Kenangan Kita

Dalam ruang ini aku mengenang. Celoteh anak – anak mendoakan kita. Coletah mereka dengan kepolosannya. Kau ingat di ruang itu? ...

Senin, 23 Januari 2017

Muhasabah Cinta: Cerita di terminal



Air yang turun dari langit itu terlihat sangat anggun. Sosok manusia yang menggunakan kaos abu-abu merah panjang itu mengepalkan tangan agar merasakan hangat. Dia kedinginan diruang tunggu angkutan desa atau biasa disebut dengan “len”. Jaket yang dikenakannya tadi sewaktu berangkat diberikan kepadaku sebelum naik bus AC. Masih terasa sekali ketika belaian tangannya menyentuh pipi saat aku tertidur dibahunya, dia membelai lemput pipiku dengan tangannya yang kekar. “Allah, tangan itulah yang engkau sukai, yang selalu digunakan untuk amal sholih demi kepentingan umat. Hamba malu, hamba iri dengannya.” jerit hati kecilku. Sesaat kemudian aku terbangun, didalam bus sangat dingin ditambah lagi diluar sedang hujan. Dia rela kedinginan, sesekali dia menyuruhku mengoleskan minyak telon agar badanku tetap terasa hangat. Terlihat dia sedang melihat tangannya yang kasar mulai berganti kulit. Sedikit demi sedikit kulit mati itu mengelupas dan digantikan dengan kulit yang baru.Tanganku yang juga berganti kulit, kutunjukkan padanya.

“Tangan ql juga ganti kulit” kataku sambil membersihkan kulit yang mengelupas tipis.
“Eh jangan digitukan neng, nanti luka kulitnya. Nanti mengelupas sendiri kok, jangan digituin” katanya melarangku.

Masih ingat ketika turun dari bus, kami langsung menuju ruang tunggu karena hujan sangat lebat. Angin semilit terasa sangat dingin, bahkan aku yang mengenakan jasket juga masih merasa kedinginan. Disamping kami ada seorang ibu dan kedua anaknya. Sekitar umur 1 tahun dan 4 tahun. Anak yang masih kecil digendong, didekap oleh ibunya. Anak kecil itu terlihat sangat nyaman. Anak yang sudah 4 tahun berlari kearah ayahnya. Ayahnya pun duduk dengan mereka, ayah itu menyalakan rokok. Aku yang berada 3 meter dari jarak mereka langsung menutup hidung.

“Mas, pindah dari sini yuk,” kataku.
“Didamel maskernya neng.”
Aku menggelengkan kepala, dan dia sudah paham.
“Ayo kita pindah kesana,” ajaknya
“Teng pundi?”
“Udah ayo...” lalu aku berjalan dibelakangnya.
“Nitip nggeh, tak ke kamar mandi dulu, ikut mboten?” candanya.
“Ih.. mboten lah, sana-sana mangke ngompol”

Masih ingat kata – katanya beberapa waktu lalu, “Neng, mau kan sampean  jadi sekertaris dan bendahara mas selamanya?”


bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar