Istighosah maghrib tadi aku duduk tepat di belakang imam.
Disebelahku ada seorang anak yang baru duduk dikelas VIII MTs. Sebut saja
namanya Diah, dia terlihat sangat mengantuk, bahkan terlihat manggut-manggut
ketika yang lain melantunkan dzikir. Ku ketahui dia adalah anak yang suka
menyendiri. Ku lihat jarang sekali dia bermain bersama teman seusianya. Mungkin
akrena daya fikirnya yang lambat membuatnya tersingkir dari pergaulan
teman-temannya. Diusianya yang masih kecil terlihat sekali dia sangat kesepian
dan memang anaknya terlihat sedikit anah, tidak seperti biasanya. Pikiranku
tergelitik, ya Allah bisa saja orang-orang yang aneh menurut kacamata kami
adalah wali-Mu. Mungkin dia tampak aneh dihadapan manusia, tapi dia selalu
menyepi dan menyendiri untuk mendekatkan dirinya kepada-Mu.
Astaghfirullah…mungkin begitulah pandangan manusia, terlalu terbatas sehingga
hanya melihat seseorang dari sebagian matanya. Astaghfirullah … istighosahku
tak khusyuk sama sekali. Ighfirlanaa yaa Robb…
Kembali pikiranku melayang, tiba-tiba saja ku ingat resleting
ranselku yang sudah mulai rusak. Yah namanya juga buatan manusia. Sejenak aku
ingat ibu yang jaraknya beribu-ribu meter dari tempatku berpijak kini. Setiap
kali pulang kerumah dan menggunakan baju yang sebelumnya belum pernah diketahui
ibu, pasti ibu selalu member nasihat “jangan ngumpulin baju terus”. Aku tahu
maksud ibu, agar aku belajar berhemat. Memang teman yang lumayan dekat denganku
pasti suka ngajak kembaran gamis, dan yang membeli kain juga dia atau kami
patungan. Aku tahu, segala yang kita gunakan didunia akan dihisab meskipun itu
halal, tapi yang haram langsung tanpa hisab masuk neraka.
Kadang memang godaan wanita itu sangat banyak, jika kita
tidak berhasil digoda dari segi asmara, maka syetan akan selalu mencari jalan
lain agar kita bisa terjerumus menjadi sahabatnya di neraka. Aku ingat sewaktu masih kecil, memang keluarga kami pas-pasan. Satu
tahun hanya sekali dibelikan baju baru, yaitu ketika lebaran. Bahkan bapak
paling jarang membeli baju baru. Jujur, aku bersyukur memiliki bapak seperti
beliau, selalu sederhana dan bersahaja. Bahkan ketika lebaran bapak pasti
diberi baju atau sarung baru oleh tetangga, kepala desa atau lainnya. Ku ingat
ketika bapak mendapatkan sarung atlas yang harganya lumayan mahal menurutku.
Iyalah sarungku hanya sekitar 25ribu, sedangkan atlas 50rb lebih. Sarung atlas
itu berwarna biru, sangat hangat. Ku ingat bapak mendapatkannya tahun 2009
sebelum aku lulus MTs. Sarung itu yang menemaniku pertama kalinya dipondok dan
hingga sekarang selalu menghangatkan tubuhku ketika aku terlelap. Beeh jadi
kangen bapak deeh.
Aku jadi ingat ketika liburan lebaran Idul Fitri tahun 2015 ini,
ketika hendak berangkat menunaikan sholat jum’at, ibu menegur bapak “Sarungnya
robek kok masih dipakek sih pak”. Ketika kedua mataku melihatnya, ternyata
memang sarung itu robek karena dimakan tikus. Ya Allah, meskipun bapak punya
banyak sarung baru didalam almari tetapi bapak lebih senang dengan penampilan
yang bersahaja, bahkan ketika diundang mengisi acara khotmil qur’an juga
seperti itu. Aku ingat ketika usiaku semakin beranjak dewasa tetapi aku tidak
mau kamarku diberi kasur, bahkan badan terasa sakit dan panas jika tidur
diatasnya. Iya, aku ingat kisahnya Rasulullah yang tidurnya saja dengan pelepah
pohon kurma. Yaa Rasulullah mungkin hanya sedikit dari diri ini yang bisa
menauladani sifat-sifatmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar