Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Selasa, 01 September 2015

Puisi: Satu September



Satu September
Oleh:; Hasanatul Mutmainah

Malam yang hening, tiada hewan malam bersua.
Hanya dengkuran sang waktu terdengar nyata.
Tanda tanya besar yang bersembunyi dibalik pikir.
Seperti angin yang berhembus bebas dan menumbangkan sejuta daun kering dari tangkainya.
Menyapu hingga tersebar dan terhenti disela tempat.
Kadang terinjak, kadang terpendam, kadang pula terbakar.
Tenang... bendung damai dalam sebuah tetesan dan mengalir begitu sejuk.
Terpancar bulan diantara sunyinya sebuah harapan yang menjerit dalam.
Dosa terasa terkumpul dan  kaburkan pandangan diantara denyut waktu.
Satu September
Biarkan sang pangeran bertabur senyum manjanya dengan yang lain.
Karena sang kupu-kupu tak bisa menjanjikan apapun diatas kecukupan.
Tak bisa menoreh cerita diatas cerita.
Satu September
Kesunyian yang terdengar menggema sayup akan kata.
Menjadi gundahnya dengan tetesan hujan diujung bulan
Rintik yang menghujam jiwa isak kalbu akan do’a.
Satu September
Dalam kiasan begitu nyata, terangkai sempurna dari setiap goresan semu.
Melebur semua angan yang menusuk relung jiwa.
Melupakan genggaman antara gelap dan cahaya.
Selalu diliputi hitam dan putih.
Selalu berpacu dan berfikir terpenjara atau lari.
Selalu mengungkap apa itu gelap tanpa tahu cahayanya kan redup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar