Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Kamis, 15 September 2016

Memaknai yang Terjadi



Memaknai yang terjadi.

Terkadang apa yang ada dalam hati tidak semuanya harus tertuang dalam setiap perkataan, terkadang dengan perkataan memang sengaja berusaha menutupi setiap makna dari sebuah hati. Merasa malu mengakui apa yang ada dalam hati. Seperti sahabat saya yang menyayangi seseorang, tetapi dia memilih diam, atau berusaha mengatakan tidak dihadapan saya, padahal saya tahu betul betapa sayangnya dia kepada sahabat saya yang satunya. Bahkan terkesan menolak setiap omongan yang membuatnya harus mengakui hatinya, tapi lantas malah perkataannya seperti tidak membutuhkan sahabat saya yang satunya itu, iya seperti kebalikannya, dia tidak ingin diketahui perasaannya.

Menyayangi seseorang tidak lantas mengumbar kata sayang dalam setiap kata, tapi lebih bermakna dari itu, yaitu mewujudkannya dengan tindakan nyata. Seorang yang berilmu tidak akan mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya, tetapi dia beramal dengan ilmu itu. Tindakan cukuplah memberikan sebuah keteladanan, bukan lantas berkata seperti menggurui seseorang.

Dalam tenang, perlahan akan bisa meresapi sebuah makna dalam kehidupan. Tenang, memandang keluar jendela, mentafakkuri setiap inci dari ciptaanNya sambil menikmati nikmat berupa sakit dan belajar ridho menerima setiap kebaikan atau kekurangan karena itulah nikmat dari Allah, entah kita ridho atau tidak sakit ini akan dirasakan, bukankah lebih baik kita ikhlas, ridho dan sabar? meski Allah menampakkan kepada kita dengan nikmatNya yang berbeda, tapi perbedaan itulah yang menjadi keseimbangan.

Seperti sebuah timbangan yang akan sejajar jika memiliki bobot yang sama antara utara dan selatan. Seperti magnet yang kedua ujungnya berjauhan, tetapi ketika berdekatan, hingga tak dapat dipisahkan. Bicara tentang timbangan, saya mengingat pertanyaan yang sering muncul

“berat mana kapas 50 kg dengan besi 50 kg?”.

Seorang yang memandang sebelah mata sebuah perbedaan tentu akan menjawab “besi”, padahal hakikatnya seimbang atau sama. Memilih antara Laptop atau notebook, hampir sama tetapi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika ingin memutar vcd dengan laptop akan langsung bisa, tetapi jika menggunakan notebook kita membutuhkan cdroom. Seperti itulah.

Begitu pula dengan kehidupan kita, butuh penyeimbang. Nikmat yang Allah berikan kepada kita bukan hanya berupa keindahan, kemewahan, dan sebagainya. Adanya sakit, musibah, dan lainnya akan menjadi penyeimbang, bisa saja kita akan menjadi orang yang sombong jika kita ditakdirkan mendapatkan kenikmatan saja seperti Fir’aun yang tidak pernah sakit lantas dia mengaku sebagai tuhan, bisa jadi kita akan menjadi tukang mengeluh dan mengingkari nikmat Allah jika kita diberikan musibah terus menerus.

Allah Maha Mengetahui segala yang tebaik untuk kita. Kita hanya diperintah untuk berdo’a meminta kepadaNya. Jika Allah memberikan nikmat yang berupa sakit, kita harus ridho, bersyukur, dan sabar. Karena itulah Maha SayangNya. Seseorang berkata kepada saya tentang apa itu menyayangi dengan kaffah dalam konteks tertentu. Menyayangi seseorang jangan lantas hanya melihat kelebihannya, tapi kita juga harus menerima setiap kekurangannya. Menjadikan kekurangan sebagi daya tarik paling tinggi bukan karena kelebihannya. Perkataan yang sangat bermakna dalam bagi saya. Allah masih menempelkan lekat dibenak saya.

Setiap kekurangan yang terlihat oleh orang lain, itulah memang wujud asli dari nafsu kita, tetapi jika Allah memperlihatkan kebaikan kita kepada orang lain, maka Allah telah menutup aib kita kepada orang lain, itulah Maha Sayang Allah kepada kita. Saya teringat sebuah kejadian, setelah selesai mencuci baju, orang tersebut duduk sambil melihat film kartun, dari balik pintu ada tamu, sontak dia langsung mengucapkan istighfar dan lari kedalam kamar karena tidak mengenakan jilbab didalam rumah. Iya, memang begitu seharusnya, kita merasa malu jika aurat kita terlihat orang lain, apalagi wanita. Bukan hanya aurat yang seperti kita pelajari dalam pelajaran PAI, tetapi makna aurat bisa lebih luas dari itu.

Dengan adanya media sosial banyak sekali aurat yang terpajang disana. Dan dengan bangganya mengupdate ke-publik. Jika dipikir, apa manfaatnya? Apakah untuk mendapatkan pujian? Ataukah ingin mendapatkan perhatian? Ataukah ada niatan yang lain? Tentunya setiap orang akan berbeda dalam mentafsirkannya, karena ini sudut pandang pribadi, (maasyaa Allah, batapa Agungnya Dia yang menjadikan setiap pemikiran atau sudut pandang manusia tak semuanya sama.)

Bukankah lebih baik setiap yang diupdate adalah kebaikan agar dapat memberi inspirasi kepada orang lain untuk selalu berbuat kebaikan? Bukankah itu dapat menjadi investasi akhirat kita? Alhamdulillah, Allah masih memberikan ingatan ini kepada saya, saat ngaji, seorang ustadz menyinggung sedikit tentang “Tembok Ratapan” yang dimiliki oleh orang Yahudi di Yerussalem sana. Sekarang ada yang lebih modern lagi, sebut saja facebook. Banyak sekali dari kita yang meratap disana, mengumbar aib diri sendiri bahkan orang lain, memperlihatkan nafsu dengan bangga, mengolok orang lain seperti merasa dirinyalah yang paling baik. Padahal jika kita lihat dalam hati nurani kita, perkataan yang buruk itulah yang menunjukkan busuknya hati kita.

Lantas jika kita tarik kesimpulan, berapa banyak hati yang telah busuk, dan betapa busuknya hati kita yang mengatakan keburukan kepada orang lain? Mari perbaiki hati, ingat sabda Rasulullah tentang hati? Didalam tubuh ada segumpal darah, jika dia baik makan akan baik tubuh kita, nah jika segumpal darah itu busuk? Betapa busuknya kita? Jika bau busuk itu memang tercium, siapakah yang akan mau berteman dengan kita? Tak perlu berteman, mungkin tidak ada seorangpun yang mau mendekati kita bahkan akan jijik jika melihat kita. Semoga bermanfaat.

Kamis, 15 September 2016.
di Jalur Babat – Jombang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar