Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Selasa, 18 Februari 2014

Episode: Tafakkur (Bagian 1)



Setelah pamflet-pamflet disebar disudut-sudut kampus, seseorang yang baru saja keluar dari ruang tata usaha menghampiri kami. Dengan wajah yang sedikit aneh, beliau menunjuk sebuah nama yang berada di dalam pamflet itu.
“Mbak, ini salah namanya.” Kata beliau dengan nada agak sedikit marah.
“Owh, maaf pak.” Kataku tanpa membuat alasan sedikitpun. Kami sadar, itu kesalahan yang fatal. Lalu orang itu beranjak pergi meninggalkan kami.
Semua mata terarah padaku, seolah semua yang terjadi adalah kesalahanku semata. Ya Allah. Bolehkah aku menjelaskan kepada mereka semua? Apakah mereka akan beranggapan hal tersebut hanya alasanku saja? Bismillah.. yang penting aku berusaha.
“Hmm...” kataku mencairkan suasana yang sepi.
“Maaf mbak, semuanya salah saya.” Kataku menyalahkan diri sendiri.
“Terus kalo sudah begini mau nyetak lagi? Tau sendiri keuangan organisasi sedang menipis sekarang!” kata salah satu dari mereka dengan nada yang sedikit naik. Aku hanya diam dan memikirkan solusi.
“Emangnya kamu dapat nama itu dari mana sih? Sampai salah kaprah seperti itu?” kata salah seorang yang berada disudut ruangan.
“Kemarin surat permohonan delegasi sudah disampaikan kepada setiap semester. Dalam surat itu terdapat nama beliau, saya kira itu memang benar, tapi ternyata seperti ini.” Jelasku.
“Terus siapa yang buat surat kemarin? Berarti semuanya salah?” kata seseorang yang berada disudut ruang tadi menambah. Aku mengangguk pelan.
Seketika aku berfikir, jika mencetak lagi membutuhkan biaya yang tidak sedikit, kalo ditutupi terasa aneh, akhirnya aku memutuskan untuk membeli stipo. Mereka berusaha membenahi dengan menghapus bagian yang salah dan aku kembali membuat surat peminjaman sound system kebagian sarana. Aku yang salah. Jadi ketua panitia yang tidak becus.
---
Mentari sudah kembali keperaduannya. Rumput-rumput dijalan tidak lagi terlihat hijau segar. Pandangan dari kedua matapun sedikit kabur. Kunang-kunang mulai keluar dari sarangnya, kelap-kelip berwarna kuning. Bagaimana Allah menciptakan makhluk sedemikian rupa? MasyaAllah, aku terkagum-kagum atas Kuasa-Mu. Lampu diseberang jalan itu menyala terang, tapi perhatianku  telah teralihkan oleh sinar ciptaan-Nya melalui kelap-kelip kunang-kunang yang asyik menabur pesona di senja hari, masyaAllah, senja yang indah.
Diufuk timur terlihat seberkas cahaya, cahaya itu dihasilkan oleh elektron-elektron yang berada diangkasa. Ya Allah, aku bukan apa-apa, aku bukan siapa-siapa, aku malu ketika panggilan-Mu datang, tetapi aku masih menapaki jalan yang terjal ini. Tak tahu betapa pedih siksa-Mu nanti? Aku mengharap ridho-Mu wahai Dzat pemilik ruh.
Jalan desa sudah terlihat sangat sepi, hanya satu atau dua kendaraan saja yang masih lalu lalang. Alhamdulillah. InsyaAllah masyarakat sedang berjama’ah sholat maghrib, aku memilih husnudzon melihatnya. Semakin dekat perjalananku menuju pondok tempatku mengkaji ilmu. Kurang beberapa meter dari pondok, ada sebuah warung yang masih buka, didalamnya ada beberapa pemuda yang ku ketahui santri pondok putra yang berasal dari daerah timur Indonesia.
Ya Allah, status sebagai santri tidak membuat mereka malu bersikap seperti itu. Subhanallah, Allah menunjukkan didepan mataku sendiri, seorang yang sudah mendapatkan ilmu dan lengkap dengan dalilnya belum tentu bisa melakukan hal-hal yang sesuai syariat. Astaghfirullah,
aku salah. Tak seharusnya aku menghujat makhluk Allah sedemikian rupa, padahal mungkin dalam diriku masih ada sifat yang sama. Ighfirly ya Rabb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar