Jombang, 19 Oktober 2016.
Alhamdulillah...
Mereka yang telah terbiasa berjalan dijalan dakwah tidak
akan tenang jika dia duduk santai dan bercanda ria tanpa melakukan sesuatu yang
bermanfaat untuk kemaslahatan orang lain (umat). Bahkan malam hari ketika yang
lain terlelap, mereka masih memikirkan orang lain (umat), “apa yang dapat saya
lakukan untuk kepentingan orang lain esok hari?” atau ketika sudah larut malam,
mereka mengerjakan hal-hal yang tidak dikerjakan oleh kebanyakan orang. Tidak
perlu berbangga diri, bersenang-senang, dan seterusnya. Toh kita sekarang
berada di alam ujian, di alam menanam, maka kita harus memperbanyak menanam
kebaikan, in syaa Allah buah yang kelak dipanen juga kebaikan dari sisi Allah.
Betapa luar biasa sekali kenikmatan yang berasal dari sisi Allah? Bagaimana
cara mendapatkannya? Perbanyak dzikrullah, semangat dalam menjalankan perintah
Allah, memperbanyak berbuat kebaikan, meminimalisir merepotkan orang, bersusah
payah dalam kebaikan sebab yang bersusah payah itulah yang kelak akan
mendapatkan derajat lebih disisi Allah, mensyukuri
segala nikmat yang Allah berikan kepada diri kita yang berwujud senang maupun
susah dan sebagainya.
Kita sadari bahwa gerakan-gerakan yang ada dalam hati
kita selalu disaksikan oleh Allah. Qalbu adalah tempat berma’rifat kepada Allah
dengan cara bertafakkur, maka mari kita belajar selalu bertafakkur sehingga
kita selalu diberi kemudahan dalam bertafakkur, kita mencontoh ulama’ meskipun
kita belum bisa ma’rifatullah seperti ulama’.
Kita beriman dengan yang ghoib, yakin terhadap yang
ghoib. Yang ghoib hanya bisa ditangkap dengan hati, karena hati yang bisa
menerima kelembutan-kelembutan spiritual yang tidak dapat dirasakan oleh
indera. Ghoib bukan berarti tidak ada. Kita belajar selalu mengingat bahwa
gerakan-gerakan hati kita dilihat oleh Allah, Allah lah yang menggerakkan hati
kita. Jangan sampai hati kita kalah dengan nafsu. Media melihat dan dilihat
Allah adalah hati, bahkan mulia atau hinanya seseorang dilihat dari hatinya,
ikhlas tidak hatinya dalam menjalankan apa yang diperintahkan Allah. Hati
ulama’, Nabi dikatakan yatim. Mengapa? Karena hanya Allah yang memelihara hati
beliau-beliau, subhanallah. Semoga hati kita selalu tunduk terhadap perintah
Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar