Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Selasa, 20 Desember 2016

Metode Pendidikan Islam



METODE PENDIDIKAN ISLAM
DALAM BUKU HADITS TARBAWI KARYA BUKHORI UMAR
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok
 Pada Mata Kuliah Hadits Tarbawi Di Semester VII – C


Oleh:
1.      Hasanatul Mutmainah
2.      Amalia Sholihah

Dosen Pengampu :
Dr. Hj. Mihmidati Ya’qub, M.Pd.I


PRODI S-1 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
 AL URWATUL WUTSQO-JOMBANG
2016


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Karena itu, pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.[1]
Sejalan dengan itu, pendidikan pada hakekatnya adalah suatu proses manusia atau peserta didik secara sadar, manusiawi yang terus-menerus agar dapat hidup dan berkembang sebagai manusia yang sadar akan kemanusiannya. Demikian pula kesadaran serta kemampuan melaksanakan tugas dan fungsi kehidupan yang diembannya dengan penuh tanggung jawab. Pendidikan Islam sebagai salah satu sub sistem pendidikan nasional dari sejak dulu secara telaten dan serius melalui lembaga pendidikan formal, non formal dan informal, telah membina dan mencetak sumber daya insani yang handal dan profesional dibidangnya masing-masing menjadi kader dan pemimpin bangsa.
Terwujudnya sumber daya insani yang handal dan profesional dibidangnya bisa diwujudkan dengan metode pendidikan Islam sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW. Banyak sekali metode pembelajaran Islam pada hadits – hadits yang bisa diadopsi guna mewujudkan cita – cita pendidikan Islam, yaitu membentuk insan kamil.
B.  Rumusan Masalah
1.      Apa macam – macam metode pendidikan Islam?
2.      Bagaimana deskripsi dari metode – metode pendidikan Islam?
C.  Tujuan Pembahasan
1.      Mengetahui macam – macam metode pendidikan Islam.
2.      Mengetahui deskripsi dari metode – metode pendidikan Islam.



BAB II
METODE PENDIDIKAN ISLAM

A.  Metode Pendidikan Islam
Banyak sekali metode pendidikan Islam yang bisa digunakan dalam rangka mewujudkan insan kamil sesuai dengan tujuan pendidikan Islam. Adapun metode pendidikan Islam diantaranya adalah:
1.      Metode keteladanan atau demonstrasi
2.      Metode pembiasaan dan hukuman
3.      Metode dialog/ hiwar/ tanya jawab
4.      Metode perumpamaan
5.      Metode ceramah
6.      Metode targhib dan tarhib
7.      Metode pengulangan dan latihan
8.      Metode mauidzah.
B.  Deskripsi Metode – Metode Pendidikan Islam
1.      Metode Keteladanan / Demonstrasi
Dalam mendidik para sahabat, Rasululloh SAW menggunakan metode salah satunya dengan keteladanan. Sehubungan dengan hal ini ditemukan banyak hadist.
a.       Metode keteladanan atau demonstrasi dalam pengajaran kaifiyah sholat
Berkaitan dengan pengajaran kaifiyah sholat, ditemukan hadist berikut.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ{ الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }
وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ نُمَيْرٍ عَنْ أَبِي خَالِدٍ وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عَقِبِ الشَّيْطَانِ

Artinya: Aisyah radhiyallahu'anha dia berkata, "Dahulu Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam membuka shalat dengan takbir dan membaca, 'Al-Hamdulillah Rabb al-Alamin'. Dan beliau apabila rukuk niscaya tidak mengangkat kepalanya dan tidak menundukkannya, akan tetapi melakukan antara kedua hal tersebut. Dan beliau apabila mengangkat kepalanya dari rukuk, niscaya tidak bersujud hingga beliau lurus berdiri, dan beliau apabila mengangkat kepalanya dari sujud niscaya tidak akan sujud kembali hingga lurus duduk, dan beliau membaca tahiyyat pada setiap dua raka'at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan memasang tegak lurus kakinya yang kanan. Dan beliau melarang duduknya setan, dan beliau melarang seorang laki-laki menghamparkan kedua siku kakinya sebagaimana binatang buas menghampar. Dan beliau menutup shalat dengan salam." Dan dalam riwayat Ibnu Numair dari Abu Khalid, "Dan beliau melarang duduk seperti duduknya setan."[2]

            Informasi yang terkandung dalam hadist diatas antara lain adalah rasululloh SAW telah memperlihatkan kepada sahabat kaifiyah (cara-cara) melaksanakan shalat serta urutannya. Penggunaan metode demonstrasi dalam pengajaran kaifiyah sholat ini merupakan hal yang sangat tepat. Hal itu dapat dipahami karena kesesuaian metode dengan kompetensi yang diharapkan dapaat dimiliki oleh peserta didik.
b.      Metode keteladanan atau demonstrasi dalam pengajaraan bacaan shalat
Sehubungan dengan penggunaan metode keteladanan dalam pengajaran bacaan shalat ditemukan hadist berikut.
أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَبَيْنَ الْقِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ هُنَيَّةً فَقُلْتُ بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ إِسْكَاتُكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ قَالَ أَقُولُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Artinya: Abu Hurairah meriwayatkan bahwa biasanya rasululloh SAW diam sejenak antara takbir dan bacaan. Aku bertanya, “demi Ayah dan ibuku, wahai Rasululloh. Apa yang engkau baca dalam keheninganmu antara takbir dan bacaan (al fatihah)?.beliau menjawab, “ aku membaca allahumma ba’id baini wa baina khathayaya kama ba’adta baina al masyriq wa al maghrib. Allahumma naqqini min al khathaya kama nyunaqqa ats tsaub al abyadh min ad-danas. Allahummaghsil khathayaya bi al ma wa ats tsalj al barad. (ya Alloh, jauhkan antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana engkau telah menjaukan timur dan barat. Ya Alloh, bersihkanlah aku dari dosa-dosa sebagaimana kainputih dibersihkan dari kotoran. Ya Alloh, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhori)[3]

            Melalui hadist diatas dapat diketahui bahwa Rasululloh SAW telah memperagakan bacaan do’a iftitah didepan sahabatnya (dalam hal ini Abu Hurairah). Kendatipun bukan ini satu-satunya do’a yang dibaca oleh beliau dalam iftitah, namun yang jelas beliau telah menunjukkan dan memperagakan bacaan tersebut.
c.       Metode keteladanan dalam kedisiplinan waktu penegakan sholat
Ibadah sholat fardhu memiliki waktu tertentu. Setiap muslim harus mengerjakan shalat yang dimaksud pada waktu yang telah ditentukan. Apabila seseorang mengerjakan diluar waktu, maka sholat tersebut dipandang tidak memenuhi persyaratan dan dianggap tidak sah.
Rasululloh SAW telah memberikan keteladanan dalam hal mengerjakan shalat segera setelah waktunya masuk. Beliau meninggalkan segala setelah waktunya masuk. Beliau meninggalkan segala pekerjaannya ketika adzan dikumandangkan. Informasi ini dapat dilihat dari hadist berikut:
عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ قَالَتْ كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
Artinya: Al Aswad meriwayatkan, “aku bertanya kepada Aisyah, “bagaimana keadaan nabi SAW ketika bekerja?, Aisyah menjawab, “ketika beliau bekerja untuk urusan keluarganya, lalu masuk waktu sholat, maka beliau langsung keluar (brhenti bekerja) lalu sholat.” (HR. al Bukhori)

Hadist diatas menginformasikan bahwa: a. rasululloh SAW ikut bekerja mengurus keluarganya. b. ketika waktu sholat telah masuk, beliau langsung meninggalkan pekerjaannya untuk mendirikan sholat.
d.      Metode keteladanan dalam membentuk ketekunan mendirikan sholat
Sholat adalah ibadah yang harus dilaksanakan dengan tekun dan terus menerus. Sholat tidak boleh dilakukan bagaikan kedatangan air banjir, yaitu ketika bersemangat, shalat dilakukan dengan banyak dan baik, tetapi apabila kurang bersemangat, penegakan sholat mengalami penurunan bahkan tertinggal.
Menurut Linda dan Richard Eyre, contoh selalu menjadi guru yang baik dan yang diperbuat seseorang dapat berdampak luas, lebih jelas, serta lebih berpengaruh daripada yang dikatakan. Hal itu mudah dipahami mengingat kecenderungan meniru yang ada pada setia manusia, bukan saja pada anak-anak melainkan juga orang dewasa. Perbedaannya adalah dalam intensitasnya. Orang dewasa meniru sambil menyeleksi dan memodifikasi seperlunya. Lain halnya anak-anak. Menurut Ramayulis, dalam segala hal, anak merupakan peniru yang ulung. Sifat meniru ini merupakan modal yang positif dalam pendidikan keagamaan pada anak.
Teori pendidikan yang dikemukakan oleh Ahmad Tafsir. Menurutnya, keteladanan itu ada dua macam, yaitu sengaja dan tidak sengaja. Keteladanan yang disengaja adalah keadaan yang sengaja diadakan oleh pendidik agar diikuti atau ditiru oleh peserta didik. Keteladanan yang tidak sengaja adalah keteladanan dalam keilmuwan, kepemimpinan, dan keikhlasan. Dalam pendidikan islam, kedua macam keteladanan tersebut sama pentingnya. Keteladanan yang tidak sengaja dilakukan secara informal, sedangkan yang disengaja dilakukan secara formal.
2.      Metode pembiasaan dan hukuman
a.       Metode pembiasaan
Sehubungan dengan penggunaan metode pembiasaan dalam pendidikan, dapat dilihat hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud yang artinya: Dari Amru bin Syu’eib dari ayahnya dari kakeknya, Rasululloh SAW berkata, “suruhlah anakmu mendirikan sholat ketika berumur 7 tahun dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika ia berumur 10 tahun. (pada saat itu), isahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Hadist diatas menginformasikan beberapa hal, yaitu, a. orang tua harus menyuruh anak mendirikan sholat ketika mulai berumur 7 tahun. b. setelah berumur 10 tahun ternyata anak meninggalkaan sholat, maka orang tua boleh memukulnya. c. pada usia 10 tahun iu juga, tempat tidur anak harus dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, juga antara anak dan orang tuanya.
Belajar kebiasaan adalah proses pembentuakan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, suri teladan, serta pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman daan ganjaran. Tujuannya agar siswa memperoleh perbuatan baru yang lebih tepat, positif, serta selaras dengan kenutuhan ruang dan waktu (kontekstual)
Dari segi hokum, anak berusia 7 tahun belum termasuk mukallaf. Diantara usia 7 tahun dan mukallaf itu trdapat masa lebih kurang 7 atau 8 tahun. dengan demikian, dapaat dipahami bahwa Rasulullah menyuruh anak usia 7 tahun mendirikan sholat dengan maksud membiasakan mereka agar setlah mukallaf nanti, anak tidak meras keberatan untuk melakukannya.
Pembiasaan yangdilakukan oleh orang tua terhadaap anaak dalam mendirikan sholat harus dilaksanakan secara bertahap dan disiplin. Sebagai contoh dapat dikemukakan sebuah model penahapan. Orang tua membiasakan anak usia 7 tahun mengeerjakan sholat maghrib. Anak harus mengerjakan sholat maghrib secara disiplin, sedangkan sholat yang lain belum disuruh.
Selain metode pembiasaan, hadist diatas juga memuat metode hukuman. Rasululloh SAW menyuruh orng tua memukul anak apabila meninggalkan sholat setelah berusia 10 tahun.
Anak yang telah berusia 10 tahun tetapi masih meninggalkan shalat, dipandang telah melakukan pelanggaran. Oleh sebab itu, sepantasnya orang tua memberikan hukuman. Hal itu dimaksudkan agar anak menyadari kesalahannya sehingga tidak mau lagi mengulangi kesalahan tersebut. Prinsip pokok dalam mengaplikasikan pemberian hukuman yaitu bahwa hukuman adalah jalaan yang terakhir dan harus dilakuakn secara terbatas serta tidak menyakiti anak didik. Tujuan utama dari pendekatan ini aadalah untuk menyadarkannya dari kesalahan-kesaalaahaan yang ia lakukan.
Suatu hal yang perlu dikemukakan disisn adalah bahwa hukuman yang menyakiti anak didik tudak dapat dileitimaasi dan dasar untuk melaksanakan aksi KDRT. Hal itu berdasarkan beberapa alasan, yaitu sebagai berikut:
a.       Pukulan anak diperintahkan oleh Rasululloh SAW itu dalam kerangka kasih saying, bukan menyakiti, melukai dan menimbulkan dendam
b.      Sifat daan perlaakuan kasar bertentangan dengan kepribadian Rasululloh SAW
3.      Metode dialog atau hiwar atau Tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah penyampian pelajaran dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab. Dengan kata lain, suatu metode didalam pendidikan dimana guru bertanya dan murid menjawab tentang materi yang ingin diperolehnya. Engertian lain dari metode taanya jawab adaalaah cara enyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada murid atau dapat juga dari murid kepada guru.
Metode dialog (Tanya jawab) baik digunakan dalam pembelajaran karena memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan tersebut adalah:
a.       Situasi kelas akan hidup karena anak-anak aktif berpikir dan menyampaikan buah ikirannya
b.      Melatih anak agar berani mengungkapkan pendapatnya
c.       Timbulnya perbedaan pendapat diantara anak didik akaan menghangatkan proses diskusi
d.      Mendorong murid lebih aktif dan bersungguh-sungguh
e.       Walaupun agak lambat, guru dapat mengontrol pemahaman murid pada masalah-masalah yang dibicarakan
f.       Pertanyaan dapat membangkitkan anak menilai kebenaran sesuatu
g.      Pertanyaan dapat menarik perhatian anak
h.      Pertanyaan dapat melatih anak untuk mengingat
i.        Pertanyaan dapat memusatkan perhatiaan siswa
j.        Mengembangkan keberaniaan serta ketrampilan siswa dalaam menjawab sekaligus mengemukakan pendapat
4.      Metode perumpamaan
Perumpamaan berarti pemberian contoh, yaitu menuturkan sesuatu guna menjelaskan suatu keadaan yang selaras dan serupa dengan yang dicotohkan, lalu menonjolkan kebaikan dan keburukan yang tersamar. Ada 4 golongan manusia apabila dihubungkan dengan al-Qur’an yaitu:
a.       Orang yang hatinya dipenuhi oleh iman. Iman mengalir kesekujur tubuhmya. Ia yakin kepada Alloh, beriman kepada rasul-Nya, membenarkan al-Qur’an, mengamalkan agama, menjadikan dirinya bagian dari al-Quran. Ia bagaikan buah utrujjah, aromanya harum dan rasanya manis.
b.      Orang yang beriman kepada al-Qur’an, menerapkan hukumnya, mengikuti petunjuknya, dan menerapkan akhlaknya tetapi tidak mebaca dan menghapal al-Quran. Ia bagaikan buah kurma yang manis, tetapi aromanya tidak ada.
c.       Orang jahat (munafik) yang tidak memiliki iman, kecuali sekadar di lisan. Agamaanyaa hanyaalah merek. Ia membaca al-Qur’an, mnghafalnya dengan baik, meyakini syariatnya, mengenal bacaannyaa, serta membaguskan lafal dan iramanya, etapi baacaannyaa itu tidak melampaui kerongkongannya. Inilah yang dicontohkan oleh rasululloh SAW dengan buah raihanah. Apabila dicium aromanya harum, tetapi apabila dimakan rasanya pahit
d.      Orang jahat (munafik) yang tidak ada hubungannya dengan al-Qu’an. Ia tidak memiliki ilmu tentang al-Qur’an, tidak mengamalkannya, tidak membacaa, dan tidak menghafalnya. Orang ini disamakan oleh Rasululloh SAW dengan buah hanzhalah yang tidak beraroma dan rasanya pahit.
Berdasarkan dari perumpamaan diatas terdpat nilai-nilai pendidikan sebagai beerikut:
a.       Rasululloh SAW mengemukakan perbandingan kualitas manusia dengan buah-buahan yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat dalam kehidupaan manusia. Itu sekaligus merupakan alternative bagi manusia untuk menempatkan dirinya
b.      Dalam mendidik umat, rasululloh menggunakan pendekataan rasional dan fungsional
c.       Iman yang benar perlu dibuktikan dengan aamal yang sholeh. Amal yang baik perlu dilandasi oleh iman yang benar.
5.      Metode ceramah
Menurut Zuhairi dkk, metode ceramah adalah suatu metode didaalam pendidikan dimana cara penyampaian materi-maateri pelajaran kepada anak didik dilakukan dengan caaraa penerangan dan penuturan secar lisan. Sejak zaman Rasululloh, metode ceramah merupakan caraa yang pertama dilakukan dalam penyapaian wahyu kepadaa umatnya.
Menurut Armai Arief, sebagai salah satu metode pembelajaran, metode ceramah memiliki sejumlah kelebihan yaitu:
a.       Suasana kelas berjalan dengan tenang karena murid melakukan aktivitas yang sama, sehingga guru dapat mengawasi murid secara komprehensif
b.      Tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan aktu yang lama
c.       Pelajaraan dapat dilaksanakan dengan cepat, karena dalam waktu yang sedikit dapat diuraikan bahan yang bayak.
d.      Melatih para pelajar untuk mnggunakan pendengarannya dengan baik sehingga mereka dapat menangkap dan menyimpulkan isi ceraamah dengan cepat dan tepat
Untuk mengantipasi kepasifan daan kejenuhan peserta didik karena metode ceramah, pendidik perku mengombinasikan ini dengan menggunakan metode-metode yang relevan
6.      Metode targhib dan tarhib
Targhib adalah janji yang disertai bujukan dan rayuan untuk menunda kemaslahatan, kelezatan dan kenikmatan. Namun, penundaan itu bersifat pasti, baik, murni, dan dilakukan melalui amal saleh atau pencegahan diri dari kelezatan yang membahayakan (pekerjaan buruk)
Sementara itu, tarhib adalah ancaman atau intimidasi melalui hukuman yang disebabkan oleh terlaksananya sebuah dosa, kesalahan, atau perbuatan yang telah dilarang Alloh SWT. Tarhib dapat diartikan sebagai ancamn dari Alloh SWT untuk menakut-nakuti hambaa-hambanya melalui penonjolan kesalahan atau penonjolan salah satu sifat keagungan dan kekuatan ilahiah agar mereka teringatkan untuk tidak melakukan kesalahan dan kemaksiatan.
Rasululloh SAW melakukan cara belajar seperti diajarkan dalam al-Quran. Selain membujuk manusia, beliau juga menggunakan ancaman untuk membangkitkan moivasi manusia supaya taat kepada Alloh SWT dan rasul-Nya.
Pendidik islam seyogianya menggunakan metode targhib dan tarhib ini secara berimbang. Jangaan hanya menggunakan targhib saja, sedangkan tarhib diabaikan. Jangan pula sebaliknya. Mana yang lebih besar porsinya dapat ditentukan setelah melihat karakter peserta didik.

7.      Metode pengulangan dan latihan
Pengajaran memerlukan banyak pengulangan. Pengulangan bahan yang telah dipelajari akan memperkuat hasil belajar. Pengulangan dalam proses belajar mengajar berlandaskan kepada dua hal, yaitu:
a.       Individu pada umumnya kecenderungan meniru orang lain, apalagi orang yang ditiru cukup berpengaruh.
b.      Peniruan dan pengulangan meperhatiak efektivitas yang tinggi. Nabi Muhammad ketika menerima wahyu yang pertamaa dalam keadaan meniru dan mengulang apa yng disampaikan oleh jibril.
Dalam pelaksanaannya, pengulangan dapat dilakukan sebelum pemberian materi pelajaran dan dapat pula sesudah penyampaian bahan pelajaran. Pengulangan yang dilakukan sebelum penyampaian materi pelajaran dimaksudkan untuk mngetahui tingkat penguasaan peserta didik sehubungan dengan materi yang akan diajarkan dan dapat pula untuk meningkatkan daya konsentrasi peserta didik teerhadap materi yang akan diaajarkan. Pengulangan yang dilakukan setelah pemberian materi dimaksudkan untuk mempertinggi penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang sudah diterima.
Menurut Ali al Jumbulati, psikologi modern memandang bahwa pengulangan merupakan salah satu metode belajar yang baik, karena dapat memperbaiki pengetahuan pada tahap permulaan yang bersifat global.
8.      Metode Mauizhah
Metode mauizhah adalah mengingatkan seseorang terhadap sesuatu yang dapat meluluhkan hatinya dan sesuatu itu dapat berupa pahala atau siksa, sehingga ia menjadi ingat.
Abdurrahman An-Nahlawi mengemukakan bahwaa dari sudut psikologi dan pendidikan, pemberian nasihat itu menimbulkan beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
a.       Membangkitkan rasa ketuhanan yang telah dikembangkan dalaam jiwa setiap peserta didik melalui dialog, pengalaman ibadah, ataau praktik.
b.      Membangkitkan keteguhan untuk senantiasaa berpegang pada pemikiran ketuhanan yang sehat
c.       Membengkitkan keteguhan untuk berpegang pada jamaah yang beriman
d.      Penyucian dan pembersihan diri yang merupakan salaah satu tujuan utamaa dalam pendiddikan islam
Memberikan mauizhah atau nasihat merupakan pekerjaan penting dan sering kali efektif dalam pendidikan isslam. Akan tetapi, banyak orang yang tidak menggunakannya, bahkan juga orang tua. Seyogianya, pendidik banyak menggunakan ibrah (nasihat) yang menyentuh, menyejukan hati, dan menggugah emosi peserta didik seperti yang dicontohkan oleh Rasululloh SAW



BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.      Adapun macam – macam metode Pendidikan Islam antara lain:
a.       Metode keteladanan atau demonstrasi
b.      Metode pembiasaan dan hukuman
c.       Metode dialog/ hiwar/ tanya jawab
d.      Metode perumpamaan
e.       Metode ceramah
f.       Metode targhib dan tarhib
g.      Metode pengulangan dan latihan
h.      Metode mauidzah.
2.      Berikut deskripsi dari metode pendidikan Islam:
a.       Metode keteladanan atau demonstrasi, dalam hal ini Rasulullah mencontohkan seperti dalam pengajaran kaifiyah sholat, bacaan sholat, kedisiplinan waktu penegakan sholat, membentuk ketekanan mendirikan shalat.
b.      Metode pembiasaan dan hukuman, dicontohkan oleh Rasulullah antara lain cara mendidik anak untuk shalat, ketika sudah 10 tahun boleh dipukul dengan ketentuan.
c.       Metode dialog/ hiwar/ tanya jawab, penyampaiannya dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab.
d.      Metode perumpamaan, menuturkan sesuatu guna menjelaskan suatu keadaan yang selaras dan serupa dengan yang dicontohkan, lalu menonjolkan kebaikan dan keburukan yang tersamar.
e.       Metode ceramah, suatu metode didaalam pendidikan dimana cara penyampaian materi-maateri pelajaran kepada anak didik dilakukan dengan caaraa penerangan dan penuturan secar lisan.
f.       Metode targhib dan tarhib. Targhib adalah janji yang disertai bujukan dan rayuan untuk menunda kemaslahatan, kelezatan dan kenikmatan. tarhib adalah ancaman atau intimidasi melalui hukuman yang disebabkan oleh terlaksananya sebuah dosa, kesalahan, atau perbuatan yang telah dilarang Alloh SWT.
g.      Metode pengulangan dan latihan, dilakukan sebelum pemberian materi pelajaran dan dapat pula sesudah penyampaian bahan pelajaran.
h.      Metode mauidzah, mengingatkan seseorang terhadap sesuatu yang dapat meluluhkan hatinya dan sesuatu itu dapat berupa pahala atau siksa, sehingga ia menjadi ingat.



DAFTAR PUSTAKA
al-Qardhawi, Yusuf. Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna. terj. Jakarta: Bulan Bintang. 1980.
Umar, Bukhari. Hadits Tarbawi. Jakarta: Amzah. 2016.


[1] Yusuf al-Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, terj (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), 157.
[2] HR. Muslim No. 768.
[3] HR. Bukhari No. 702

Tidak ada komentar:

Posting Komentar