Keburukanmu mungkin
saja akan diumbar oleh orang dekat kita sekalipun, atau bahkan dia hanya berpura-pura baik
dihadapanmu, lantas ketika orang yang diajak membicarakan keburukanmu mengatakan semuanya padamu, lantas apa yang akan kamu perbuat?
Ingatlah, keburukan tak harus dibalas
dengan kejahatan. Mungkin diri kurang berbuat baik kepada sesama, mungkin saja
ada sedikit atau banyak dari perkataan yang menyinggung banyak orang, lantas
Allah menegurmu dengan cara seperti itu.
Manusia memang terkadang seperti itu, tak
perlu munafik untuk menyatakan kesalahan diri sendiri yang mungkin sudah
menumpuk dan membusuk. Bahkan ada yang berkata,
“Kok kamu tetap sabar menghadapinya yang
seperti itu? Padahal teman-teman yang lain sudah tidak betah dengannya, dan
teman-teman juga bertanya-tanya kenapa kamu kok betah dengannya.”
Mendengatnya saja sudah membuat mata ini
berkaca-kaca, diri ini sadar, mungkin ada yang diam-diam memperhatikanmu,
mungkin diam-diam ada yang menjelek-jelekkan namamu dihadapan orang lain.
Sadarlah diri, mungkin kamu pernah menyakiti hati orang lain seperti itu.
Sadarlah diri perbuatan yang kamu anggap baik, belum tentu baik dihadapan
orang. Apa lagi perbuatan busuk?
Wahai diri, tetaplah tegar! Tetaplah kuat!
Allah mengujikan semua soal ini untuk kamu hadapi, bukan tuk dihindari.
Sadarlah diri, kamu terlalu busuk untuk mereka yang suci, untuk mereka yang
sudah baik. Lihatlah diri, kamu bisa apa? Kamu punya keunggulan apa? Apa yang
bisa kamu banggakan dari diri? Sadarlah diri, tetaplah menatap kedepan.
Tetaplah berbuat baik kepada semuanya, bahkan kepada orang yang menyakitimu
sekalipun. Hanya dihadapan-Nya semua akan tampak, bukan penilaian manusia,
bukan penilaian mereka yang masih sama-sama busuknya itu. Eh, bukan.. hanya
kamu yang busuk, hanya kamu yang keruh, mereka adalah wewangian.
Seseorang tak bisa berkata, “SAYA lebih
BAIK dari dia”
Jombang, 25 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar