Asap panas masih megepul, sembilan
tungku perapian masih menyala dengan warna khasnya, bara api pun masih terlihat
senang bersemayam. Terlihat beberapa orang yang sibuk mengaduk sesuatu yang
diletakkan diatas tungku perapian itu, ada pula yang mondar mandir mengangkat
ember dan sebagainya. Suasana sangat riuh meskipun dalam kondisi tenang,
ditambah sayup-sayup lantunan Surah Al Ikhlas seperti mengobarkan semangat
setiap manusia yang berada ditempat itu. Dapur umum, biasa mereka menyebutnya.
Diluarsana ratusan bahkan ribuan jama’ah thoriqoh sedang
melakukan dzikir fida’ bersama al ‘arifbillah Abah yang menjadi mursyid dari
ajaran thoriqoh Syadziliyah Al Mas’udiyah. Mendengar dzikir fida’ pun sepertinya
membuat langit ikut mengamini do’a para jama’ah, langit yang tadinya cerah
sedikit demi sedikit berubah abu-abu, tidak salah lagi mendung yang mengepul disana.
Hati ini mulai cemas tatkala setetes air mulai jatuh dari atas sana, selang
beberapa menit, hujan deras pun mengguyur dapur umum yang hanya terbuat dari
selembar karpet anti air (terpal) yang telah dipasang cak-cak Banser tadi
siang. Semakin deras dan semakin deras hujan turun bersamaan dengan air mata
jama’ah yang mulai khidmat menikmati dzikir fida’ mereka lakukan dihalaman
masjid sana. Kami yang berada didapur umum sangat sibuk menutupi segala yang
kami masak agar tidak tertetesi air dari terpal diatasnya. Komando dari
koordinator memasakpun sulit kami dengar karena guyuran hujan yang lebat itu.
Beberapa cak-cak banser tiba-tiba
sudah berada dilokasi untuk membantu memperbaiki terpal. Beberapa orang naik
membenahi tali yang diikat diujung-ujung terpal dan beberapa lainnya membawa
terpal baru dan hendak dipasang diatasnya agar air hujan tak masuk nasi yang
sudah masak. Bagian sambal ternyata terkena air dari atas, alhasil semua payung
dikeluarkan dan dipegang diatasnya, jadinya ya ngaduk sambal sambil pegang
payung. Merasa hal tersebut kurang kondusif, akhirnya papan kayu dimiringkan
untuk menghalangi air masuk, tapi apa boleh buat, usaha yang kami lakukan tidak
berujung maksimal, bahkan ada sebagian air yang masuk dalam adonan sambal dan
jadilah sambal rasa terpal, hehe. Semua yag ada dilokasi saling bahu membahu,
bahkan karena darurat, kami terkadang terpaksa berbicara dengan cak-cak Banser
dan bahkan jarak kami hanya 1 meter. Jarak seperti itu adalah jarak yang
sebenarnya bisa membuat kami langsung lari menjauh, jujur sih kami paling takut
dengan laki-laki. Bukannya apa-apa, tiap ada komando “mbak-mbak, ada cak-cak
masuk asrama putri” langsung saja semua santri masuk kekamar.
Begitulah, berusaha menghindari seminimal mungkin
interaksi dengan lawan jenis. Berusaha menjaga diri, semoga Allah meridhoi
usaha kecil ini. Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar