Al-Ghuroba
Oleh : Hasanatul Mutmainah
Bangga menjadi al-ghuroba, Islam
dulu datang
dalam keadaan terasing, juga akan kembali terasing. Begitulah inti dari sebuah
hadits tentang al-ghuroba yang saya ingat. Tidak usah nanti, kini saja islam
sudah menjadi al-ghuroba, dimana islam
menjadi hal yang asing dan terasing. Bayangkan saja, sekelompok orang yang
sama-sama mengagungkan Allah dan ridha atas hukum-hukum
Allah yang berada di al-Qur’an, tapi dianggap sebuah pelanggaran atau penyimpangan oleh kebanyakan
orang.
Mereka di cemooh, dihina, bahkan ketika sebuah lembaga yang jujur
tidak mau memberikan sejumlah uang kepada suatu pihak didalam pemerintahan
sampai-samoai lembaga tersebut tidak mendapatkan bantuan. Sebut saja BOS.
Ironisnya tidak hanya terjadi pada dunia pemerintahan yang mengandung unsur
politik, tapi pada sector pendididikan lebih parah. Mungkin hal seperti itu
penyebab mahalnya pendidikan di Indonesia. Bayangkan saja di Singapura seorang
yang mengambil jurusan dokter spesialis kandungan hanya membutuhkan sekitar Rp.
300rb-an/semester,
sedangakan di Indonesia berpuluh- puluh hingga beratus- ratus juta. Itupun
kadang hanya uang pendaftaran atau hanya sekedar membeli sebuah kursi di PT.
Islam datang dari pertama dalam kondisi terasing. Begitu besar
jihad Nabi SAW memerangi setiap kaum kafir yang memusuhi umat Islam, tapi bagi
mereka yang tidak memusuhi, maka akan hidup berdampingan dengan harmonis dengan
umat Islam. Terlepas dari perjuangan Rasul
dan sahabat untuk menegakkan Islam , tetapi zaman sekarang orang Islam malah
mengolok hukum Islam itu sendiri dan menganggapnya sebagai
hukum yang sadis, tega dan sebagainya. Seperti hukum cambuk yang sangat menjadi
bahan pembicaraan akhir- akhir ini.
Pertanyaannya, apakah salah jika sekelompok orang yang taat pada Allah,
dan mereka ridho jika
hukum Allah diteggakkan dilingkungan mereka lalu ada pihak luar yang
mengusiknya? Secara gampang contohnya seperti pernikahan, dua orang yang melakukan akad,
berarti telah mematuhi aturan Allah, lalu atas perbuatan mereka sendiri yang
tentunya sama- sama ridho, lalu memiliki
anak, apakah mereka bisa disalahkan? Orang
Islam sekarang seharusnya harus membuka mata lebar- lebar. Apakah mereka
tidak pernah mempelajari al-Qur’an tapi
mereka orang islam? Apakah mereka tidak belajar hadis padahal mengaku umat
Rasulullah ? jika tidak, lalu orang-orang seperti itu termasuk golongan islam
yang bagaimanakah? Begitukah orang Islam
yang mengaku dirinya Islam tapi tidak
menerapkan hukum-hukum Islam secara
kaffah dalam hidupnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar