmu pengetahuan bagi kehidupn manusia. Manfaat pengetahuan Mistik :
a.
Penglihatan
menembus hakikat pada apa saja yang dilihat, seperti dapat membedakan hal yang
baik dan buruk.
b.
Pendengaran
dapat menangkap suatu yang hak dan bathil, bahakan mampu mendengar tasbih dan
pujian dari seluruh alam isinya.
c.
Penciuman
dapat membau aroma yang hak dan bathil
d.
Pengecapa dapat merasakan makanan minuman yang
halala dan haram.
e.
Peraba
dapat merasakan dan menangkap makna dan symbol dari apa yang disentuhnya, bahwa
disana ada kebaikan dan keburukan.
D.
Ontology,
Epistemologi, dan Aksiologi Mukasyafah dan Ilmu Laduni
1.
Ontology
Mukasyafah
Mukasyafah adalah upaya penyikapan hijab-hijab
yang menutupi diri, yang secara esensisl penyipkapan adalah penghancuran tirai
yangmenutupi objek jalan menuju rohani. Dalam literature, Mukasyafah merupan
kesingkapan rohani yang mampu mengetahui hal-hala yang bersifat makhluk,
seperti melihat manuasia berhubungan dengan nasib, keuntungan, kerugian,
penyakit, bahkan fenomena yang berkaitan dengan alam dan duniawi dengan
keajaiban0keajaibannya.
2.
Epistemologi
Mukasyafah
Mukasyafah terkait dalam situasi batin
tertentu, maka epistemology sifatnya psiologis yang mengusahakan agar potensi
spiritual atau batin sanggup membuka diri dan menangkap pengetahuan Tuhan.
Sementara Riyadhah adalah latihan batiniah yang mempunyai tiga yujuan. 1.
Menyingkirkan segala sesuatu selain Allah yang menghalangi perjalanan Spritual.
2. Menundukkan jiwa yang cenderung menyuruh berbuat jahat menuju jiwa tenang.3.
melembutkan jiwa batiniah dengan tujuan membuatnya siap menerima penceramahan.
3.
Aksiologi
Mukasyafah
Manfaat sentral pengalama mukasyafah adalah
tumbuhnya keyakinan yang begitu kuat dan teguh karena diperoleh melaalui
penyikapan langsung fenomena alam selama ini diketahuinya dengan naqli dan akli
semata.
4.
Ontology
Ilmu Laduni
Menurut pandangan Al-quran ilmu ada dua macam
yaitu ilmu laduni dan kasbi. Jika ilmu Laduni ilm yang diperoleh tanpa upaya
manusia. Qs.Al-Kahfi(18)(65), maka ilmu kasbi adalah ilmuyang diperoleh dengan
usaha manusia. Dengan demikian ilmu Ladini adalah ilmu batiniah yang bukan
merupakan hasil pemikiran, suau ilmu yang langsung melalui iham,inspirasi dari
sisi Tuhan.
5.
Epistemologi
Ilmu Laduni
Ilmu Laduni dalam istilah Arifin, merupakan
penglihatan dengan cahayaAllah
sebagai representasi dari sabda Nabi Saw, bahwa orang beriman melihat cahaya Allah,
menurut Jalaludin Rumi ketika seseorang melihat Cahaya Allah maka seorang
tersebut akan melihat segalanya yang pertama dan terakhir, da yang terang dan
yang tak tampak. Jadi ilmu Laduni dapat dicapai dengan melalui jalan riydhah
dan mujahadah. Dengan ini akan menghasilkan tembus pandang ada ilahiah Tuhan
setelah terbukanya hijab antara hamba dengan Allah.
6.
Aksiologi
Ilmu Laduni
Kegunaan ilmu ladunu antara lain:
a.
Agar
dapat memahami ilmu dengan tepat.
b.
Dapat
mengetahui tingkatan ilmu seseorang
c.
Dapat
mengetahui karakter seseorang.
d.
Dapat
mengambil ilmu orang lain (tentu tidak untuk tujuan buruk)
e.
Dapat
mengetahui penyakit seseorang dan dapat pula menyembyhkannya
f.
Dapat
mengobati orang kena santet.
g.
Dapat
mengetaui jodoh seseorang dan nasibnya.
h.
Dapat
mngetahui antara jin,setan, malaikat, dan dapat berdialog dengan mereka.
i.
Dapar
mengetahui keinginan seseorang tanpa orang itu mengatakannya.
E.
Penutup
Kajian
filsafat ilmu seyogianyamelibatkan pengetahuan mistik, sebab bagaimanapun telah
disadari oleh para ahli bahawa pengetahuan mistik tidak sekedar teori
pengetahuan , namun juga membuahkan kemanfaatan praktis dalam kehidipan
individual maupun sosial.
BAB 7 FILSAFAT PENDIDIKAN
ISLAM: STUDI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM FAZLUR RAHMAN
A.
Prawacana
Dalam paradigma Rahman, berhubungan dengan
ilmu, Al Qur’an dengan tegas mendeklerasikan bahwa semakin banyak ilmu yang
dimiliki seseorang, maka akan semakin bertambah keyakinan dan komitmennya
terhadap kebenaran, sehingga suatu ilmu yang tidak memperluas ufuk wawasan dan
tindakan seseorang adalah ilmu setengah matang dan berbahaya.
B.
Sekilas
sketsa biografi Fazlur Rahman
Fazlur Rahman dilahirkan pada 21 September
1919 di daerah koloni Inggris. Ia dibesarkan dalam keluarga yang bermazhab
Hanafi. Ayahnya seorang ulama terkenal. Selain mengenyam pendidikan formal, Ia
menimba banyak ilmu tradisional dari ayahnya. Ia sudah biasa membaca Al-Qur’an
di luar kepala. Setelah menamatkan pendidikan menengah, ia meneruskan
pendidikan di Punjab, memperoleh gelar M.A. dalam sastra Arab tahun 1942, dan
gelar Ph.D. dalam filsafat di Oxford University, Inggris, pada tahun 1951. Dia
giat mempelajari banyak bahasa. Pada tahun 1961, Fazur Rahman kembali ke
Pakistan untuk mengetuai Institute of Islamic
Research (Institut Penelitian Islam) di Karachi untuk mengembangkan pandangan
keIslaman yang mampu mengaprosiasi zaman.
Pada 1964 dia diangkat sebagai anggota
Advisory Council of Islamic Ideologi (Dewan Penasehat Ideologi Islam). Disana,
dia aktif melontarkan banyak gagasan. Ia juga mengemukakan pandangan tentang
definisi Islam bagi Pakistan. Tulisan-tulisannya memperlihatkan bahwa ia
seorang modernis dan kritikan-kritikannya banyak menuai kontroversi terutama
perihal riba dan bunga bank, sunnah dan hadits dll. Seperti bahwa Al Qur’an itu
secara keseluruhan adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga
seluruhnya adalah perkataan Muhammad, telah menghebohkan media massa selama
kurang lebih setahun. Kalangan ulama menuduhnya sebagai pengingkar Al Qur’an.
Lalu dia mengundurkan diri dari Institute of
Islamic Research karena sadar dia tanpa dukungan. Dan mengundurkan diri
juga sebagai Dewan Penasihat Ideologi Islam lalu dia hijrah ke Chicago.
C.
Pengertian
Pendidikan Islam
Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada
umumnya mengacu kepada term al-tarbiyah, al-ta’dib,danal-ta’lim. Penggunaan
istilah al-tarbiyah berasal dari kata rabb, yang menunjukkan
makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga
kelestarian atau eksistensinya. Perspektif Nurcholish Madjid, pendidikan
(tarbiyah) merupakan sebuah proses meningkatkan potensi-potensi positif yang
bersemayam dalam jiwa setiap anak hingga mencapai kualitas yang
setinggi-tingginya. Sedangkan istilah al-ta’lim tidak hanya terbatas
pada pengetahuan lahiriah, akan tetapi mencakup pengetahuan teoritis, mengulang
secara lisan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan.
Dalam perspektif al-Attas, istilah al-ta’dib berasal dari kata addaba
yakni pengetahuan yang mencegah manusia dari kesalahan-kesalahan penilaian.
Karena adab menunjukkan pengenalan dan pengakuan akan kondisi kehidupan,
kedudukan dan tempat yang tepat dan layak serta disiplin diri. Maka al-ta’dib
bermakna pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan pada
manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan
penciptaan. Tujuan pendidikan menurut Rahman adalah untuk mengembangkan manusia
sedemikian rupa menjadi organ pada pribadi yang kreatif untuk kebaikan umat
manusia dan untuk menciptakan keadilan, kemajuan, dan keteraturan dunia.
D.
Problematika
Pendidikan Islam
Pertama,
pensakralan terhadap produk-produk pemikiran ulama klasik. Kedua sebagai
konsekuaensi problematika pertama, maka corak pendidikan dalam Islam hanya
bersifat penghafalan, pengulangan, dan komentar-komentar (syarah) terhadap
produk pemikiran klasik.
E.
Rekonstruksi
Pendidikan Islam
Pertama,
harus ada desakralisasi terhadap produk-produk pemikiran ulama klasik. Dalam
bahasa Ar Rahman yakni membuat pembedaan yang jelas antara Islam normatif dan Islam
historis. Kedua, perlunya pembaruan di bidang metode pendidikan Islam,
yaitu beralih dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode
memahami dan mengaanalisis. Selama ini, sistem pendidikan Islam lebih cenderung
berkonsentrasi pada buku-buku ketimbang subjek.
BAB 8 FILSAFAT POLITIK ISLAM
A.
Prawacana
Dalam Islam
terdapat semacam doktrin yang berbunyi al Islam huwa al-din wa al-dawlah. Islam
adalah agama dan sekaligus kekuasaan, sehingga implikasi hubungan antara agama
dan negara, antara aspek ritual dan politik, sangat erat kaitannya. Islam tidak
mengenal dinding pemisah antara yang bersifat spiritual dan temporal,
sebaliknya Islam memberi panduan etis bagi setiap aspek kehidupan. Setidaknya
ada tiga paradigma pemikiran tentang hubungan agama dan negara. Pertama,
paradigma yang mengatakan bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan negara
karena Islam tidak mengatur kehidupan bernegara atau pemerintahan. Kedua,
menganggap Islam adalah agama yang paripurna, yang mencakup segala-galanya,
termasuk masalah negara atau sistem politik. Ketiga, menolak pendapat bahwa Islam
mencakup segala-galanya dan juga menolak pandangan bahwa Islam hanya mengatur
hubungan antara manusia dan penciptaNya semesta. Aliran ini berpendapat bahwa Islam
memang tidak mencakup segala-galanya tidak mencakup segala-galanya tapi
mencakup seperangkat prinsip dan tata nilai etika tentang kehidupan
bermasyarakat.
B.
Spektrum
Wacana Politik Islam
a.
Paradigma
Sekularistik
Ali Abd.Raziq menjelaskan pandangannya dengan
beberapa prinsip. Pertama, tidak ada sistem khalifah dalam Al Qur’an dan
SunahKhalifah adalah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia
menggantikan Nabi SAW. Kedua, Muhammad seorang Rasul bukan penguasa negara.
Ketiga, sistem politik Islam diserahkan pada akal manusia. Dengan menelusuri
argumen-argumen Abd Raziq sejauh ini bahwa sistem khalifah bukan model
pemerintahan dalam Islam dan Rasul SAW hanya berfungsi sebagai penyampai
risalah, bukan penguasa negara.
b.
Paradigma
Formalistik
Memandang agama Islam
sebagai suatu agama yang sempurna dan sangat lengkap, yang meliputi tidak saja
tuntunan moral dan peribadatan, tetapi
juga petunjuk-petunjuk mengenai cara mengatur segala aspek kehidupan politik,
ekonomi, dan sosial.
c.
Paradigma
Substansialistik (Simbiotik)
Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan
dengan kehidupan spiritual, tanpa sangkut paut sama sekali dengan masyarakat
dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan menyatakan bahwa Islam
telah memberikan sebuah sistem sosial, ekonomi, dan politik yang menyeluruh dan
terperinci.
BAB 9 FILSAFAT SAINS
(PERSPEKTIF) ISLAM
A.
Ontologi Filsafat Sains Islam
1.
Ontologi berusaha mencari
struktur dasar dalam sebuah objek yang dijelajahinya.
2.
Manusia sangat
memungkinkan mampu mengeksplorasi dan menyingkap rahasia hukum – hukum
kehidupan bumi sekaligus alam semesta secara saintifik.
3.
Ada pertalian batin
antara simbol dan yang disimbolkan. Pertalian bersifat metafisik, bukan fisik.
4.
Pengetahuan simbolik
itulah yang diilhami para ilmuwan Muslim untuk menambah wilayah-wilayah kajian
ilmiah baru yang menggiring pada penemuan-penemuan orisinil di wilayah
tersebut.
5.
Objek ontologis sains
adalah alam semesta yang bersifat empiris dan bisa diobservasi oleh indra.
6.
Alasan yang biasanya
dikemukakan oleh sains modern untuk membatasi objek-objek ilmu hanya sebatas pada bidang fisik –
empiris karena hanya objek itu saja yang bisa diteliti secara objektif dan bisa
diverifikasi kebenarannya. Sains modern dibangun dari pandangan sekularistik
dan materialistik, yaitu pandangan yang bertumpu pada realitas fisik material
dan mengingkari realitas nonfisik – immaterial (realitas metafisik).
B.
Epistemologi Filsafat
Sains Islam
1.
Epistemologi atau
filsafat pengetahuan pada dasarnya merupakan upaya rasional untuk menentukan
nilai kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri sendiri,
lingkungan sosial, dan lingkungan alam. Epistemologi berhubungan pertanyaan
“bagaimana caranya mendapatkan pengetahuan tersebut?”
2.
Sumber saluran memahami
akal ada 3 (perspektif filsafat Islam): indra – indra eksternal, intelek yang
tidak terkotori dengan sifat – sifat buruk, wahyu dan inspirasi. Allah Maha
Mengetahui kemampuan manusia, sehingga sangat dimungkinkan sekali indra manusia
dapat difungsikan sebagaimana yang Allah perintahkan.
a.
Penggunaan indra
menggunakan jalan observasi sangat dianjurkan oleh Al Qur’an. Indra merupakan
kecakapan (daya), jiwa, dan bukan hanya sekedar kecakapan fisik. Indra manusia
antar satu dan lainnya saling keterkaitan sebagaimana hadits bahwa orang muslim
satu dan yang lainnya adalah saudara, jika satu sakit yang lainnya ikut
merasakan. Karena keterbatasan indra membuat para penemu membuat alat – alat
bantu untuk mengatasi keterbatasan indra. Dengan adanya kelemahan – kelemahan
indra, maka harus ada solusi dalam menghadapi kelemahan tersebut, yaitu dengan
akal.
b.
Untuk memahami alam,
seorang harus menggunkan inteleknya. Kelebihan istimewa pada akal terletak pada
kecakapan dan kemampuan untuk menangkap esensi dari suatu yang diamati.
c.
Intuisi atau wahyu, yang
memiliki semacam ini biasanya mereka yang dianugrahi “fakultas kewalian”. Bakat
mental yang membawa seorang kepada tujuan tanpa mengikuti langkah – langkah dan
dalam bentuknya yang tertinggi disebut fakultas kewalian. Hal tersebut seperti
dialami oleh Ibnu Arabi, Ibn Sina dan lain sebagainya.
C.
Aksiologi Filsafat Sains Islam
1.
Aksiologi menyangkut
teori umum tentang nilai, menyelidiki hakikat nilai, dengan pertanyaan “untuk
apa pengetahuan tersebut dipergunakan?”
2.
Aksiologi filsafat sains Islam
perspektif Mehdi Golshani:
a.
Jika pengetahuan suatu
ilmu merupakan persyaratan pencapaian tujuan – tujuan Islam, maka mencarinya
adalah sebuah kewajiban.
b.
Masyarakat yang
dikehendaki Al Qur’an adalah masyaakat yang agung dan mulia, bukan masyarakat
yang tergantung pada orang – orang kafir. Agar terealisasi, maka masyarakat Islam
harus benar – benar memiliki kemerdekaan kultural, politik, dan ekonomi.
c.
Al Qur’an menyuruh
manusia untuk mempelajari tanda – tanda kekuasaan Tuhan yang ada pada eksternal
dan yang ada pada kedalaman – kedalaman batin manusia.
d.
Ilmu yang dipelajari
dapat berguna untuk perbaikan kondisi hidup manusia.
3.
Ada perbedaan distingtif
antara tujuan sains klasik dan sains barat era modern. Jika sains klasi
memiliki istilah science for understanding (sains untuk pemahaman), maka
sains modern mengikrarkan aksiologis yang berbunyi science for manupulation (sains
untuk manipulasi). Sains demi pemahaman mempunyai tujuan utama yaitu yang
benar, yang baik, dan yang indah, sebuah pengetahuan yang akan membawa kepada
kebahagiaan dan keselamatan, sebab sains klasik memandang alam sebagai hasil
karya Tuhan, sementara sains untuk manipulasi hanya bertujuan untuk material
semata.
4.
Perbedaan sains sakral
dengan sains sekuler:
Sains Sekuler
|
Sains Sakral
|
Menganggap dunia fisik
sebagaimana adanya dan melihat tidak ada ruang bagi Tuhan dalam tatanan alam
semesta.
|
Alam semesta diciptakan
dan dipelihara oleh Tuhan yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
|
Berisi spesialisasi/
pemisahan dan menjadikan fragmentasi ilmu. Ilmu memiliki wilayah yang terpisah
masing – masing dan tercerabut dari dimensi sakral.
|
Berusaha menyibak
kekuasaan yang mendasari tatanan semesta.
|
Menganggap kajian hanya
pada wilayah fisikal, sehingga wilayah realitas spiritual dianggap tidak ada.
|
Tidak ada ruang bagi
supra-material (ghaib).
|
Mengabaikan/ menolak
gagasan mengenai tujuan alam semesta.
|
Mempunyai sebuah makna
yang melampaui kehidupan. Kehidupan penuh makna maksudnya adalah mengabdi
kepada Tuhan.
|
Mempromosikan
netralitas nilai. (menafikkan nilai moral)
|
Menggabungkan ilmu
dengan nilai. (Menjadikan moral sebagai prinsip bagian sains)
|
Mengontrol dan
memanipulasi alam semesa dan masyarakat.
|
Memperoleh kearifan dan
untuk menangani problem –problem individual dan sosial dengan prinsip
mengharap ridho Tuhan.
|
Hanya mampu merespon
pertanyaan – pertanyaan spesifik dan tidak mampu melukiskan sebuah gambaran
yang komprehensif. Tidak berbicara tentang kebaikan dan keburukan,
kebahagiaan dan kesengsaraan, Tuhan dan keabadian, tentang makna dan
moralitas.
|
Mencakup wilayah yang
komprehensif, maka juga berbicara tentang problem – problem abadi kehidupan
umat manusia.
|
D.
Konklusi: Konstruksi
Sains Integral – Holistik
BAB 10 FILSAFAT SEJARAH
PERSPEKTIF ISLAM:
STUDI FILSAFAT SEJARAH
KRITIS IBNU KHALDUN
A.
Ibnu Khaldun: Sebuah
Penghampiran Biografis
1.
Abdurrahman bin Muhammad
bin Muhammad bin Kaldun.
2.
Lahir: Tunis (Tunisia
sekarang), 27 Mei 1332 M.
3.
Asal keluarga dari
Hadramaut (Yaman) dan masih keturunan sahabat Nabi Muhammad saw yang bernama
Wail bin Hujr dari Kabilah Kindah. Salah seorang cucu Wail, Khalid bin usman
memasuki area Andalusia bersama orang-orang Arab pada awal abad ke-3 H (ke-9 M)
lalu membentuk satu keluarga besar diberi nama Bani Khaldun.
4.
Dari kecil sudah
menghafal Al Qur’an dan ilmu tajwid. Guru pertama adalah ayahnya sendiri. Pada
waktu itu di Tunisia menjadi pusat hijrah ulama’ Andalusia sehingga beliau
belajar dari ulama tersebut selain pada ayahnya. Ilmu yang depelajarinya adalah
ilmu syari’at. Tetapi masa belajarnya terhenti akibat penyakit pes tahun
749 H di sebagian besar belahan dunia bagian timur.hal tersebut membuat
penguasa dan ulama’ hijrah ke Maghrib (Maroko) pada tahun 750 H. Beliau
berusaha mendapatkan pekerjaan dan mencoba mengikuti jejak kakeknya dalam
bidang politik.
5.
Pada usia 21 tahun, Ibnu
Khaldun diangkat menjadi sekertaris Sultan Dinasti Hafs, tetapi karena Sultan
kalah maka beliau berhenti. Beliau kembali menarik kepercayaan pada Sultan Abu
Anas, penguasa Bani Marin, lalu beliau mendapatkan kedudukan menjadi anggota
Majelis Ilmu Pengetahuan, lalu setahun kemudian diangkat menjadi sekertaris
sultan.
6.
Berikut perjalanan Ibnu
Khaldun:
Tahun
|
Agenda
|
Ket
|
750 H
|
Hijrah ke Maghrib (Maroko) karena wabah penyakit pes.
Mulai mengikuti jejak kakeknya masuk dalm perpolitikan.
|
|
751 H
|
Diangkat sebagai sekertaris Sultan Dinasti Hafs
|
|
753 H
|
Sultan Dinasti Hafs kalah dalam peperangan, dia
terdampar di Baskarah (Maghrib bagian tengah), lalu bertemu dengan Sultan Abu
Anam (penguasa Bani Marin di Tilmisan)
|
|
755 H
|
Diangkat menjadi anggota Majelis Ilmu Pengetahuan
|
|
756 – 763 H
|
Diangkat menjadi Sekertaris Sultan Abu Anam, diselingi
2 tahun pemenjaraannya karena Wazir Umar bin Abdillah murka padanya.
|
|
764 H
|
Menjadi duta negara di Castilla (kerajaan Kristen yang
berpusat di Sevilla)
|
|
766 H
|
Pergi ke Bijaiyah atas undangan penguasa Bani Hafs,
lalu diangkat menjadi perdana menteri dan juga berperan sebagai khatib dan
guru.
|
|
774 H
|
Pergi ke Fez, karena ketika dekat dengan Abu Hammu
beliau menjanjikan dukungan dan oleh Abu Hammu dijanjikan jabatan penting,
tapi beliau menolak karena ingin melanjutkan studinya secara otodidak. Tetapi
ketika Abu Hammu diusir oleh Abdul Aziz (Bani Marin) lalu berbelok ke Abdul
Aziz dan tinggal di Baskara, ketika Abu Hammu kembali merebut Tilmisan maka
beliau pergi ke Fez.
|
|
776 H
|
Ketika Fez jatuh ke tangan Sultan Abdul Abas, beliau
pergi ke Granada, tetapi sultan menyuruh beliau untuk kembali ke Afrika
Utara. Sampai di Tilmisan masih tetap di terima oleh Abu Hammu
|
|
777 – 780 H
|
Menyepi di Qal’at Ibnu Salamah dan menetap. Ditempat
itulah beliau menulis kitab monumentalnya Kitan al-‘Ibar wa Duwan
al-Mubtada’ wa al-Khabar fii Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar atau
al-‘Ibar (sejarah umum). Berisi 7 jilid. Kitab itu berisi tentag
kajian sejarah.
|
|
780 H
|
Kembali ke Tunisia untuk menelaah beberapa kitab bahan
reverensi al-‘Ibar
|
|
784 H
|
Pergi ke Iskandaria (Mesir) untuk menghindari kekacauan
dunia politik di Maghrib.setelah sebulan di Iskandaria lalu berangkat ke
Cairo dan disambut dengan gembira oleh para ulama’. Di Al-Azhar beliau
membentuk halaqah, memberi kuliah.
|
|
786 H
|
Raja menunjuk beliau menjadi dosen dalam ilmu fiqih
Madzhab Maliki di Madrasah al-Qamhiyah, lalu selang beberapa waktu diangkat
menjadi ketua pengadilan kerajaan.
|
|
789 H
|
Menunaikan haji
|
|
801 H
|
Kembali diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan
setelah sebelumnya mengundurkan diri dan pergi ke Baitulmaqdits (Yerussalem),
lalu selang 3 bulan beliau kembali mengundurkan diri. Beliau menemani sultan
ke damaskus, dan ditunjuk lagi menjabat dengan jabatan yang sama, lalu beliau
mengemban amanah itu hingga akhir hayatnya.
|
|
B.
Pengertian Sejarah
1.
Sejarah (menurut KBBI):
(1) Silsilah, asal – usul (keturuhan) (2) kejadian dan peristiwa yang benar –
benar terjadi dimasa lampau (3) pengetahuan atau uraian tentang perisiwa –
peristiwa atau kejadian – kejadian yang benar – benar terjadi dimasa lampau.
2.
Secara etimologis
(menurut R. Moh. Ali):
a.
Sejumlah perubahan –
perubahan
b.
Cerita tentang perubahan
– perubahan
c.
Ilmu yang bertugas
menyelidiki perubahan – perubahan
3.
Sejarah (menurut Ibnu
Khaldun):
a.
Sejarah berisi kisah –
kisah masa lalu mengenai bangsa, negara, politik, dan peradaban yang dipelajari
baik oleh orang – orang besar maupun kecil, raja maupun rakyat jelata,
cendekiawan maupun agamawan.
b.
Sejarah merupakan sebuah
proses pencarian kebenaran secara mendalam dengan menganalisis asal – usul,
substansi, esensi, dan kualitas dari setiap peristiwa holistik.
c.
Pengkajian sejarah harus
mempunyai metode yang relevan sehingga mampu menyibak sekaligus memahami watak
– watak peradaban atau karakter – karakter spesifik dalam setiap kejadian.
d.
Sejarah bukan benda mati
tanpa makna, melainkan memiliki banyak kegunaan bagi siapapun yang
mempelajarinya, baik dalam konteks hari ini maupun bagi kepentingan dalam
setiap kejadian.
4.
Ibnu Khaldun
mengonstruksi makna sejarah dalam bingkai struktur fundamental ilmu yang
mencakup aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ibnu Khaldun menyajikan
kritik dan data berita yang ada, disamping analisis terhadap berbagai faktor
yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa.
C.
Kritik Sejarah Ibnu
Khaldun
1.
Kritik sejarah mencakup
dua aspek, yaitu autensitas (keaslian sumber/ kritik ekstern) dan kredibilitas
(kebiasaan/ kritik intern).
2.
Kritik sejarah hanya bisa
dilakukan jika benar – benar paham dan jelas terang tentang watak dari
peradaban, sebab kritik hanya bisa dilakukan jika yakin apakah kejadian yang
diceritakan itu sendiri mungkin atau tidak mungkin. Apabila kejadian yang
diceritaka itu tidak mungkin maka tidak perlu lagi diadakan penyelidikan yang
kritis terhadap pribadi orang yang menceritakan cerita tersebut.
3.
Para sarjana menolak
suatu informasi apabila literalnya tidak masuk akal, bahkan penyelidikan
terhadap pribadi penutur cerita merupakan cara yang ditempuh untuk mengetahui
latar belakang dari pemikiran penutur. Hal tersebut dilakukan karena jika
informasi berkenaan dengan syari’at maka akan berhubungan dengan perintah dan
larangan yang ditetapkan. Oleh karena itu mengukur kaslian salah satunya dengan
kepercayaan (tsiqoh) terhadap ketelitian dan keadilan para perawi.
4.
Informasi bukan syari’at,
kejujuran dan kebenaran haruslah diuji dahulu dengan mempertimbangkan
kesesuaian (konfirmitas) atau ketidak sesuaian informasi yang dinukilkan dengan
kondisi umum. Nilai dari perintah dan larangan terletak pada perintah dan
larangan itu sendiri. Sedangkan nilai informasi tentang suatu peristiwa
terletak pada kesesuaian laporan historis dengan kondisi umum.
5.
Metode normatif digunakan
untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan yang terdapat pada informasi.
Kita harus bisa membedakan mana gejala yang menuru kodratnya sendiri dan mana
yang timbul kebetulan. Jika telah menggunakan metode seperti itu, maka dapat
mengetahui mana yang bohong dan mana yang batil. Dengan demikian terlihat bahwa
Ibnu Khaldun lebih menekankan pada kritik intern dari pada kritik ekstern.
6.
Kritik intern Ibnu
Khaldun menguji sejauhmana nilai rasionalitas dan dapat diterima sebuah fakta
sejarah, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secar akliyah. Kritik eksternal
dilakukan terhadap para perawinya, jika fakta – fakta historis yang disampaikan
oleh para penutur sejarah bersifat tidak rasional dan tidak dapat
dipertanggungjawabkan, maka tidak perlu lagi melakukan kritik ekstern terhadap
para penuturnya.
7.
Ibnu Khaldun dalam karya
filsafat sejarahnya berupaya melakukan kritik – kritik terhadap fakta – fakta
historis yang disampaikan para sejarawan sebelumnya. Ada tujuh hal yang menurut Ibnu Khaldun
menyebabkan banyaknya kebohongan dalam sejarah:
a.
Semangat terlibat kepada
pendapat – pendapat madzhab – madzhab.
b.
Terlalu percaya terhadap
orang – orang yang menukilkan.
c.
Ketidak sanggupan
memahami maksud yang sebenarnya.
d.
Asumsi yang tak beralasan
terhadap kebenaran.
e.
Ketidaktahuan tentang
bagaiman kondisi – kondisi sesuai realitas.
f.
Adanya fakta bahwa
kebanyakan manusia cenderung untuk mengambil hati orang – orang yang
berpredikat besar dan berkedudukan tinggi.
g.
Yang membuat kebohongan
tidak dapat dihindari serta ketidaktahuan tentang watak berbagai kondisi yang muncul
dalam peradaban.
D.
Filsafat Sejarah Kritis
Ibnu Khaldun
1.
Kritis Ibnu Khaldun
disebabkan karena kekhawatirannya terhadap kelemahan – kelemahan para sejarawan
sebelum dirinya. Beliau mempelajari historis secara eksternal tanpa menjelaskan
fakta historis sebab – sebab yang berada dibelakangnya. Dalam karyanya Ibnu
Khaldun menerangkan hal – ihwal peradaban, urbanisasi, dan ciri hakiki
organisasi sosial politik. Sejarah yang ditulis beliau adalah sejarah ilmiah
yang berintikan “penelitian, penyelidikan, dan analisisi yang mendalam akan
sebab – sebab dan latar belakang terjadinya sesuatu, juga oengetahuan yang
akurat tentang asal – usul, perkembangan, dan riwayat hidup matinya kisah
peradaban manusia”. Dengan metode tersebut akan diperoleh akar – akar yang sangat
kuat dalam tradisi filsafat, dan karenanya layak dinyatakan sebagai salah satu
cabangnya. Menurutnya ilmu sejarah pada dasarnya menyampaikan peristiwa –
peristiwa yang terjadi dan oleh karenanya bersifat partikularistik. Dengan
demikian dapat diketahui tingkat kesesuaian antara kisah – kisah tersebut
dengan kenyataan yang terjadi secara faktual, sehingga tidak hanya tahu dimana
dan kapan terjadi, tapi juga latar belakang dan faktor penyebabnya.
E.
Konklusi: Melanjutkan
Proyek Sejarah Kritis Ibnu Khaldun