Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Sabtu, 24 Desember 2016

Memaafkan Itu...



Memaafkan bukan berarti menyetujui perlakuan buruk seseorang terhadap kita. Perlakuan buruk tetaplah buruk, tak layak dilakukan oleh siapapun dan ditujukan kepada siapapun. Memaafkan sejatinya mencegah dampak perlakuan buruk itu bercokol dalam diri. Memaafkan berarti mencegah seseorang terus menerus mempermainkan emosi kita, membuat kita terkungkung rasa marah dan terluka. Kita sering berfikir bahwa dengan tidak memaafkan berarti kita membalas rasa sakit hati pada orang lain. Padahal justru menyakiti diri sendiri. Meski memaafkan tidak mudah, bahkan teramat sulit bagi umumnya orang, namun dibalik setiap ada kesulitan pasti ada kebaikan. Jika kita memilih memaafkan, Allah menyediakan pahala yang besar. “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya dari Allah. dan sesungguhnya Dia tidak menyukai orang – orang yang dzolim.” (QS. As-Syuura: 40). Jadi bila disakiti, bisa saja kita memberi balasan yang setimpal. Tapi firman-Nya “Orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya demikian itu termasuk hal – hal yang diutamakan.” (QS. As-Syuura: 43) Memaafkan bukan berarti kita lemah, tapi karena Allah-lah yang membuat hati kita kuat dalam menghadapi ujian itu ketika bisikan – bisikan dendam terus menerus menyerang, tetapi dengan memaafkan akan membuat hati menjadi lebih muthmainnah.

Setiap manusia pasti tempatnya salah dan lupa, kita harus menyadari itu. Kita bukanlah seorang manusia yang terjaga dari perbuatan dosa seperti Rasulullah SAW atau manusia pilihan Allah yang lain. Tapi jangan sekali – kali menjadikan alasan bahwa manusia adalah tempat salah menjadi alasan dan tembakan jitu ketika kita berbuat salah kepada orang lain. Kita seharusnya malu ketika berbuat salah, bukan malah meminta memaklumi bahwa kita memang tempatnya salah, atau bahkan menyalahkan sifat lemah kita dihadapan orang lain. Jika seperti itu, sama dengan kita menyalahkan Allah. Na’udzubillah. Ketika kita salah, maka hendaklah memperbaiki diri dan tidak lagi jatuh kelubang kesalahan yang sama. Mengakui kesalahan adalah sifat ksatria, akuilah kesalahan itu. Malulah jika berbuat salah dan selalu menahan diri untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Bisa jadi ketika seseorang yang kita sakiti memaafkan kita, tetapi ada Allah yang tidak ridho jika hamba yang disayang-Nya disakiti oleh makhluk-Nya yang lain. Siapa tahu orang yag kita sakiti adalah seorang waliyullah? Siapa tahu orang yang kita sakiti adalah orang yang sudah dijamin surga? Siapa tahu orang yang kita sakiti akan membuat kita kekal dineraka selamanya? Na’udzubillah.
Wahai hati, mari belajar memaafkan, mari belajar menahan lisan untuk tidak berkata buruk, mari menjaga sikap untuk tidak menyakiti orang lain. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita panen.

Jombang, 24 Desember 2016.
Perpustakaan Tebuireng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar