Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Kamis, 10 September 2015

Ingat Ibu Bapak



Istighosah maghrib tadi aku duduk tepat di belakang imam. Disebelahku ada seorang anak yang baru duduk dikelas VIII MTs. Sebut saja namanya Diah, dia terlihat sangat mengantuk, bahkan terlihat manggut-manggut ketika yang lain melantunkan dzikir. Ku ketahui dia adalah anak yang suka menyendiri. Ku lihat jarang sekali dia bermain bersama teman seusianya. Mungkin akrena daya fikirnya yang lambat membuatnya tersingkir dari pergaulan teman-temannya. Diusianya yang masih kecil terlihat sekali dia sangat kesepian dan memang anaknya terlihat sedikit anah, tidak seperti biasanya. Pikiranku tergelitik, ya Allah bisa saja orang-orang yang aneh menurut kacamata kami adalah wali-Mu. Mungkin dia tampak aneh dihadapan manusia, tapi dia selalu menyepi dan menyendiri untuk mendekatkan dirinya kepada-Mu. Astaghfirullah…mungkin begitulah pandangan manusia, terlalu terbatas sehingga hanya melihat seseorang dari sebagian matanya. Astaghfirullah … istighosahku tak khusyuk sama sekali. Ighfirlanaa yaa Robb…

Kembali pikiranku melayang, tiba-tiba saja ku ingat resleting ranselku yang sudah mulai rusak. Yah namanya juga buatan manusia. Sejenak aku ingat ibu yang jaraknya beribu-ribu meter dari tempatku berpijak kini. Setiap kali pulang kerumah dan menggunakan baju yang sebelumnya belum pernah diketahui ibu, pasti ibu selalu member nasihat “jangan ngumpulin baju terus”. Aku tahu maksud ibu, agar aku belajar berhemat. Memang teman yang lumayan dekat denganku pasti suka ngajak kembaran gamis, dan yang membeli kain juga dia atau kami patungan. Aku tahu, segala yang kita gunakan didunia akan dihisab meskipun itu halal, tapi yang haram langsung tanpa hisab masuk neraka.

Kadang memang godaan wanita itu sangat banyak, jika kita tidak berhasil digoda dari segi asmara, maka syetan akan selalu mencari jalan lain agar kita bisa terjerumus menjadi sahabatnya di neraka. Aku ingat sewaktu masih kecil, memang keluarga kami pas-pasan. Satu tahun hanya sekali dibelikan baju baru, yaitu ketika lebaran. Bahkan bapak paling jarang membeli baju baru. Jujur, aku bersyukur memiliki bapak seperti beliau, selalu sederhana dan bersahaja. Bahkan ketika lebaran bapak pasti diberi baju atau sarung baru oleh tetangga, kepala desa atau lainnya. Ku ingat ketika bapak mendapatkan sarung atlas yang harganya lumayan mahal menurutku. Iyalah sarungku hanya sekitar 25ribu, sedangkan atlas 50rb lebih. Sarung atlas itu berwarna biru, sangat hangat. Ku ingat bapak mendapatkannya tahun 2009 sebelum aku lulus MTs. Sarung itu yang menemaniku pertama kalinya dipondok dan hingga sekarang selalu menghangatkan tubuhku ketika aku terlelap. Beeh jadi kangen bapak deeh.

Aku jadi ingat ketika liburan lebaran Idul Fitri tahun 2015 ini, ketika hendak berangkat menunaikan sholat jum’at, ibu menegur bapak “Sarungnya robek kok masih dipakek sih pak”. Ketika kedua mataku melihatnya, ternyata memang sarung itu robek karena dimakan tikus. Ya Allah, meskipun bapak punya banyak sarung baru didalam almari tetapi bapak lebih senang dengan penampilan yang bersahaja, bahkan ketika diundang mengisi acara khotmil qur’an juga seperti itu. Aku ingat ketika usiaku semakin beranjak dewasa tetapi aku tidak mau kamarku diberi kasur, bahkan badan terasa sakit dan panas jika tidur diatasnya. Iya, aku ingat kisahnya Rasulullah yang tidurnya saja dengan pelepah pohon kurma. Yaa Rasulullah mungkin hanya sedikit dari diri ini yang bisa menauladani sifat-sifatmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar