Memaknai positif setiap apa
yang kita lihat bukanlah hal yang mudah, kita harus mempunyai dasar pemikiran atas
apa yang kita ungkapkan. Apakah benar - benar baik atau sebaliknya. Memang apa yang kita inginkan belum tentu seperti realita
yang ada dihadapan kita. Banyak orang membuat planning sesempurna mungkin
bahkan tanpa celah, tapi jika Allah tidak menghendaki apa yang menjadi planning
kita yang sempurna itu, maka semua hanya akan menjadi sebuah imaginasi kesuksesan.
Galau?
Iya galau.
Hal itulah yang kemungkinan bisa saja terjadi akibat kegagalan yang
dialami akibat dari kegagalan. Lantas bagaimana sikap kita dalam menghadapi
permasalahan yang sudah jelas ada di hadapan kita? Apakah kita akan lari dari
masalah tersebut atau menyelesaikannya dengan sebaik mungkin sesuai kemampuan
kita? Jika kita hendak menyelesaikannya, lantas ada saja sebuah rasa ingin
kabur menjauhi masalah, ingin menghilang dan melupakan masalah tersebut dan
rasa yang demikian itulah menunjukkan betapa rendahnya emosional kita,
rendahnya spiritual kita karena tidak ridho dengan ketentuanNya yang telah
terjadi.
Lantas bukankah kita telah mengingkari Rukun Iman kepada Qadha dan
Qadar Allah? astaghfirullah.. jika kita pernah melakukannya, mari berusaha
terus menerus bertaubat dan semoga Allah menerima taubat kita. Maka, jangan
mengatur Allah dengan segala keinginan kita, tetapi sebutlah nama Allah dalam
keadaan senang dan susah. Jika kita menginginkan sesuatu, maka komunikasikan
kepada Allah jika baik maka mohon agar dimudahkan, jika tidak baik mohon untuk
diganti dengan yang lebih baik.
Takdirkan
cinta atas restu-Nya, atas pilihanNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar