Ini tentang sebuah kisah, ketika dua pasang mata tak pernah saling bertatap
muka. Hanya saling berkata dalam maya. Ini tentang sebuah rasa yang diam-diam
menyelinap kedalam dada masing-masing dari mereka. Ini tentang sebuah rasa,
yang keduanya berusaha menepis rasa itu, memilih diam, memilih saling menjauh,
karena takut rasa itu akan membutakan hati mereka, karena takut rasa itu akan
membuat mereka lupa kepada sejatinya cinta, karena mereka takut akan semua itu,
mereka memilih untuk sama-sama saling berhenti menyapa, berhenti berkata, meski
kedua hati sangat menahan gejolak rindu yang ada. Tapi apalah daya, keduanya
berusaha menjaga hati, hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk masa
depan masing-masing. Meski bukan dia, meski rasa itu hanya pernah menyusup
kedalam dada. Tapi kenangan itu tetap ada, meski tak ada lagi rasa. Hingga kini
mereka tak saling sapa, karena takut rasa itu kembali menyusup kedalam dada
mereka. Ini tentang mereka, yang memiliki kisah dibulan Juli. Sebuah nama tanpa
inisial.
Ini kisah kemarin sore. Saat senja dengan lembut semakin mendekat, saat
mendung mulai berarak, dan saat ke-2 pasang kaki menyusuri sebuah jalan
beraspal. Ini kisah yang telah ditulis sejak dulu, yang mungkin ini adalah
waktu yang ditunjuk pada tulisan itu. Teringat kisah sunan Kalijaga yang diutus
sang Guru untuk menunggu sebuah tongkat. Dengan ketawadhu’an yang luar biasa,
beliau menunggu dan terus menunggu, bahkan hingga sang Guru lupa. Ini bukan
tentang ke-khilafan, ini bukan tentang kekurangan seseorang. Karena kisah
itulah yang telah dituliskan disana, tak perlu ada kemarahan dan juga
penyesalan. Begitu juga kisah ini, menunggu dalam diam dan bisu. Hingga sosok
yang ditunggu pun muncul dalam tepian waktu, menggoreskan sebuah senyum penuh
makna. Hingga suasana diam dan bisu pun berubah menjadi suasana yang tak bisa
terlukiskan kata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar