Memaafkan bukan berarti menyetujui perlakuan buruk
seseorang terhadap kita. Perlakuan buruk tetaplah buruk, tak layak dilakukan
oleh siapapun dan ditujukan kepada siapapun. Memaafkan sejatinya mencegah
dampak perlakuan buruk itu bercokol dalam diri. Memaafkan berarti mencegah
seseorang terus menerus mempermainkan emosi kita, membuat kita terkungkung rasa
marah dan terluka. Kita sering berfikir bahwa dengan tidak memaafkan berarti
kita membalas rasa sakit hati pada orang lain. Padahal justru menyakiti diri
sendiri. Meski memaafkan tidak mudah, bahkan teramat sulit bagi umumnya orang,
namun dibalik setiap ada kesulitan pasti ada kebaikan. Jika kita memilih
memaafkan, Allah menyediakan pahala yang besar. “Dan balasan suatu kejahatan
adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik,
maka pahalanya dari Allah. dan sesungguhnya Dia tidak menyukai orang – orang
yang dzolim.” (QS. As-Syuura: 40). Jadi bila disakiti, bisa saja kita memberi
balasan yang setimpal. Tapi firman-Nya “Orang yang bersabar dan memaafkan,
sesungguhnya demikian itu termasuk hal – hal yang diutamakan.” (QS. As-Syuura:
43) Memaafkan bukan berarti kita lemah, tapi karena Allah-lah yang membuat hati
kita kuat dalam menghadapi ujian itu ketika bisikan – bisikan dendam terus
menerus menyerang, tetapi dengan memaafkan akan membuat hati menjadi lebih
muthmainnah.
Setiap manusia pasti tempatnya salah dan lupa, kita harus
menyadari itu. Kita bukanlah seorang manusia yang terjaga dari perbuatan dosa
seperti Rasulullah SAW atau manusia pilihan Allah yang lain. Tapi jangan sekali
– kali menjadikan alasan bahwa manusia adalah tempat salah menjadi alasan dan
tembakan jitu ketika kita berbuat salah kepada orang lain. Kita seharusnya malu
ketika berbuat salah, bukan malah meminta memaklumi bahwa kita memang tempatnya
salah, atau bahkan menyalahkan sifat lemah kita dihadapan orang lain. Jika
seperti itu, sama dengan kita menyalahkan Allah. Na’udzubillah. Ketika
kita salah, maka hendaklah memperbaiki diri dan tidak lagi jatuh kelubang kesalahan
yang sama. Mengakui kesalahan adalah sifat ksatria, akuilah kesalahan itu.
Malulah jika berbuat salah dan selalu menahan diri untuk tidak melakukan
kesalahan yang sama. Bisa jadi ketika seseorang yang kita sakiti memaafkan
kita, tetapi ada Allah yang tidak ridho jika hamba yang disayang-Nya disakiti
oleh makhluk-Nya yang lain. Siapa tahu orang yag kita sakiti adalah seorang waliyullah?
Siapa tahu orang yang kita sakiti adalah orang yang sudah dijamin surga? Siapa
tahu orang yang kita sakiti akan membuat kita kekal dineraka selamanya? Na’udzubillah.
Wahai hati, mari belajar memaafkan, mari belajar menahan
lisan untuk tidak berkata buruk, mari menjaga sikap untuk tidak menyakiti orang
lain. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita panen.
Jombang, 24 Desember 2016.
Perpustakaan Tebuireng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar