Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Kamis, 21 Mei 2015

menjadi Pemimpin, bukan Pemimpi



Hal yang membuat saya belajar kembali tentang esensi sebuah negara, hal-hal apa saja yang diperlukan dalam membentuk sebuah negara. Iya, sebuah kampus adalah miniatur kecil dari sebuah negara. Ternyata membangun sebuah negara itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apakah akan membentuk sebuah negara seperti yang diidam-idamkan para pejuang al-Khilafah yang menginginkan sebuah negara bercorak Islam, atau membuat negara beraliran nasionalis? Dalam hal ini mungkin menerapkan konsep khilafah pada kampus yang notabenya adalah 100% beragama Islam mungkin lebih mudah, tetapi saya hanya sebagai penerus, saya masih bingung dalam membentuk konsep baru. Intinya sama-sama membangun peradaban yang semakin maju dan bisa bersaing dengan lainnya. Memajukan lembaga Allah, bukankah hal tersebut adalah kesempatan mulia yang tak dapat dimiliki oleh setiap orang?

Istilah khilafah digunakan oleh HTI untuk merubah negara yang memiliki konsep nasionalis menjadi Islami seperti zaman kekhalifahan sahabat zaman dulu. Tapi yang dipermasalahkan, apakah seorang pemimpin zaman sekarang bisa seperti khalifah di zaman para sahabat? Tentu tidak mungkin, pasti sedikit atau banyak ada yang diutamakan dan tentunya memiliki tujuan, secara tidak langsung bisa dikatakan tidak bisa berlaku adil. 

Di kampus yang alhamdulillah sangat menjaga dan menjunjung tinggi aturan Islam ini diterapkan hukum Islam, bukan hukum khilafah. Hukum Islam itu solusi, bukan sebuah hal untuk diperdebatkan lagi keberadaannya. 

Entahlah, semoga dengan segala kesibukan yang saya jalani di pondok bisa tetap eksis menjalankan amanah sebagai presiden mahasiswa.

Target utama adalah meluluskan Qur'any seluruh mahasiswi, kalau mahasiswa biar urusan putra, Wisuda Qur'any, seminar pendidikan, motivasi dan banyak lagi. Jika mungkin ketika semester awal saya pernah ingin menjadi presiden mahasiswi, dan sekarang alhamdulillah amanah itu sudah didepan mata. Menjadi sebenarnya PEMIMPIN, bukan PEMIMPI. Ah.. jadi ingat cerita Fatimah ra, karena beliau adalah pemimpin wanita - wanita ketika di surga.

Allah.. bantu hamba... tolong hamba... kuatkan hamba...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar