Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Selasa, 01 Maret 2016

Kau + Aku = Kita



Allah, ku pasrahkan segalanya kepadaMu, dia milikMu, hamba tak pantas untuk dirinya, hamba hanya seorang yang berkali-kali jatuh kekubangan dosa dimasa silam. Ya Allah, jika memang ini adalah cinta, hamba mohon, tautkanlah cinta ini kepadaMu saja, bukan kepadanya. Tapi jika Engkau menakdirkannya untuk hamba, hamba akan mencintainya karenaMu setelah akadnya mengguncang arsyMu. Allah, Engkau Maha Mengetahui kalo sekarang hamba takut untuk mencintai seseorang, hamba takut maksiat didalam hati ini akan membuat hamba tidak sampai pada ridhoMu, hamba juga takut seseorang yang Engkau takdirkan nantinya juga melakukan hal seperti hamba terdapat maksiat pada hatinya. Memang meski kadang usaha untuk menjaga hati dari maksiat sangat susah, tapi hamba selalu bangun ketika terjatuh didalam kubagan maksiat hati itu. Allah, Engkau tahu kalau hamba hanya seorang yang mudah cemburu, egois dan masih kekanak-kanakan, hamba pastinya sangat cemburu sekali ketika dia yang Engkau takdirkan untuk hamba sedang menautkan hatinya pada seseorang sekarang. Hamba tidak ingin semua itu terjadi, maka tautkanlah hati hamba hanya kepadaMu saja, karena maksiat hati memang sangat menyakitkan sekali.

Wahai engkau yang ditakdirkan Allah untuk menjadi penyempurna separuh agamaku. Tak perlu engkau risau tentang siapa jodohmu sekarang, fokuslah pada usahamu menghalalkanku, membahagiakan orang tuamu yang sudah ingin menimang cucunya yang kelak akan menjadi mujahid-mujahidah yang tangguh. Meski engkau bukan orang yang sempurna, tapi aku akan menerima semua kekuranganmu, karena aku juga tidak memiliki kesempurnaan. Aku akan mencintaimu, menaatimu karenaNya, engkau adalah pilihanNya yang telah diutus untuk membimbingku, menjadi parner ibadahku, menjadi sahabat, menjadi suami yang juga akan membimbing para calon mujahid mujahidah kita kelak. Tetaplah berusaha disana, aku disini masih menunggumu, entah hingga beberapa waktu. Kau tau, bahwa umur ini memang sudah layak untuk menimang seorang mujahid/mujahidah, tapi sekarang aku masih perlu banyak belajar agar kelak bisa membimbing anak kita agar memiliki ketaqwaan dan taat kepada kedua orangtuanya. Kau dan aku. Akan menjadi kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar