Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Kamis, 22 Desember 2016

Review: FILSAFAT ISLAM Karya: Dr. Zaprulkhan, M.S.I



REVIEW BUKU "FILSAFAT ISLAM"
(Karya Dr. Zaprulkhan, M.S.I)
Oleh: Hasanatul Mutmainah
NIM: 2013.112.01.2363

BAB 1 SEJARAH DAN PERKEMBANGAN FILSAFAT ISLAM

A.  Prawacana
        Dilihat dari kacamata tradisi intelektual barat, filsafat Islam terlihat sekedar filsafat Yunani dan berperan sebagai pusat salah satu penyalur unsur penting dari warisan kuno kepada barat abad pertengahan. Tetapi jika dilihat dari perpektifnya berdasarkan pada keutuhan tradisi filosof Islam yang mempunyai kesinambungan selam 12 abad dan masih tetap hidup hingga kini, seperti halnya yang berlabel ‘Islam’, berakar pada Al-quran dan Hadist.
B.  Pengertian Filsafat Islam
Filsafat Islam merupakan gabungan dari dua kata yaitu filsafat dan Islam. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philos dan Sophia. Philos artinya cinta yang makana luasnya yaitu hasrat ingin tahu seseorang terhadap kebiksanaan, ilmu pengetahuan atau kebenaran. SedangkanSophia berarti kebiksanaan, sehingga secara sederhana filsafat adalah mencintai kebiksanaan.
Secara terminologis, filsafat merupakan mempelajari pernyataan-pernyataan penting tentang eksitensi kehidupan yang berakhir dengan pencerahan dan pemahaman secara keseluruhan.Kata Islam berasal dari akar kata salima yang berarti menyerah, tunduk, dan selamat. Islam artinya menyerahkan diri kepada Allah, dan dengan menyerahkan diri kepada-Nya maka akan memperoleh keselamatan dan kedamaian.
Jadi filsafat Islam pada hakikatnya adalah filsafat yang bercorak Islami yang artinya filsafat Islam adalah berpikir dengan bebas dan radikal namun tetap pada maknanya yang sesuai dengan sifat,corak, serta karakter yang menyelamatkan dan memberi kedamaian hati.
C.  Polemik Seputar Filsafat Islam
Terjadi perbedaan antara para ilmuwan mengenai penamaan filsafat Islam, yakni apakah lebih layak disebut filsafat Arab atau memang filsafat Islam. Termasuk Carlo Nallino seorang orientalis yang menggunakan istilah arab terhadap filsafat Islam. Dan orang-orang india juga menentang penamaan filsafat arab dalam tilikan Prof.Tarashad, penamaan filsafat arab sama sekali tidak sesuai. Sebenarnya perbedaan istilah tersebut hanya perbedaan nama saja, sebab bagaimana pun filsafat adalah dibawah naungan filsafat Islam yang kebanykan ditulis dalam bahasa arab.
D.  Perjumpaan dengan Tradisi-tradisi Lain
1.    Perjumpaan dengan Tradisi Yunani dan Suryani.
-          Berawal dari penaklukan Iskandaria pada641 memperluas kekuasaan Arab atas timur tengah dan menjadi taman peradaban Yunani (ketika dipimpin oleh Iskandar Agung).
-          Ketika jatuhnya Iskandariah digantikannya dengan Athena,semakin menjadi lumbung filsafat dan sains untuk bersentuhan dengan peradapan Yunani dan peradapan timur tengah lainnya, karena Iskandar-lah yang menjadi pusat bergelutnya dalam tradisi keagamaan dan mistis Mesir, Persia, Yunani, Yahudi dan Phoenisia. Dengan demikian adanya pengaruh besar dari aristoteles bahwa kaum muslim banyak memanfaatkan metode berfikir logis.
2.    Perjumpaan dengan Tradisi Persia dan India.
-          Meski budaya kaum Muslim berutang budi terhadap tradisi yunani, tapi orang arab tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh orang Persia dan India.Pemikiran Persia menyentuh dunia Muslim hanya terbatas, terutama atas sejumlah tradisi moral, keunggulan mereka sedemikian rupa sehingga setelah tahun 750 hampir semua bintang-bintang pemikir Islam yang berasal dari Persia. Adapun sejumlah karya-karya dari India diterjemahkan selama masa pemerintahan Al-Mansur dan Harun atas permohonan wazir besar Persia, yahya al-Barmaki. Dan filsafat Islam pada dasarnya adalah sebagamana dapat dipahami dari dalam tradisi sendiri yang juga merupakan usaha menyikapi suatu sarana untuk mendapatkan hakikat dalam dimensi Al-Quran.
E.   Penutup. Dengan bijak cukup demikian bahwa ditegaskan bahwa filsafatIslam bisa disebut demikian bukan sekedar filsafat Muslim atau arab karenasifat menentukananya ajaran Islam di dalamnya. Begitu pula dalam kegiatan filsafat adalah benar benar pelaksanaan perintah Allah dalam kitab suci. Maka filsafat dan agama adalah dua saudara kandung, sehingga merupakan suatu kezaliman besar jika keduanya dipisahkan.



BAB 2 PARA FILSUF ISLAM
A.  Para Filsuf Islam di Wilayah Timur
1.      Mengenal Al-Kindi dan Minat Filosofisnya.
Orang yang diterima sebagai Filsuf arab pertama, adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi. Berasal dari Suku Kindah di Yaman tetapi lahir di Kufah (Irak) pada tahun 796 M. Orang tuanya adalah Gubernur dari Bashrah. Al-Kindi menganut aliran Mu’tazilah kemudian belajar berfilsafat. Meninggal sekitar tahun 866 M.Ibn al-Nadim seorang pustakawan terpercaya menyebutkan ada 242 buah karya Al-Kindi bidang logika, metafisika, aritmatika, falaq,musik astrologi, geometri, kedokteran, politik dan sebagainya. Karyanya yang cukup terkenal adalah Fial-Falsafah al-Ula.Bagi Al-Kindi, kebenaran agama tidak berlawanan dengan kebenaran filosofis. Mengnai kebenaran dari luar, Al-Kindi menegaskan bahwa kaum Muslim tidak perlu malu mengakui sebuah kebaikan dan mengambilnya dari manapun datangnya, meskipun datang dari orang yang berbeda keyakinannya dengan kaum muslimin.Terhadap mereka yang menolak filsafat,  Al-Kindi menjuluki sebagai Orang-orang yang asing dengan kebenaran dan memakai mahkota kebenaran yang berhak mereka pakai.
a.       Filsafat Ketuhanan. Al-Kindi merupakan filsuf Islam pertama yang menggagas bukti rasional-filosofis tentang Tuhan. Menurut Al-Kindi, alam semesta betapa pun luasnya adalah terbatas.Dengan terbatasnya materi alam, terbatas pula hal-hal yang melekat dengannya, yaitu gerak dan waktu. Dengan terbuktinya bahwa materi, gerak dan waktu dari alam semesta ini terbatas, berarti alam semesta ini baru (huduts). Dengan demikian,melaui argumen kebaruan alam,Al-Kindi membuktikan secara logis bahwa tuhan itu ada, sebagai pencipta alam. Al-Kindi mampu mampu membangun argumentasi filosofis yang cukup mudah dicerna sehingga bisa diterima di luar kalangan filsuf.
b.      Filsafat Jiwa dan Akal. MenurutAl-Kindi, jiwa dipandang sebagai intisari dari manusia dan filsuf-filsuf Islam banyak memperbincangkan hal ini. Menurutnya jiwa dan roh tidak tersusun, tetapi mempunyai arti penting, sempurna dan mulia.Melalui perantara jiwa, manusia bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya. Ada dua macam pengetahuan, pengetahuan panca indera daan pengetahuan akal. Pengetahuan pancaindera hanya mengenai hal lahiriah maka pengetahuan akal menyibak hakikat-hakikat yang hanya dapat diperoleh manusia dengan melepas dirinya dari sifat binatang yang ada dalam tubuhnya. Caranya dengan meninggalkan dunia dan berkontemplasi tentang wujud.
c.       Catatan Kritis. Al-Kindi merupakan orang pertama yang memindahkan filsafat Yunani secara sistematis dari sumber-sumber literer asing dan menyalurkannya ke dalam lingkungan Islam. Keistimewaan unik lain dari Al-Kindi adalah ia begitu ahli bagaimana mengatur permainan musik yang mempunyai pola masing-masing pada waktu pagi, siang dan malam hari.
2.      Mengenal al-Farabi dan Karyanya.
Nama lengkapnya adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalagh al-Farabi, lahir di Wasij tahun 870 M. Menurut Louis Massignon, al-Farabi adalah seorang filsuf Islam pertama yang sesungguhnya. Al-Farabi juga menjadi guru bagi Ibnu Sina, Ibn Rusyd dan filsuf-filsuf Islam lain setelahnya hingga ia mendapat gelar “Guru pertama” (al-mu’allim al-tsani), sebagai kelanjutan Aristoteles yang mendapat gelar “Guru pertama” (al-Mu’allim al-awwal).
a.       Teori Epistemologi. Al-Farabi membangun teori demonstrasi atau epistemologi yang terpusat pada analisis terhadap syarat-syarat yang harus dipenuhi agar memperoleh ilmu atau pengetahuan. Al-Farabi mendasarkan analisis ini pada perbedaan antara dua tindakan kognitif dasar, yakni konseptualisasi (tashawwur) dan pembenaran(tashdiq). Salah satu sisi penting interpretasi ini adalah  analisis al-Farabi tentang kepastian yang mencirikan konfirmasi sempurna. Al-Farabi mendefinisikan kepastian mutlak dalam batas-batas yang disebut sebagai pngetahuan tingkat kedua, dengan menegaskan bahwa kepastian itu terdiri :1) keyakinan bahwa kebenaran yang telah diterima seseorang mustahil menjadi kebalikannya dan 2) keyakinan bahwa tidak ada keyakinan lain yang mungkin selain keyakinan yang ia pegang. Kesimpulannya adalah Kepastian tidak hanya mensyaratkan pengetahuan seseorang bahwa sesuatu itu adalah suatu hal, tetapi juga pengetahuannya bahwa ia mengetahuinya.Perbincangan teori epistemologi juga berusaha membuat Al-Farabi menggabungkan teori ide Plato dan teori Pengabstrakan objek-objek dari Aristoteles. Menurut Al-Farabi, adalah suatu kesalahan kalau dikatakan ada pertentangan antara Plato dan Aristoteles, sebab keduanya sama berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalaah wujud Tuhan, wujud alam rohani dan wujud atau objek yang diabstraksikan dengan kekuatan akal untuk menjadi bahan pengetahuan manusia. Al-Farabi menggunakan ta’wil yang kadangkala ia mengikuti pandangan Plato dan di saat lain ia mengikuti pandangan Aristoteles. Namun, usaha al-farabi tersebut kiranya sangat lemah dan kurang berhasil.
b.      Teori Emanasi.
Emanasi merupakan teori tentang keluarnya suatu wujud yang mumkin (alam makhluk) dari Zat yang wajibul wujud (Zat yang wajib adanya yakni Tuhan). Teori emanasi disebut juga dengan nama “teori urut-urutan wujud. Al-Farabi mendapat ilham dari seorang filsuf emanasi, Plotinus. Allah, menurut al-Farabi, menciptakan alam semesta melalui emanasi, dalam arti bahwa wujud Tuhan melimpahkan wujud alam semesta. Emanasi itu terjadi melalui tafakkur (berfikir) Tuhan tentang zat-Nya, yang merupakan prinsip dari peraturan dan perbaikan dalam alam.Dengan kata lain, berpikirnya Allah tentang zat-Nya adalah adanya sebab adanya alam ini. Dalam arti Ia-lah yang memberi wujud kekal dari segala yang ada. Berpikirnya Allah tentang zat-Nya sebagaimana kata Sayyed Zayid, adalah ilmu Tuhan tentang diri-Nya, dan ilmu itu adalah daya (al-qudrah) yang menciptakan segalannya. Agar sesuatu tercipta, cukup Tuhan mengetahuinya. Berpikirnya Allah yang maha Esa tentang zat-Nya yang Esa melimpahkanlah yang terbilang pertama, yaitu akalpertama.Akal pertama berpikir, yang merupakan qudrah, tentang Allah, mewujudkan akal kedua, dan berpikir tentang diri-Nya mewujudkan langit pertama. Akal kedua juga berpikir tentang Tuhan dan mewujudkan akal ketiga dan berpikir tentang diri-Nya mewujudkan alam bintang. Akal ketiga sampai dengan akal keesepuluh juga berpikir tentang Allah dan tentang diri masing-masing. Berpikir tentang Tuhan menghasilkan akal-akal dan berpikir tentang diri menghasilkan planet-planet. Demikian akal ketiga mewujudkan akal keempat dan saturnus, akal keempat mewujudkan akal kelima dan Yupiter, akal kelima mewujudkan akal keenam dan Mars, akal keenam mewujudkan akal ketujuh dan matahari, Akal ketujuh menghasilkan akal kedelapan dan venus, akal kedelapan mewujudkan akal kesembilan dan Mercurius, dan akal kesembilan mewujudkan akal kesepuluh dan Bulan. Tetapi,berpikirnya akal kesepuluh tidak menghasilkan akal yang diwujudkannya hanyalah bumi.
c.       Teori tentang Nalar.
Dalam risalah terkenal yang berjudul Risalah fi al-aql (Risalah tentang Nalar), al-farabi mengurai enam istilah seputar nalar atau akal “pertama, nalar yang oleh masyarakat awam dikenakan pada orang cerdas, yang juga dipakai untuk mengukur “ kemasuk-akalan.” Kedua, nalar seperti yang dimaksud oleh para teolog ketika membenarkan atau menolak pendapat tertentu. Dalam konteks ini kata Al-Farabi nalar dapat diprediksi menjadi “kesepakatan umum”.
3.      Mengenal Ibn Sina dan Karyanya.
Ibn Sina mulai menuangkan gagasan-gagasannya secara tertulis. Berbagai karyanya,menurut versi modern berjumlah 276 buah yang mencakup seluruh kajian filosofis, saintifik, kedokteran dan juga kebahasaan. Diantara karya-karya itu adalah Al-syifa’ (pengobatan), Al-Najat (keselamatan), dan Al-Isyarat (Isyarat-isyarat) Juga sejumlah risalah mistis atau isyraqi.Berbeda dengan al-Farabi, Ibn Sina tampak acuh tak acuh terhadap filsafat politik atau etika. Perhatian Ibnu Sina terpusat pada bidang metafisika dan logika, sebagaimana yang tercermin pada luasnya kajian filosofis yang terhadap dalam Al-Syifa’, Al-Isyarat, dan sebagainya.
a.       Filsafat Wujud/Ketuhanan
Ibn Sina terkenal dengan argumennya melalui kemungkinan (dalil al-jawaz), beliau membagi wujud menjadi tiga, yaitu (1) Wujud niscaya (wujud harus senantiasa ada, tidak boleh tidak ada) (2) wujud mungkin (wujud yang boleh saja ada atau tidak ada, kedua – duanya boleh saja) (3) Wujud mustahil (keberadaannya tidak terbayangkan oleh akal).
b.      Filsafat Jiwa
Menurut Ibn Sina, jiwa manusia seperti jiwa – jiwa yang lainnya berada dibawah bulan, memancar dari akal kesepuluh. Beliau membagi jiwa menjadi tiga, yaitu jiwa tumbuh – tumbuhan (nafs nabatiyyah) (kesempurnaan untuk bertahan hidup, berkembang biak dan makan. Jiwa tumbuh mempunyai tiga kekuatan, yaitu kekuatan menyerap makanan (gizaiyah), kekuatan pertumbuhan (quatun namiyyah), dan kekuatan perkembangbiakan (quatu tawaludiyyah).), jiwa binatang (nafs haiwaniyyah) untuk melengkapi kesempurnaan manusia yaitu bergerak dan berpikir, dan jiwa kemanusiaan (nafs insaniyyah) dengan memiliki jiwa kesempurnaan manusia yang dengannya bisa berpikir dengan akal, meneliti, serta membandingkan.
c.       Catatan Kritis
Khaldun, bajjah sebagai gerbang wacana filosofis dinegeri   Andalusia,sebuahkawasan barat islam. Ibn khaldun ahli teori sosia besar arab, menyebut al-farabi dan ibnu sina sebagai filsuf- filsuf utama islam ditimur, ibnu bajjah dan Ibn Rusydi dibarat
C.  Para Filsuf Islam di Wilayah Barat Islam
1.      Mengenal Ibn Bajjah dan Karyanya.
a.       Teori Pemerintahan
b.      Teori Ittishal, kontak intektual dengan tuhan
2.      Mengenal Ibn Thufail.
Tokoh terkemuka kedua dalam sejarah Filsafat Andalusia adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail, yang lebih dikenal dengan Ibn Thufail. Buku karangan dari Ibn Thufail menyangkut beberapa persoalan filsafat, seperti filsafat fisika, metafisika, kejiwaan dan sebagaimana, di samping risalah-risalah (surat surat) kiriman kepada Ibn Rusyd, tetapi karya-karya tersebut tidak mampu bertahan hingga hari ini, kecuali sebuah karangan terkenal yaitu risalah Hayy ibn Yaqzhan, merupakan intisari pikiran-pikiran filsafat Ibn Thufail dan yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.Judul Hayy ibn Yaqzhan memang sama dengan buah karya Ibn Sina yang diakuinya sendiri berisikan kebijaksanaan Timur (Oriental Wisdom). Kebijaksanaan Timur pulalah yang menjadi pokok pikiran Ibn Thufail dalam buku ini.Beliau menguraikan tentang tangga-tangga pengetahuan yang ditempuh oleh akal, mulai dari objek-objek inderawi samapi pikiran-pikiran universal. Ia mendemonstrasikan bahwa tanpa pengajaran dan petunjuk, akal manusia bisa mengetahui wujud tuhan, yaitu melalui tanda-tandanya dan menegakkan dalil-dalil atas wujudnya tersebut. Akhirnya apa yang dititahkan syariat islam adan apa yang diketahui akal sehat dengan dendirinya, berupa kebenaran, kebaikan dan keindahan dapt bertemu keduanya dalam satu titik tanpa diperselisihkan.
3.      Mengenal Ibn Rusyd dan Karyanya.
-          Tidak bisa tidak,tokoh terbesar dalam sejarah filsafat Andalusia adalah Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad ibn Rusyd. Dalam literatur Latin, Ibn Rusyd disebut Averros.Pada mulanya Ibn Rusyd mendapat kedudukan terbaik dari khalifah al-Manshur sehingga pada waktu itu Ibn Rusyd menjadi raja semua pikiran, tidak ada pendapat kecuali pendapatnya, dan tidak ada kata-kata kecuali kata-katanya. Tetapi keadaan tersebut segera berubah ketika ia difitnah telah merusaka agama dan telah keluar dari Islam, yang dilancarkan oleh golongan penentang filsafat yaitu para fuqaha masanya, sehingga ia dikurung di suatu kampung Yahudi, bernama Alisanah. Setahun lamanya Ibn Rusyd mengalami masa yang sangat getir itu, dan pada tahun 1197 M, khlifah mencabut hukumannya dan mengembalikkan semua pangkat yang pernah dia pegang sebelumnya. Ibn Rusyd meninggal 10 desember 1198 M/ 9 Shafar 595 H di marakesh dalam usia 72 tahun menurut perhitungan Masehi dan 75 tahun menurut perhitungan tahun Hijriyah. Buku-buku penting yang masih hingga hari ini ada empat, yaitu:
a.       Bidayatul Mujtahid
b.      Faslul Maqal
c.       Manhaj al-Adillah
d.      Tahafut at-Tahafut
-          Ibn Rusydi salah satu seorang filsuf yang sangat keras dalam berusaha untuk mendamaikan kebenaran filsafat dan agama. Menurutnya perbedaan keduanya masih bisa di damaikan apabila pertama-tama orang mau mematuhi ketentuan Al Qur’an (QS.Ali Imran ayat 7). Beliau juga berpendapat bahawa “ karena filsafat berbicara tentang keberadaan entatis sejauh ia di cipta dan menunjuk kepada sang pencipta.”
-          Hukum Sebab-Akibat dan Hubungannya dengan Mukjizat Menurut Ibnu                 Rusyd.
Berikut ini merupakan bantahan Ibnu Ruysd terhadap imam ghazali mengenai sebab-akibat yang memang merupakan kejadian yang keluar dari kebiasaan;
1.    Terdapat hubungan yang dharuuriiy ( pasti ) antara sebab dan akibat
Menurut Ibn Rusyd, bahwasanya semua benda atau segala sesuatu yang ada di alam ini memiliki sifat dan ciri tertentu yang disebut dengan zatiyah. Dengan arti bahwasanya untuk terwujudnya sesuatu keadaan mesti ada daya atau kekuatan yang telah ada sebelumnya. Menurut Ibn Rusyd, kita bisa mengenali mawjud yang ada ini dengan adanya hukum sebab-akibat zatiyah, maka dengan itu pula kita bisa membedakan antara satu dengan lainnya.
Misalnya, api yang sifat zatiyyah-nya adalah membakar, air yang sifat zatiyyah­-nya adalah membasahi. Sifat membakar dan membasahi ini adalah sifat zatiyyah-nya dan merupakan pembedan antara api dengan air, jika tidak ada sifat tertentu, tentunya air dan api sama saja, tidak ada bendanya, akan tetapi hal ini adalah sesuatu yang mustahil.
2.      Hubungan sebab-akibat dengan adat atau kebiasaan
Menurut Ibn Rusyd, bahwasanya al-ghazali tidaklah jelas dalam mengemukakan pendapatnya mengenai sebab-akibat yang dianggap sebagai adat atau kebiasaan. Ibn Rusyd mempertanyakan apakah yang al-ghazali maksud ini adalah adat fa’il (Allah), atau adat maujud, atau juga adat bagi kita dalam menentukan suatu sifat atau predikat terhadap maujud ini.
Kalaulah yang dimaksudnya adalah adat Allah, hal ini mustahil karena apa yang disebut dengan adat adalah suatu kemampuan atau potensi yang diusahakan oleh fa’il yang mengkibatkan berulang-ulangnya perhatin mawjud ini. Hal ini sangat bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa sunnatullah tidak akan berganti dan tidak berubah. Jika yang dimaksudnya adalah adat bagi maujud, maka hal ini hanya akan berlaku bagi yang memiliki roh atau nyawa karena bagi yang selain itu, bukanlah adat namanya, tetapi tabia’at. Dan apabila yang dia maksud adalah adat bagi kita dalam menentukan suatu sifat atau predikat terhadap mawjud, sepert si fulan baik san sebagainya, maka hal ini mawjud terlepas daripada nisbat (hubungan)-nya kepada fa’il(Allah).
3.        Hubungan sebab-akibat dengan akal
Menurut Ibn Rusyd, pengetahuan akal tidak lebih daripada pengetahuan tentang gejala yang mawjud beserta sebab-akibatnya yang menyertainya. Pengingkaran terhadap sebab-akibat berarti pengingkaran terhadap akal dan ilmu pengetahuan.
4.      Hubungan sebab-akibat dengan mukjizat
Di awali dengan pendapatnya imam Ghazali, ketika seseorang percaya akan keniscayaan, maka akan mengakibatkannya tidak percaya terhadap adanya mukjizat nabi. Mengenai hal ini, Ibn Rusyd membedakan antara dua mukjizat; mukjizat:
a.       Mukjizat al-Barraaniy, adalah mukjizat yang diberikan kepada seorang Nabi, tetapi tidak sesuai dengan risalah kenabiannya, seperti tongkat nabi Musa as yang merumbah menjadi ular, nabi Isa yang dapat menghidupkan orang mati, dan lainnya. Mukjizat seperti ini yang saat itu dipandang sebagai mukjizat atau perbuatan diluar kebiasaan dan boleh jadi satu waktu dapat diungkapkan oleh pengetahuan. Ketika ilmu pengetahuan dapat mengungkapkannya, maka ia tidak dipandang sebagai mukjizat lagi.
b.      Mukjizat al-Jawaaniy, adalah mukjizat yang diberikan kepada seorang nabi yang sesuai dengan risalah kenabiannya, seperti mukjizatNabi Muhammad yakni al-Quran. Mukjizat seperti inilah yang dipandang oleh Ibn Rusyd sebagai mukjizat yang sebenarnya, karena al-quran tidak dapat diungkapkan oleh pengetahuan (sains) dimana pun dan kapan pun.
5.                   Catatan Kritis Ibn Rusydi
Buku-buku filsafat karangan Ibn Rusydi saja yang menguasai dunia barat sehingga nama filsuf lain hampir dilupakan.

BAB 3 FILSAFAT RASIONALISME ISLAM (STUDI EPISTEMOLOGI BURHANI ABED AL-JABIRI)
A.    Histori Epistemologi Burhani
Menurut ahli sejarah Filsafat, Heraclitus adalah orang pertama yang mengemukakan pemikiran tentang logos, atau disebut juga akal universal (al-aql al-Kauni). Untuk menjelaskan sistem yang menguasai jalannya kosmos yang jauh dari mitologi dan mite, filsuf ini menggagas adanya “hukum universal” (al-qanun al-kuli), yang mengatur realitas dan mengontrol proses terjadinya realitas(becoming) yang terjadi secara terus-menerus dan abadi. Heraclitus memandang alam semesta sebagai kosmos yang dinamis dan selalu berubah. Akal manusia bisa sampai kepada pengetahuan yang benar tentang realitas alam jika iabersekutu” dengan “akal universal”, yakni ketika ia berusaha mengkaji sistem natural dan memahami keniscayaan-keniscayaan dan cakupan yang melekat pada sistem itu.
Selanjutnya, konsep akal universal dikembangkanoleh puncak Filsuf Yunani: Aristoteles, sebelum Aristoteles, metode-metode logika dan filsafat diuraikan secara terpisah, tidak teratur serta tidak ada klasifikasi yang jelas. Dialah yang menyusun metode logika secara sistematis beserta uraiannya. Logika dijadikan sebagai langkah awal dan pembuka ilmu-ilmu filsafat. Karena kejeniusannya dalam formulasi-formulasi persoalan logika dan filsafat, sehingga ia dijuluki Guru pertama (The first teacher).
Aristoteles mengidentifikasi Tuhan sebagai penggerak pertama. Penggerak yang tidak digerakkan mengakibatkan semua gerak dan aktivitas di alam semesta, karena setiap pergerakan meniscayakan sebab yang dapat dilacak kembali kepada sumber tunggal. Meskipun penjelasannya tentang penggerak pertama agak berbau metafisik dan spekulatif, Tuhan Aristoteles tidak banyak terkait dengan agama, Tuhan yang tidak menciptakan dunia, tidak mewahyukan dirinya dalam sejarah dan tidak akan mengadili di hari kiamat.
B.     Metode Burhani
Sebagai aktivitas kognitif, metode burhani atau demonstratif merupakan sebentuk inferensi rasional, yaitu penggalian premis-premis yang menghasilkan konklusi yang bernilai Metode demonstratif ini berasal dari filsuf terkenal Yunani, Aristoteles dalam penuturan Aristoteles yang dimaksud dengan metode demonstratif adalah silogisme ilmiah, yakni silogisme yang apabila seseorang memilikinya maka ia akan memiliki pengetahuan. Menurutnya silogisme adalah seperangkat metodeberpikir yang dengannya seseorang dapat menyimpulkan pengetahuan baru dari pengetahuan-pengetahuan sebelumnya.
Metode burhani pada dasarnya adalah metode logika atau penalaran rasional yang digunakan untuk menguji kebenaran dan kekeliruan dari sebuah pernyataan atau teori ilmiah dan filosofis dengan memerhatikan keabsahan dan akurasi pengambilan sebuah kesimpulan ilmiah. Ini misalnya dilakukan dengan memerhatikan validitas pernyataan-pernyataan yang ada dalam premis-premis mayor atau minornya, serta ada atau tidaknya middle term yang sah yang mengantarai kedua premis tersebut. Bentuk formal metode inilah yang disebut silogisme : berupaya mengambil kesimpulan dari premis mayor dan minor yang mengandung unsur sama, yang di sebut middle term (al-hadd al-ausath).
Sebuah silogisme baru dikatakan demonstratif apabila premis-premisnya didasarkan bukan pada opini, melainkan pada kebenaran yang telah teruji atau kenbenaran utama (primary truth), karena hanya apabila premis-premisnya benar, kesimpulannya dapat dipastikan benar. Contoh klasik  silogisme demonstratif adalah sebagai berikut: semua manusia akan mati (fana).Socrates adalah manusia maka Socrates akan mati.
C.     Aplikasi Burhani: Filsuf Muslim Timur
Secara historis Al-Kindi adalah filsuf muslim pertama yang mengakses diskursus filosofis burhani  Aristoteles di dunia Arab. Al-Kindi bertolak dari ketetapan bahwa tujuan filsafat tiada lain adalah mencari hakikat-hakikat segala sesuatu dan intinya tentang kebenaran awal, yakni Allah, sama seperti tujuan agama. Dia memaparkan kalau tidak ada pertentangan antara kebenaran agama dengan kebenaran rasional, karena keduanya merupakan penampakan atas satu kebenaran. Dengan pendekatan Aristotelian ia berusaha meyakinkan bila kebenaran filsafat dicapai melalui penalaran akal murni.
Walaupun Al-Kindi berusaha memopulerkan konsep filsafat Aristotelian, agaknya paradigma normatif nalar Arab masih mewarnai corak filsafatnya. Ia sepenuhnya menggunakan sistem argumentasi filsafat untuk menopang ajaran pokok Islam tentang tauhid. Al-Kindi menolak untuk menyebut Allah sebagai akal, baginya Allah adalah Esa dari segala hal ini: baginya tidaka ada kategori, tidak ada unsur, genus, spesies, jiwa, akal dan Esa bukan karena disandingkan dengan yang lain, ia Esa secara independen (wahid mursal). Esa secara independen artinya di sisi Allah tidaka ada hal lain yang bersifat ketuhanan semacam ‘akal universal’ atau ‘akal kesepuluh’.


D.    Aplikasi Burhani: Filsuf Muslim Barat
Ketika menyebut nama Ibn Hazm, menurut al-Jabiri, lazimnya orang hanya menganggap sebagai seorang ahli hukum zahiri dan seorang polemikus yang pantang menyerah. Ibn Hazm menolak dan membongkar seluruh prinsip kognitif yang menjadi dasar pemikiran syiah Imamiyah dan Batiniyah. Dengan logika akal universal adopsi pemikiran Aristoteles, secara tegas menyanggah irasionalitas di kalangan Asy’ariyah dan menentang irfan kaum sufi. Menurutnya hanya akal yakni akal universal yang bisa diterima sebagai standar penilaian, penentu maupun ilmu rasional, karena segala yang benar dalam metode demonstratif niscaya ada dalam Al-Qur’an dan sabda Nabi.
Lebih jauh dengan logika yang sama, disamping akal, indra juga bisa dijadikan jalan untuk meraih pengetahuan yang benar. Tradisi pemikiran Islam yang dominan pada masa Ibn Rusyd adalah: 1) tradisi kalam dan filsafat 2) tradisi fiqih dan ushul fiqih 3) tradisi tasawuf teoretik. Agama tidak menafikkan metode burhani atau rasionalisme , tapi malah menganjurkannya, agar menjadi sarana yang efektif bagi kalangan ulama’ atau kaum rasionalis untuk memahami agama secara rasional.

BAB 4 FILSAFAT KETUHANAN BEDIUZZAMAN SAID NURSI
A.      Prawacana
Istilah filsafat Islam pertama atau metafisika, salah satu unsuranya membahas tuhan. Pertama kali digulirkan Aristoteles yang dalam perkembanganya selanjutnnya dipergunakan , termasuk oleh para filsuf Muslim dalam menguraikan eksitensi Tuhan.
B.       Sketsa Biografi Said Nursi dan Karya-Karyanya
Said Nursi lahir menjelang fajar terbit pada tahun 1876 M di desa Nursi sebuah perkampungan Qadha di wilayah Bitlis terletak di sebelah timur Anatoli. Dari keluarga yang wara, Mirza dan Nuriah, beliau membinailmu dari bilik ayahnya sendiri, Mirza dan saudara lakinya, Abdullah. Sebagai pelajar muslim dan mulai mengkaji bidang nahwu dan sharf pada tahun 1888 dengan ketekunannya Nursi masuk di sekolah Bayazid yang ditempuh selama 3 bulan. Ia berhasil membaca seluruh buku-buku yang umumnya dipelajari disekolah agama dan lulus dengan membawa ijazah dari Syaikh Muhammad Jalali.
Pada tahun1989, Nursi berguru pada Fahullah Afandi, lalu kejeniusannya tersebar luas lebih dari 80 kitab induk tentang keislaman berhasil dihapal dan juga mampu menghafal kamus al-Qamus al-Muhith karya Fairus Abadi, sampai pada huruf sin. Kemudian pergi ke Bitlis untuk menelaah sejumbalah buku, sehingga pada tahun 1894 beliau pergi menuju kota Wan untuk menpelajari disiplin ilmu modern, seperti geografi,kimia dan lainya.
Ketika pecah Perang Dunia I pada tahun 1914 dengan Rusia, Nursi ikut perang dan ditawan di Qustarma selama dua tahun empat bulan. Kemudian Nursi ingin uzlah, mengasingkan diri di masjid kecil milik bangsa Tatar di sungai Volga.Namun dalam sepanjang hidupnya Nursi selalu hidup dalam penjara dari satu daerah ke daerah lain oleh kekuasaan Kemal Attturk pada tanggal 23 maret 1960, Nursi menutup usia untuk selamanya dan ia meninggalkan sehelai surban sepotong kain, dan uang dua puluh lira.
C.     Eksitensi Tuhan dalam wacana Filsafat
Dalam pembuktian argument ada 5 macam antara lain:
1.      Argumen  Ontologis, yang membuktikan tentang adanya tuhan dan ide tentang tuhan yang dimiliki oleh manusia.
2.      Argumen Kosmologis, apabila argument ontologis benihnya berasal dari Plato, sedang Aristoteles yang mencetuskan pertama argument kosmologis,yang beragumen bahwa Tuhan menggerakkan alam bukan sebagian penyebab efisien, tapi sebagai penyebab final. Karena Tuhan menggerakkan karena dicintai dan segala sesuatu di alam semesta bergerak pula menuju penggerak yang sempurna.
3.      Argument Teleologis, alam semesta menunjukkan ada yang mengatur, mempunyai suatu tujuan, antara satu dan lainnya berhubungan dengan erat.dalil teleologi selalu bermuara pada sifat atau tindakan Tuhan Yang Maha Esa.
4.      Argument Moral, yang dipelopori oleh filsuf ternama Jerman, Immanuel Khan, dan dapat diuraikan menjadi dua, yakni bentuk dimana argument disajikan sebagai inferensi logika, dari hukum moral yang objektif, dan sebagai kelanjutan bentuk pertama yang melandasi setiap perasaan moral dalam diri manusia adalah imperative kategoris.
5.      Argumen pengalaman Religius, yang dipopulerkan oleh filsuf yang terkemuka dari Pakistan, Muhammad Iqbal
“pemikiran dan relitas sesunggunya merupakan kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Ini hanya mungkin kalau kita secara saksama meneliti dan menafsirkan pengalaman, dengan mengikuti petunjuk yang diberikan Al-quran yang menganggap pengalaman di dalam serta di luar sebagai sutu relitas yang digambarkan yang pertama dan terakhir, yang terlihat dan yang tidak terlihat.”


D.    Pandangan Said Nursi Tentang Tuhan
Secar global pandangan Nursi mengenai Tuhan dapat diuraikan dalam 3 kategori antara lain:
1.      Nursi memandang Tuhan sebagai dzat yang sangat unik dan memiliki kesempurnaan yang tidak akan bisa dibandingkan dengan apa pun.
2.      Pandangan Nursi tentang Allah yang memiliki kekuasaan absolut dan tidak bertepi atas segala ciptaan-Nya.
3.      Meskipun Allah mempunyai kesempunaan dan kekuasaan tak tertandingi yang sejatinya tak terjangkau oleh nalar manusia yang lemah. Dia tetap ingin menunukkan kesempurnaan dan kekuasaan-Nya.
E.     Pembuktian Eksitensi Tuhan Menurut Said NUrsi
1.      Eksitensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi Kosmologis
Ide sentral yang terkandung dalam argumentasi kosmologis adalah rangkaian hokum sebab akibat pada alam semesta yang harus berakhir pada sebab pertama yang disebut Tuhan.
Uraian Nursi tentang eksitensi Than melalui argument dapat diklasifikasikan sbb:
a.    Penciptaan alam semesta dengan segala keanekaragaman yang membuktikan adanya Pencipta Tunggal Yang Maha Kuasa.
b.    Adanya kesempurnaan relatifyang menunjukkan kesempurnaan mutlak.
c.    Seluruh makhluk berada dalam kebutuhan dan ketergantungan yang mengharuskan adanya satu wujud wajib tempat bergantung.
d.   Keunikan setiap ciptaan menunjukkan pengetahuan Tuhan yang Maha komperehensif dan membuktikan adanya tuhan yang maha Esa.
e.    Setiap makhluk ciptaan Tuhan merefleksikan Asma-asma-Nya secara indah, factual, dan komperehensif.
2.      Eksitensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi Ontologis
       Argument ontologis berpijak pada filsafat wujud yang menyatakan bahwa manusia mempunyai suatu gagasan tentang zat yang sempurna dan tidak ada wujud yang lebih besar dari zat tersebut. Nursi memberikan ilustrasi proses penciptaan itu bagaikan gambar bayngan pada cermin yang menempel dikertas alat pemotret sehingga menjadi gambar yang konkret.
3.      Eksitensi Tuhan Bingkai Arguentasi Teleologis
a.       Saling kerja samaantara makhluk mereflesikan Tuhan yang maha kuasa dan maha bijakasana.
b.      Alam semesta selain memiliki tujuan juga memiliki manfaat sesuai dengan karakter uniknya masing-masing yang mencerminkan adanya pencipta yang maha Bijaksana.
c.       Masih bermuara pada asma Tuhan yang Maha Bijakasana menrut Nursi ada kebiksanaan universal dalam setiapa penciptaannya.
4.      Eksitensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi Intuitif.
a.       Hati mengikarkan dan membuktikan eksitensi Tuhan secara hakiki. menurut Nursi salah  satu jendela yang menghatarkan manusia berhubungan dengan dunia ghaib adalah hati.
b.      Pengakuan eksitensi ketunggalan Tuhan merupakan implikasi keimanan yang bersemayam dalam hati manusia.
c.       Kalbu manusia yang mempunyai posisi begitu kuat untuk mencintai keabadian., dan kesempurnaan mutlak menunjukkan bahwa betapa Maha kekalnya Allah yang Maha Esa.
Nursi menyarankan agar manusia memperkuat dan mempertajam sensitivitas intuitifnya dengan mengkorelasikan cinta semata terhadap Tuhan,dan mengosongkan kalbu dari cinta terhadap kesenangan duniawi.

BAB 5 FILSAFAT MANUSIA PERSPEKTIF AL QUR’AN
Secara filosofis, kita bisa membedakan hakikat manusia dari persefektif filsafat humanisme, positifisme, eksistensialisme rasionalisme hingga sampai strukturalisme dan postdermisme. Semua aliran, filsafat tersebut berupaya menyoroti figur manusia dengan sudut pandang pemikiran mereka masing-masing. Karena konsep pemikiran dan pendekatan yang mereka gunakan saling berbeda antara satu sama lain, konsekuensinya hasil bidikan mereka terhadap eksistensi manusia pun membuahkan wawasan yang berbeda.
Manusia dari perspestik al Quir’an manusia akan dilihat bukan hanya melalui pendekatan semantik dan tematik semata tetapi juga akan disoroti berbagai fakultas manusia yang bersifat Unik yakni fakultas rohaniyahnya (Roh/ spiritual/ jiwa).
A.    Pendekatan Semantik
Dalam pendekatan ini pembahasaan tentang manusia harus dianalisis secara rasional dalam hubungannya dengan Tuhan. Ketika manusia berbicara tentang manusia, maka setiap dimensi kemanusiaannya selalu beerhubungan dengan Tuhan. Dalam perspektif Thosihiko Izutsu, relasi manusia dan Tuhan dianalisis berdasarkan empat macam: relasi ontologis, relasi komunikatif yang mencakup komunikasi non liguistik dan komunikasi linguistik, relasi Tuhan-hamba, relasi etik.
1.      Relasi ontologis: bentuk relasi antara tuhan sebagai sumber eksistensi manusia yang utama dan manusia sebagai representasi dunia wujud yang eksistensinya berasal dari Tuhan. Pertanyaan: Sumber wujud adalah Tuhan itu sendiri; perlu disyukuri. Al Qur’an mendorong agar kaum muslimin selalu menyadari eksistensinya sebagai makhluk. Muslim sebenarnya dituntut untuk memiliki kesadaran mengenai dimensi kemakhlukannya; bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan dan kehidupannya sepenuhnya bergantung kepadanya, sampai kematian menjemputnya.
2.      Relasi komunikatif: Tuhan dan manusia berada dalam korelasi yang dekat satu sama lain. Dua bentuk yaitu verbal dan non verbel. Komunikasi Tuhan kepada umat manusia dalam bentuk al Qur’an secara spesifik oleh kaum muslim mutlak harus dipatuhi segala perintah dan larangannya. Jenis prilaku lingkuistik ini hanya terjadi dalam situasi istimewa yang menempatkan manusia diluar kerangka pikiran normal sehari-hari. Kondisi darurat manusia mengendor dan seluruh peristiwa itu tidak berlalu begitu saja semata-mata sebagai fenomena sementara, tetapi dijadikan kebiasaan yang tetap dan mengakar, maka doa tersebut menjadisinonim dengan ibadah. Dengan pemahaman yang mendalam suatu gejala alam tidak lagi sebagai gejala alam tapi merupakan tanda atau lambang dari al Qur’an disebut ayat. Dalam konteks ini menurut pandangan al Qur’an, Tuhan mengirim ayat, sebenarnya dalam rangka bimbingan-nya kepada umat manusia.
3.      Relasi Tuhan-hamba: relasi ini melibatkan di pihak Tuhan sebagai Rabb, semua konsep yang berhubungan dengan keagungan-Nya, kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya dsb. Seorang hamba “’abd” harus berbuat dan bertingkah laku sebagai hamba dengan demikian perkembangan semantik penting yang ditunjukkan oleh ibadah yang berdasarkan makna harfiyah aslinya adalah mengabdi kepada-Nya yang menjadi makna “menyembah” dan “memuja”. Fungsi utama seorang hamba adalah mengabdi dengan tuannya dengan setia, selalu memperhatikan kehandaknya dan apa yang dikehendakinya dan mentaati perintahnya tanpa mengeluh. Islam kata kerjanya Aslama, dalam frasa aslama wajhahu lilllaahi yang berarti ia telah menyerahkan wajahnya kepada Allah. Yang bermakna bahwa sukarela menyerahkan dirinya kepada kehendak ilahi dan mempercayakan dirinya sepenuhnya kepada Allah.  Juga merupakan penyerahan diri secara verbal. Konsep ini menjadi sangat penting diantara semua konsep yang berkaitan dengan kerendahan diri dan  penyerahan, karena fakta bahwa Tuhan sendiri telah memilih Islam sebagai nama agama yang baru. Fakta bahwa Islam sebagai pengalaman batin religius bersifat personal pada tiap orang.
Seorang menjadi muslim mengaplikasikan banyak hal yang berbeda. Berdasarkan sudut pandan khusus, seorang yang telah meninggalkan semua kepentingan dirinys sendiri, semua kebanggaan sebagai manusia sehingga dalam keadaan hina, lemah dan menyerah sebagi hamba, dihadapan Tuhan yang menjadi penguasa.
4.    Relasi Etik: berpijak pada perbedaan dua aspek, konsep Tuhan yang bersifat etik. Sehingga relasi Tuhan dan manusia juga bersifat etik, bertindak dengan cara etik yaitu sebagai Tuhan keadilan dan kebaikan. Demikian manusia diharap respon dengan tindakan Tuhan yang bersifat etis. Dalam perspektif sufistik yang berorientasi Qur’ani, dua dimensi Jalaliyah dan Jamaliyah Tuhan memiliki signifikasi tersendiri bagi kaum muslim ketika berhubungan dengan sang pencipta. Sifat Jalaliyah  Tuhan menutut manusia agar takuk (khauf) sebagai kendaraan mengabdi pada-Nya. Sedangkan sifat Jamaliyah  Tuhan mengajak hambanya untuk menjadi harapan (raja’) sebagai sarana mengabdi pada-Nya. Kedua aspek tersebut menggambarkan bahwa Allah maha pemurah, pengasih, pengampun, dsb.
Dengan adanya tanda-tanda dari Allah (peristiwa) maka adanya pemahaman bagi manusia sehingga ia bersyukur. Relasi etis antara Tuhan dan manusia yaitu jika manusia bersyukur maka Allah akan membalas, tapi jika mengingkari nikmat Allah maka Allah akan mengazabnya. Jadi relasi etis antara Tuhan dan manusia, terutama dari dimensi ketuhanan, sebenarnya melampaui pola yang baku. Meski Tuhan sangat pedih azab-Nya, namun cinta-Nya merupakan samudera yang tidak bertepi, yang anugerah-Nya laksana cakrawala yang tak berujung, yang amara-Nya dikalahkan oleh rahmat-Nya, serta pintu ampunan-Nya terbuka lebar sepanjang saat.
Dalam pendekatan tematik, tertadap beberapa istilah yang digunakan al Qur’an ketika membicarakan  tentang manusia. Secara umum, al Qur’an menggunakan beberapa istilah seperti an-nas, insan, basyar, bani Adam, dan zuriyat Adam.
Dalam konklusi amal shaleh sintesis imaniah ilmiah bahwa puncak prestasi manusia bermuara apa yang disebut al Qur’an dengan amal shaleh. Secara literal istilah shaleh mempunyai beberapa arti sebagai baik, bagus, pantas, sesuai, bermanfaat dan serasi. Keserasian material adalah dimensi hubungan manusia dengan alam semesta. Hubungan manusia dengan alam semesta bisa bersifat serasi atau harmonis jika manusia mendekatinya dengan mematuhi pola-pola tetap yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai aturan-Nya. Iman tumbuh dan berkembang dengan bertitik tolak dari wahyu, sedangkan ilmu tumbuh dan berkembang karena rasionalitas. Pendekatan dalam kehidupan ukhrowi yang spiritual dapat dilakukan dengan sepenuhnya mengabaikan dimensi kehidupan duniawi.

B.     Pendekatan Tematik
Tiga istilah yang dikaji dalam pendekatan tematik antara lain:
1.      Basyar dalam Al-Quran disebut sebanyak 27 kali seperti dalam surat Al-Imran (3)(47). Secara singkat, konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia: makan,minum,berjalan, seperti QS.Al-Tin(95)(4). Insan disebut sebanyak 65 kali dalam Al-Quran  kontek Insan mengelomokkan menjadi 3 yaituinsan yang dihubungkan dengankeistimewaan sebagai khalifah, insan dihubungkan dengan posisi negative dari manusia, dan insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia.
2.      Manusia adalah  makhluk yang memikul amanahQS.Al-Azhab(33)(72).
3.      Karena manusia memikul amanah maka insan dalam Al-quran juga dihubungkan dengan konsep tanggungjawabQS.Al-Qiyamah (75).
4.      Dalm menyembah Allah, insan sangat dihubungkan dengan preposisi negative pada diri manusia. Qs,Ibrahim(14)(34). Dalam prespektif Qurais Shihab bahwa Allah menganugerakan manusia empat daya:
a.       Daya tubuh, yang mengantar manusia berkekuatan fisik
b.      Daya hidup, menjadikannya memiliki kemampuan mengaembangkan dan menesuaikan diri dengan lingkungannya serta dapat mempertahankan hidupnyadalam menghadapi tantangan.
c.       Daya akal,memungkinkan mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi
d.      Daya kalbu, yang memungkinkannya bermoral, merasakan keidahan iman dan kehadiran Allah.
b.      Konkulasi Amal Saleh Sintesis Imaniah-Ilmiah
Amal saleh merupakan perbuatan yang bagus,baik, pantas, sesui, serasi dan bermanfaat. Ada 2 dimensi keserasian antara lain:1. Kesersian spriual yaitu keserasian yang dialami dan dihayati secara individual ialah keserasian akibat adanya penghayatan keagamaan serta apresiasi ketuhanan.2. keserasian material yaitu dimensi hubungan manusia dengan alam semesta yang sifatnnya serasi jika manusia mematuhi pola-pola aturan Tuhan yang ada pada lam semesta ini disebut Sunnahtullah, hokum-hukum atau aturan Allah. Meskipun dua aspek duniawi dan ukhrawi berbada, namun sejalan dengan fitrah manusia, seorang harus berusaha mencapai tingkat setinggi-tingginya dalam kehidupan dunia dan akhirat.

BAB 6 PENGETAHUAN MISTIK DITINJAU DARI ASPEK ONTOLOGIS, EPISTEMOLOGIS, DAN AKSIOLOGIS
A.    Ontologis Pengetahuan Mistik
1.      Pengertian Mistik
Secara luas Mistik berkonotasi seorang yang menyatakan bahwa ia telah mengalami atau menjalani pengetahuan mistik dan memahami kebenaran di luat jangkauan manusia secara intuitif. Sedangkan Mistisisme merupakan keyakinan bahwa kebenaran terakhir tentang kenyataan tidak dapat diperoleh melalui pemahaman biasa, dan tidak pula melalui intelek tapi hanya melalui pengalaman mistik atau non mistik.
2.      Hakikat pengala Mistik
Pengalaman Mistik adalah pengalaman spiritual orang-orang sufi ketika berhubungan dengan eksitensi diluar batas dunia dan dunia nyata, yang berbentuk alam kejiwaan, roh,dan sifat ilahiyah. Mimpi dikatakan Objektif karena seseorang tidak pernah berbagi mimpi dengan orang ain, demikian ula sebaliknya. Namun dapat disimpulkan bahwa mimpi tidak mempunyai basis basis ontologisnya secara objektif. Sebab ekalipun orang tidak mempunyai mimpi maka dunia mimpi mereka masingmasing memiliki ciri yang universal yang objektif.
B.     Epistemology Pengetahuan Mistk
Epistemologi merupan cabang filsafat ynag membicarakan dasar-dasar pengetahuan, sumber engetahuan,kareakteristik pengetahuan, ukuran kebebaran serta cara mendapatkan pengetahuan. Dalam epistemology Islam ada tiga metode untuk mengetahui obek ilmu antara lan:Metode Observasi yakni melalui pancaindra  untuk mengenal objek dengan cara mengamanti, metode Logis yakni dengan akal akan mampu memahami benda-benda dengan cara mengabrasikan makna secara universal dari data-data indrawi dengan cara menyimpulkan dari yang telah diketahui menuju yang tidak diketahui. dan Metode Intuitif yakni hati berperan untuk mengakap objek  non fisik melalui kontak langsung dan objek yang hadir dalam jiwa seseorang.
1.      Metode memperoleh Pengetahuan Mistik
a.    pengetahuan intuitif dicapai melalui pengalaman secara langsung objeknya.
b.    sifat langsung pengetahuan intuitif bisa dilihat dari apa yang disebut ilmu hudhuri yakni hadirnya objek dalam diri objek.
c.    metode intuitif mampu menembus langsung pengalaman eksistensial, pengalaman riil manusia yang berhubungan dengan hati, perasan, bukan sebagaimana dikompensasikan oleh akal.
2.      langkah- langkah Metode Intuitif
c.       Takhalli yakni berusaha dngan sekuat mungkin untuk menjauhkan diri dari makasiat, baik maksiat internal mupun eksternal.
d.      Tahalli yakni menghiasi diri dengan sifat yang mulia.
C.     Aksiologi Pengetahuan Mistik
Aksiologi merupakan bagian dari filsafat yang membicarakan tentang nilai dan kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupn manusia. Manfaat pengetahuan Mistik :
a.       Penglihatan menembus hakikat pada apa saja yang dilihat, seperti dapat membedakan hal yang baik dan buruk.
b.      Pendengaran dapat menangkap suatu yang hak dan bathil, bahakan mampu mendengar tasbih dan pujian dari seluruh alam isinya.
c.       Penciuman dapat membau aroma yang hak dan bathil
d.       Pengecapa dapat merasakan makanan minuman yang halala dan haram.
e.       Peraba dapat merasakan dan menangkap makna dan symbol dari apa yang disentuhnya, bahwa disana ada kebaikan dan keburukan.

D.    Ontology, Epistemologi, dan Aksiologi Mukasyafah dan Ilmu Laduni
1.      Ontology Mukasyafah
Mukasyafah adalah upaya penyikapan hijab-hijab yang menutupi diri, yang secara esensisl penyipkapan adalah penghancuran tirai yangmenutupi objek jalan menuju rohani. Dalam literature, Mukasyafah merupan kesingkapan rohani yang mampu mengetahui hal-hala yang bersifat makhluk, seperti melihat manuasia berhubungan dengan nasib, keuntungan, kerugian, penyakit, bahkan fenomena yang berkaitan dengan alam dan duniawi dengan keajaiban0keajaibannya.
2.      Epistemologi Mukasyafah
Mukasyafah terkait dalam situasi batin tertentu, maka epistemology sifatnya psiologis yang mengusahakan agar potensi spiritual atau batin sanggup membuka diri dan menangkap pengetahuan Tuhan. Sementara Riyadhah adalah latihan batiniah yang mempunyai tiga yujuan. 1. Menyingkirkan segala sesuatu selain Allah yang menghalangi perjalanan Spritual. 2. Menundukkan jiwa yang cenderung menyuruh berbuat jahat menuju jiwa tenang.3. melembutkan jiwa batiniah dengan tujuan membuatnya siap menerima penceramahan.
3.      Aksiologi Mukasyafah
Manfaat sentral pengalama mukasyafah adalah tumbuhnya keyakinan yang begitu kuat dan teguh karena diperoleh melaalui penyikapan langsung fenomena alam selama ini diketahuinya dengan naqli dan akli semata.
4.      Ontology Ilmu Laduni
Menurut pandangan Al-quran ilmu ada dua macam yaitu ilmu laduni dan kasbi. Jika ilmu Laduni ilm yang diperoleh tanpa upaya manusia. Qs.Al-Kahfi(18)(65), maka ilmu kasbi adalah ilmuyang diperoleh dengan usaha manusia. Dengan demikian ilmu Ladini adalah ilmu batiniah yang bukan merupakan hasil pemikiran, suau ilmu yang langsung melalui iham,inspirasi dari sisi Tuhan.
5.      Epistemologi Ilmu Laduni
Ilmu Laduni dalam istilah Arifin, merupakan penglihatan dengan cahayaAllah sebagai representasi dari sabda Nabi Saw, bahwa orang beriman melihat cahaya Allah, menurut Jalaludin Rumi ketika seseorang melihat Cahaya Allah maka seorang tersebut akan melihat segalanya yang pertama dan terakhir, da yang terang dan yang tak tampak. Jadi ilmu Laduni dapat dicapai dengan melalui jalan riydhah dan mujahadah. Dengan ini akan menghasilkan tembus pandang ada ilahiah Tuhan setelah terbukanya hijab antara hamba dengan Allah.
6.      Aksiologi Ilmu Laduni
Kegunaan ilmu ladunu antara lain:
a.       Agar dapat memahami ilmu dengan tepat.
b.      Dapat mengetahui tingkatan ilmu seseorang
c.       Dapat mengetahui karakter seseorang.
d.      Dapat mengambil ilmu orang lain (tentu tidak untuk tujuan buruk)
e.       Dapat mengetahui penyakit seseorang dan dapat pula menyembyhkannya
f.       Dapat mengobati orang kena santet.
g.      Dapat mengetaui jodoh seseorang dan nasibnya.
h.      Dapat mngetahui antara jin,setan, malaikat, dan dapat berdialog dengan mereka.
i.        Dapar mengetahui keinginan seseorang tanpa orang itu mengatakannya.
E.     Penutup
Kajian filsafat ilmu seyogianyamelibatkan pengetahuan mistik, sebab bagaimanapun telah disadari oleh para ahli bahawa pengetahuan mistik tidak sekedar teori pengetahuan , namun juga membuahkan kemanfaatan praktis dalam kehidipan individual maupun sosial.

BAB 7 FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM: STUDI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM FAZLUR RAHMAN
A.    Prawacana
Dalam paradigma Rahman, berhubungan dengan ilmu, Al Qur’an dengan tegas mendeklerasikan bahwa semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, maka akan semakin bertambah keyakinan dan komitmennya terhadap kebenaran, sehingga suatu ilmu yang tidak memperluas ufuk wawasan dan tindakan seseorang adalah ilmu setengah matang dan berbahaya.
B.     Sekilas sketsa biografi Fazlur Rahman
Fazlur Rahman dilahirkan pada 21 September 1919 di daerah koloni Inggris. Ia dibesarkan dalam keluarga yang bermazhab Hanafi. Ayahnya seorang ulama terkenal. Selain mengenyam pendidikan formal, Ia menimba banyak ilmu tradisional dari ayahnya. Ia sudah biasa membaca Al-Qur’an di luar kepala. Setelah menamatkan pendidikan menengah, ia meneruskan pendidikan di Punjab, memperoleh gelar M.A. dalam sastra Arab tahun 1942, dan gelar Ph.D. dalam filsafat di Oxford University, Inggris, pada tahun 1951. Dia giat mempelajari banyak bahasa. Pada tahun 1961, Fazur Rahman kembali ke Pakistan untuk mengetuai Institute of  Islamic Research (Institut Penelitian Islam) di Karachi untuk mengembangkan pandangan keIslaman yang mampu mengaprosiasi zaman.
Pada 1964 dia diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideologi (Dewan Penasehat Ideologi Islam). Disana, dia aktif melontarkan banyak gagasan. Ia juga mengemukakan pandangan tentang definisi Islam bagi Pakistan. Tulisan-tulisannya memperlihatkan bahwa ia seorang modernis dan kritikan-kritikannya banyak menuai kontroversi terutama perihal riba dan bunga bank, sunnah dan hadits dll. Seperti bahwa Al Qur’an itu secara keseluruhan adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad, telah menghebohkan media massa selama kurang lebih setahun. Kalangan ulama menuduhnya sebagai pengingkar Al Qur’an. Lalu dia mengundurkan diri dari Institute of  Islamic Research karena sadar dia tanpa dukungan. Dan mengundurkan diri juga sebagai Dewan Penasihat Ideologi Islam lalu dia hijrah ke Chicago.
C.     Pengertian Pendidikan Islam
Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-tarbiyah, al-ta’dib,danal-ta’lim. Penggunaan istilah al-tarbiyah berasal dari kata rabb, yang menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya. Perspektif Nurcholish Madjid, pendidikan (tarbiyah) merupakan sebuah proses meningkatkan potensi-potensi positif yang bersemayam dalam jiwa setiap anak hingga mencapai kualitas yang setinggi-tingginya. Sedangkan istilah al-ta’lim tidak hanya terbatas pada pengetahuan lahiriah, akan tetapi mencakup pengetahuan teoritis, mengulang secara lisan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan. Dalam perspektif al-Attas, istilah al-ta’dib berasal dari kata addaba yakni pengetahuan yang mencegah manusia dari kesalahan-kesalahan penilaian. Karena adab menunjukkan pengenalan dan pengakuan akan kondisi kehidupan, kedudukan dan tempat yang tepat dan layak serta disiplin diri. Maka al-ta’dib bermakna pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan pada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Tujuan pendidikan menurut Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa menjadi organ pada pribadi yang kreatif untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan, kemajuan, dan keteraturan dunia.
D.    Problematika Pendidikan Islam
Pertama, pensakralan terhadap produk-produk pemikiran ulama klasik. Kedua sebagai konsekuaensi problematika pertama, maka corak pendidikan dalam Islam hanya bersifat penghafalan, pengulangan, dan komentar-komentar (syarah) terhadap produk pemikiran klasik.
E.     Rekonstruksi Pendidikan Islam
Pertama, harus ada desakralisasi terhadap produk-produk pemikiran ulama klasik. Dalam bahasa Ar Rahman yakni membuat pembedaan yang jelas antara Islam normatif dan Islam historis. Kedua, perlunya pembaruan di bidang metode pendidikan Islam, yaitu beralih dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan mengaanalisis. Selama ini, sistem pendidikan Islam lebih cenderung berkonsentrasi pada buku-buku ketimbang subjek.

BAB 8 FILSAFAT POLITIK ISLAM
A.    Prawacana
Dalam Islam terdapat semacam doktrin yang berbunyi al Islam huwa al-din wa al-dawlah. Islam adalah agama dan sekaligus kekuasaan, sehingga implikasi hubungan antara agama dan negara, antara aspek ritual dan politik, sangat erat kaitannya. Islam tidak mengenal dinding pemisah antara yang bersifat spiritual dan temporal, sebaliknya Islam memberi panduan etis bagi setiap aspek kehidupan. Setidaknya ada tiga paradigma pemikiran tentang hubungan agama dan negara. Pertama, paradigma yang mengatakan bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan negara karena Islam tidak mengatur kehidupan bernegara atau pemerintahan. Kedua, menganggap Islam adalah agama yang paripurna, yang mencakup segala-galanya, termasuk masalah negara atau sistem politik. Ketiga, menolak pendapat bahwa Islam mencakup segala-galanya dan juga menolak pandangan bahwa Islam hanya mengatur hubungan antara manusia dan penciptaNya semesta. Aliran ini berpendapat bahwa Islam memang tidak mencakup segala-galanya tidak mencakup segala-galanya tapi mencakup seperangkat prinsip dan tata nilai etika tentang kehidupan bermasyarakat.
B.     Spektrum Wacana Politik Islam
a.       Paradigma Sekularistik
Ali Abd.Raziq menjelaskan pandangannya dengan beberapa prinsip. Pertama, tidak ada sistem khalifah dalam Al Qur’an dan SunahKhalifah adalah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia menggantikan Nabi SAW. Kedua, Muhammad seorang Rasul bukan penguasa negara. Ketiga, sistem politik Islam diserahkan pada akal manusia. Dengan menelusuri argumen-argumen Abd Raziq sejauh ini bahwa sistem khalifah bukan model pemerintahan dalam Islam dan Rasul SAW hanya berfungsi sebagai penyampai risalah, bukan penguasa negara.
b.      Paradigma Formalistik
Memandang agama Islam sebagai suatu agama yang sempurna dan sangat lengkap, yang meliputi tidak saja tuntunan  moral dan peribadatan, tetapi juga petunjuk-petunjuk mengenai cara mengatur segala aspek kehidupan politik, ekonomi, dan sosial.
c.       Paradigma Substansialistik (Simbiotik)
Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa sangkut paut sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan menyatakan bahwa Islam telah memberikan sebuah sistem sosial, ekonomi, dan politik yang menyeluruh dan terperinci.

BAB 9 FILSAFAT SAINS (PERSPEKTIF) ISLAM

A.  Ontologi Filsafat Sains Islam
1.      Ontologi berusaha mencari struktur dasar dalam sebuah objek yang dijelajahinya.
2.      Manusia sangat memungkinkan mampu mengeksplorasi dan menyingkap rahasia hukum – hukum kehidupan bumi sekaligus alam semesta secara saintifik.
3.      Ada pertalian batin antara simbol dan yang disimbolkan. Pertalian bersifat metafisik, bukan fisik.
4.      Pengetahuan simbolik itulah yang diilhami para ilmuwan Muslim untuk menambah wilayah-wilayah kajian ilmiah baru yang menggiring pada penemuan-penemuan orisinil di wilayah tersebut.
5.      Objek ontologis sains adalah alam semesta yang bersifat empiris dan bisa diobservasi oleh indra.
6.      Alasan yang biasanya dikemukakan oleh sains modern untuk membatasi objek-objek  ilmu hanya sebatas pada bidang fisik – empiris karena hanya objek itu saja yang bisa diteliti secara objektif dan bisa diverifikasi kebenarannya. Sains modern dibangun dari pandangan sekularistik dan materialistik, yaitu pandangan yang bertumpu pada realitas fisik material dan mengingkari realitas nonfisik – immaterial (realitas metafisik).
B.   Epistemologi Filsafat Sains Islam
1.      Epistemologi atau filsafat pengetahuan pada dasarnya merupakan upaya rasional untuk menentukan nilai kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri sendiri, lingkungan sosial, dan lingkungan alam. Epistemologi berhubungan pertanyaan “bagaimana caranya mendapatkan pengetahuan tersebut?”
2.      Sumber saluran memahami akal ada 3 (perspektif filsafat Islam): indra – indra eksternal, intelek yang tidak terkotori dengan sifat – sifat buruk, wahyu dan inspirasi. Allah Maha Mengetahui kemampuan manusia, sehingga sangat dimungkinkan sekali indra manusia dapat difungsikan sebagaimana yang Allah perintahkan.
a.       Penggunaan indra menggunakan jalan observasi sangat dianjurkan oleh Al Qur’an. Indra merupakan kecakapan (daya), jiwa, dan bukan hanya sekedar kecakapan fisik. Indra manusia antar satu dan lainnya saling keterkaitan sebagaimana hadits bahwa orang muslim satu dan yang lainnya adalah saudara, jika satu sakit yang lainnya ikut merasakan. Karena keterbatasan indra membuat para penemu membuat alat – alat bantu untuk mengatasi keterbatasan indra. Dengan adanya kelemahan – kelemahan indra, maka harus ada solusi dalam menghadapi kelemahan tersebut, yaitu dengan akal.
b.      Untuk memahami alam, seorang harus menggunkan inteleknya. Kelebihan istimewa pada akal terletak pada kecakapan dan kemampuan untuk menangkap esensi dari suatu yang diamati.
c.       Intuisi atau wahyu, yang memiliki semacam ini biasanya mereka yang dianugrahi “fakultas kewalian”. Bakat mental yang membawa seorang kepada tujuan tanpa mengikuti langkah – langkah dan dalam bentuknya yang tertinggi disebut fakultas kewalian. Hal tersebut seperti dialami oleh Ibnu Arabi, Ibn Sina dan lain sebagainya.
C.   Aksiologi Filsafat Sains Islam
1.      Aksiologi menyangkut teori umum tentang nilai, menyelidiki hakikat nilai, dengan pertanyaan “untuk apa pengetahuan tersebut dipergunakan?”
2.      Aksiologi filsafat sains Islam perspektif Mehdi Golshani:
a.       Jika pengetahuan suatu ilmu merupakan persyaratan pencapaian tujuan – tujuan Islam, maka mencarinya adalah sebuah kewajiban.
b.      Masyarakat yang dikehendaki Al Qur’an adalah masyaakat yang agung dan mulia, bukan masyarakat yang tergantung pada orang – orang kafir. Agar terealisasi, maka masyarakat Islam harus benar – benar memiliki kemerdekaan kultural, politik, dan ekonomi.
c.       Al Qur’an menyuruh manusia untuk mempelajari tanda – tanda kekuasaan Tuhan yang ada pada eksternal dan yang ada pada kedalaman – kedalaman batin manusia.
d.      Ilmu yang dipelajari dapat berguna untuk perbaikan kondisi hidup manusia.
3.      Ada perbedaan distingtif antara tujuan sains klasik dan sains barat era modern. Jika sains klasi memiliki istilah science for understanding (sains untuk pemahaman), maka sains modern mengikrarkan aksiologis yang berbunyi science for manupulation (sains untuk manipulasi). Sains demi pemahaman mempunyai tujuan utama yaitu yang benar, yang baik, dan yang indah, sebuah pengetahuan yang akan membawa kepada kebahagiaan dan keselamatan, sebab sains klasik memandang alam sebagai hasil karya Tuhan, sementara sains untuk manipulasi hanya bertujuan untuk material semata.
4.      Perbedaan sains sakral dengan sains sekuler:
Sains Sekuler
Sains Sakral
Menganggap dunia fisik sebagaimana adanya dan melihat tidak ada ruang bagi Tuhan dalam tatanan alam semesta.
Alam semesta diciptakan dan dipelihara oleh Tuhan yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
Berisi spesialisasi/ pemisahan dan menjadikan fragmentasi ilmu. Ilmu memiliki wilayah yang terpisah masing – masing dan tercerabut dari dimensi sakral.
Berusaha menyibak kekuasaan yang mendasari tatanan semesta.
Menganggap kajian hanya pada wilayah fisikal, sehingga wilayah realitas spiritual dianggap tidak ada.
Tidak ada ruang bagi supra-material (ghaib).
Mengabaikan/ menolak gagasan mengenai tujuan alam semesta.
Mempunyai sebuah makna yang melampaui kehidupan. Kehidupan penuh makna maksudnya adalah mengabdi kepada Tuhan.
Mempromosikan netralitas nilai. (menafikkan nilai moral)
Menggabungkan ilmu dengan nilai. (Menjadikan moral sebagai prinsip bagian sains)
Mengontrol dan memanipulasi alam semesa dan masyarakat.
Memperoleh kearifan dan untuk menangani problem –problem individual dan sosial dengan prinsip mengharap ridho Tuhan.
Hanya mampu merespon pertanyaan – pertanyaan spesifik dan tidak mampu melukiskan sebuah gambaran yang komprehensif. Tidak berbicara tentang kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kesengsaraan, Tuhan dan keabadian, tentang makna dan moralitas.
Mencakup wilayah yang komprehensif, maka juga berbicara tentang problem – problem abadi kehidupan umat manusia.

D.  Konklusi: Konstruksi Sains Integral – Holistik

BAB 10 FILSAFAT SEJARAH PERSPEKTIF ISLAM:
STUDI FILSAFAT SEJARAH KRITIS IBNU KHALDUN

A.  Ibnu Khaldun: Sebuah Penghampiran Biografis
1.      Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Kaldun.
2.      Lahir: Tunis (Tunisia sekarang), 27 Mei 1332 M.
3.      Asal keluarga dari Hadramaut (Yaman) dan masih keturunan sahabat Nabi Muhammad saw yang bernama Wail bin Hujr dari Kabilah Kindah. Salah seorang cucu Wail, Khalid bin usman memasuki area Andalusia bersama orang-orang Arab pada awal abad ke-3 H (ke-9 M) lalu membentuk satu keluarga besar diberi nama Bani Khaldun.
4.      Dari kecil sudah menghafal Al Qur’an dan ilmu tajwid. Guru pertama adalah ayahnya sendiri. Pada waktu itu di Tunisia menjadi pusat hijrah ulama’ Andalusia sehingga beliau belajar dari ulama tersebut selain pada ayahnya. Ilmu yang depelajarinya adalah ilmu syari’at. Tetapi masa belajarnya terhenti akibat penyakit pes tahun 749 H di sebagian besar belahan dunia bagian timur.hal tersebut membuat penguasa dan ulama’ hijrah ke Maghrib (Maroko) pada tahun 750 H. Beliau berusaha mendapatkan pekerjaan dan mencoba mengikuti jejak kakeknya dalam bidang politik.
5.      Pada usia 21 tahun, Ibnu Khaldun diangkat menjadi sekertaris Sultan Dinasti Hafs, tetapi karena Sultan kalah maka beliau berhenti. Beliau kembali menarik kepercayaan pada Sultan Abu Anas, penguasa Bani Marin, lalu beliau mendapatkan kedudukan menjadi anggota Majelis Ilmu Pengetahuan, lalu setahun kemudian diangkat menjadi sekertaris sultan.
6.      Berikut perjalanan Ibnu Khaldun:
Tahun
Agenda
Ket
750 H
Hijrah ke Maghrib (Maroko) karena wabah penyakit pes. Mulai mengikuti jejak kakeknya masuk dalm perpolitikan.

751 H
Diangkat sebagai sekertaris Sultan Dinasti Hafs

753 H
Sultan Dinasti Hafs kalah dalam peperangan, dia terdampar di Baskarah (Maghrib bagian tengah), lalu bertemu dengan Sultan Abu Anam (penguasa Bani Marin di Tilmisan)

755 H
Diangkat menjadi anggota Majelis Ilmu Pengetahuan

756 – 763 H
Diangkat menjadi Sekertaris Sultan Abu Anam, diselingi 2 tahun pemenjaraannya karena Wazir Umar bin Abdillah murka padanya.

764 H
Menjadi duta negara di Castilla (kerajaan Kristen yang berpusat di Sevilla)

766 H
Pergi ke Bijaiyah atas undangan penguasa Bani Hafs, lalu diangkat menjadi perdana menteri dan juga berperan sebagai khatib dan guru.

774 H
Pergi ke Fez, karena ketika dekat dengan Abu Hammu beliau menjanjikan dukungan dan oleh Abu Hammu dijanjikan jabatan penting, tapi beliau menolak karena ingin melanjutkan studinya secara otodidak. Tetapi ketika Abu Hammu diusir oleh Abdul Aziz (Bani Marin) lalu berbelok ke Abdul Aziz dan tinggal di Baskara, ketika Abu Hammu kembali merebut Tilmisan maka beliau pergi ke Fez.

776 H
Ketika Fez jatuh ke tangan Sultan Abdul Abas, beliau pergi ke Granada, tetapi sultan menyuruh beliau untuk kembali ke Afrika Utara. Sampai di Tilmisan masih tetap di terima oleh Abu Hammu

777 – 780 H
Menyepi di Qal’at Ibnu Salamah dan menetap. Ditempat itulah beliau menulis kitab monumentalnya Kitan al-‘Ibar wa Duwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fii Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar atau al-‘Ibar (sejarah umum). Berisi 7 jilid. Kitab itu berisi tentag kajian sejarah.

780 H
Kembali ke Tunisia untuk menelaah beberapa kitab bahan reverensi al-‘Ibar

784 H
Pergi ke Iskandaria (Mesir) untuk menghindari kekacauan dunia politik di Maghrib.setelah sebulan di Iskandaria lalu berangkat ke Cairo dan disambut dengan gembira oleh para ulama’. Di Al-Azhar beliau membentuk halaqah, memberi kuliah.

786 H
Raja menunjuk beliau menjadi dosen dalam ilmu fiqih Madzhab Maliki di Madrasah al-Qamhiyah, lalu selang beberapa waktu diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan.

789 H
Menunaikan haji

801 H
Kembali diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan setelah sebelumnya mengundurkan diri dan pergi ke Baitulmaqdits (Yerussalem), lalu selang 3 bulan beliau kembali mengundurkan diri. Beliau menemani sultan ke damaskus, dan ditunjuk lagi menjabat dengan jabatan yang sama, lalu beliau mengemban amanah itu hingga akhir hayatnya.


B.  Pengertian Sejarah
1.      Sejarah (menurut KBBI): (1) Silsilah, asal – usul (keturuhan) (2) kejadian dan peristiwa yang benar – benar terjadi dimasa lampau (3) pengetahuan atau uraian tentang perisiwa – peristiwa atau kejadian – kejadian yang benar – benar terjadi dimasa lampau.
2.      Secara etimologis (menurut R. Moh. Ali):
a.       Sejumlah perubahan – perubahan
b.      Cerita tentang perubahan – perubahan
c.       Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan – perubahan
3.      Sejarah (menurut Ibnu Khaldun):
a.       Sejarah berisi kisah – kisah masa lalu mengenai bangsa, negara, politik, dan peradaban yang dipelajari baik oleh orang – orang besar maupun kecil, raja maupun rakyat jelata, cendekiawan maupun agamawan.
b.      Sejarah merupakan sebuah proses pencarian kebenaran secara mendalam dengan menganalisis asal – usul, substansi, esensi, dan kualitas dari setiap peristiwa holistik.
c.       Pengkajian sejarah harus mempunyai metode yang relevan sehingga mampu menyibak sekaligus memahami watak – watak peradaban atau karakter – karakter spesifik dalam setiap kejadian.
d.      Sejarah bukan benda mati tanpa makna, melainkan memiliki banyak kegunaan bagi siapapun yang mempelajarinya, baik dalam konteks hari ini maupun bagi kepentingan dalam setiap kejadian.
4.      Ibnu Khaldun mengonstruksi makna sejarah dalam bingkai struktur fundamental ilmu yang mencakup aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ibnu Khaldun menyajikan kritik dan data berita yang ada, disamping analisis terhadap berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa.
C.  Kritik Sejarah Ibnu Khaldun
1.      Kritik sejarah mencakup dua aspek, yaitu autensitas (keaslian sumber/ kritik ekstern) dan kredibilitas (kebiasaan/ kritik intern).
2.      Kritik sejarah hanya bisa dilakukan jika benar – benar paham dan jelas terang tentang watak dari peradaban, sebab kritik hanya bisa dilakukan jika yakin apakah kejadian yang diceritakan itu sendiri mungkin atau tidak mungkin. Apabila kejadian yang diceritaka itu tidak mungkin maka tidak perlu lagi diadakan penyelidikan yang kritis terhadap pribadi orang yang menceritakan cerita tersebut.
3.      Para sarjana menolak suatu informasi apabila literalnya tidak masuk akal, bahkan penyelidikan terhadap pribadi penutur cerita merupakan cara yang ditempuh untuk mengetahui latar belakang dari pemikiran penutur. Hal tersebut dilakukan karena jika informasi berkenaan dengan syari’at maka akan berhubungan dengan perintah dan larangan yang ditetapkan. Oleh karena itu mengukur kaslian salah satunya dengan kepercayaan (tsiqoh) terhadap ketelitian dan keadilan para perawi.
4.      Informasi bukan syari’at, kejujuran dan kebenaran haruslah diuji dahulu dengan mempertimbangkan kesesuaian (konfirmitas) atau ketidak sesuaian informasi yang dinukilkan dengan kondisi umum. Nilai dari perintah dan larangan terletak pada perintah dan larangan itu sendiri. Sedangkan nilai informasi tentang suatu peristiwa terletak pada kesesuaian laporan historis dengan kondisi umum.
5.      Metode normatif digunakan untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan yang terdapat pada informasi. Kita harus bisa membedakan mana gejala yang menuru kodratnya sendiri dan mana yang timbul kebetulan. Jika telah menggunakan metode seperti itu, maka dapat mengetahui mana yang bohong dan mana yang batil. Dengan demikian terlihat bahwa Ibnu Khaldun lebih menekankan pada kritik intern dari pada kritik ekstern.
6.      Kritik intern Ibnu Khaldun menguji sejauhmana nilai rasionalitas dan dapat diterima sebuah fakta sejarah, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secar akliyah. Kritik eksternal dilakukan terhadap para perawinya, jika fakta – fakta historis yang disampaikan oleh para penutur sejarah bersifat tidak rasional dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka tidak perlu lagi melakukan kritik ekstern terhadap para penuturnya.
7.      Ibnu Khaldun dalam karya filsafat sejarahnya berupaya melakukan kritik – kritik terhadap fakta – fakta historis yang disampaikan para sejarawan sebelumnya.  Ada tujuh hal yang menurut Ibnu Khaldun menyebabkan banyaknya kebohongan dalam sejarah:
a.       Semangat terlibat kepada pendapat – pendapat madzhab – madzhab.
b.      Terlalu percaya terhadap orang – orang yang menukilkan.
c.       Ketidak sanggupan memahami maksud yang sebenarnya.
d.      Asumsi yang tak beralasan terhadap kebenaran.
e.       Ketidaktahuan tentang bagaiman kondisi – kondisi sesuai realitas.
f.       Adanya fakta bahwa kebanyakan manusia cenderung untuk mengambil hati orang – orang yang berpredikat besar dan berkedudukan tinggi.
g.      Yang membuat kebohongan tidak dapat dihindari serta ketidaktahuan tentang watak berbagai kondisi yang muncul dalam peradaban.
D.  Filsafat Sejarah Kritis Ibnu Khaldun
1.      Kritis Ibnu Khaldun disebabkan karena kekhawatirannya terhadap kelemahan – kelemahan para sejarawan sebelum dirinya. Beliau mempelajari historis secara eksternal tanpa menjelaskan fakta historis sebab – sebab yang berada dibelakangnya. Dalam karyanya Ibnu Khaldun menerangkan hal – ihwal peradaban, urbanisasi, dan ciri hakiki organisasi sosial politik. Sejarah yang ditulis beliau adalah sejarah ilmiah yang berintikan “penelitian, penyelidikan, dan analisisi yang mendalam akan sebab – sebab dan latar belakang terjadinya sesuatu, juga oengetahuan yang akurat tentang asal – usul, perkembangan, dan riwayat hidup matinya kisah peradaban manusia”. Dengan metode tersebut akan diperoleh akar – akar yang sangat kuat dalam tradisi filsafat, dan karenanya layak dinyatakan sebagai salah satu cabangnya. Menurutnya ilmu sejarah pada dasarnya menyampaikan peristiwa – peristiwa yang terjadi dan oleh karenanya bersifat partikularistik. Dengan demikian dapat diketahui tingkat kesesuaian antara kisah – kisah tersebut dengan kenyataan yang terjadi secara faktual, sehingga tidak hanya tahu dimana dan kapan terjadi, tapi juga latar belakang dan faktor penyebabnya.
E.   Konklusi: Melanjutkan Proyek Sejarah Kritis Ibnu Khaldun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar