Setelah pamflet-pamflet disebar disudut-sudut kampus, seseorang yang baru
saja keluar dari ruang tata usaha menghampiri kami. Dengan wajah yang sedikit
aneh, beliau menunjuk sebuah nama yang berada di dalam pamflet itu.
“Mbak, ini salah namanya.” Kata beliau dengan nada agak sedikit marah.
“Owh, maaf pak.” Kataku tanpa membuat alasan sedikitpun. Kami sadar, itu
kesalahan yang fatal. Lalu orang itu beranjak pergi meninggalkan kami.
Semua mata terarah padaku, seolah semua yang terjadi adalah kesalahanku
semata. Ya Allah. Bolehkah aku menjelaskan kepada mereka semua? Apakah mereka
akan beranggapan hal tersebut hanya alasanku saja? Bismillah.. yang penting aku
berusaha.
“Hmm...” kataku mencairkan suasana yang sepi.
“Maaf mbak, semuanya salah saya.” Kataku menyalahkan diri sendiri.
“Terus kalo sudah begini mau nyetak lagi? Tau sendiri keuangan organisasi
sedang menipis sekarang!” kata salah satu dari mereka dengan nada yang sedikit
naik. Aku hanya diam dan memikirkan solusi.
“Emangnya kamu dapat nama itu dari mana sih? Sampai salah kaprah seperti
itu?” kata salah seorang yang berada disudut ruangan.
“Kemarin surat permohonan delegasi sudah disampaikan kepada setiap
semester. Dalam surat itu terdapat nama beliau, saya kira itu memang benar,
tapi ternyata seperti ini.” Jelasku.
“Terus siapa yang buat surat kemarin? Berarti semuanya salah?” kata
seseorang yang berada disudut ruang tadi menambah. Aku mengangguk pelan.
Seketika aku berfikir, jika mencetak lagi membutuhkan biaya yang tidak
sedikit, kalo ditutupi terasa aneh, akhirnya aku memutuskan untuk membeli
stipo. Mereka berusaha membenahi dengan menghapus bagian yang salah dan aku
kembali membuat surat peminjaman sound system kebagian sarana. Aku yang salah.
Jadi ketua panitia yang tidak becus.
---
Mentari sudah kembali keperaduannya. Rumput-rumput dijalan tidak lagi
terlihat hijau segar. Pandangan dari kedua matapun sedikit kabur. Kunang-kunang
mulai keluar dari sarangnya, kelap-kelip berwarna kuning. Bagaimana Allah
menciptakan makhluk sedemikian rupa? MasyaAllah, aku terkagum-kagum atas
Kuasa-Mu. Lampu diseberang jalan itu menyala terang, tapi perhatianku telah teralihkan oleh sinar ciptaan-Nya
melalui kelap-kelip kunang-kunang yang asyik menabur pesona di senja hari, masyaAllah, senja
yang indah.
Diufuk timur terlihat seberkas cahaya, cahaya itu dihasilkan oleh
elektron-elektron yang berada diangkasa. Ya Allah, aku bukan apa-apa, aku bukan
siapa-siapa, aku malu ketika panggilan-Mu datang, tetapi aku masih menapaki
jalan yang terjal ini. Tak tahu betapa pedih siksa-Mu nanti? Aku mengharap
ridho-Mu wahai Dzat pemilik ruh.
Jalan desa sudah terlihat sangat sepi, hanya satu atau dua kendaraan saja
yang masih lalu lalang. Alhamdulillah. InsyaAllah masyarakat sedang berjama’ah
sholat maghrib, aku memilih husnudzon melihatnya. Semakin dekat perjalananku
menuju pondok tempatku mengkaji ilmu. Kurang beberapa meter dari pondok, ada
sebuah warung yang masih buka, didalamnya ada beberapa pemuda yang ku ketahui
santri pondok putra yang berasal dari daerah timur Indonesia.
Ya Allah, status sebagai santri tidak membuat mereka malu bersikap
seperti itu. Subhanallah, Allah menunjukkan didepan mataku sendiri, seorang
yang sudah mendapatkan ilmu dan lengkap dengan dalilnya belum tentu bisa
melakukan hal-hal yang sesuai syariat. Astaghfirullah,
aku salah. Tak
seharusnya aku menghujat makhluk Allah sedemikian rupa, padahal mungkin dalam
diriku masih ada sifat yang sama. Ighfirly ya Rabb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar