Air yang turun dari langit itu
terlihat sangat anggun. Sosok manusia yang menggunakan kaos abu-abu merah
panjang itu mengepalkan tangan agar merasakan hangat. Dia kedinginan diruang
tunggu angkutan desa atau biasa disebut dengan “len”. Jaket yang dikenakannya
tadi sewaktu berangkat diberikan kepadaku sebelum naik bus AC. Masih terasa
sekali ketika belaian tangannya menyentuh pipi saat aku tertidur dibahunya, dia
membelai lemput pipiku dengan tangannya yang kekar. “Allah, tangan itulah yang
engkau sukai, yang selalu digunakan untuk amal sholih demi kepentingan umat.
Hamba malu, hamba iri dengannya.” jerit hati kecilku. Sesaat kemudian aku
terbangun, didalam bus sangat dingin ditambah lagi diluar sedang hujan. Dia
rela kedinginan, sesekali dia menyuruhku mengoleskan minyak telon agar badanku
tetap terasa hangat. Terlihat dia sedang melihat tangannya yang kasar mulai
berganti kulit. Sedikit demi sedikit kulit mati itu mengelupas dan digantikan
dengan kulit yang baru.Tanganku yang juga berganti kulit, kutunjukkan padanya.
“Tangan ql juga ganti kulit” kataku
sambil membersihkan kulit yang mengelupas tipis.
“Eh jangan digitukan neng, nanti
luka kulitnya. Nanti mengelupas sendiri kok, jangan digituin” katanya
melarangku.
Masih ingat ketika turun dari bus,
kami langsung menuju ruang tunggu karena hujan sangat lebat. Angin semilit
terasa sangat dingin, bahkan aku yang mengenakan jasket juga masih merasa
kedinginan. Disamping kami ada seorang ibu dan kedua anaknya. Sekitar umur 1
tahun dan 4 tahun. Anak yang masih kecil digendong, didekap oleh ibunya. Anak
kecil itu terlihat sangat nyaman. Anak yang sudah 4 tahun berlari kearah
ayahnya. Ayahnya pun duduk dengan mereka, ayah itu menyalakan rokok. Aku yang
berada 3 meter dari jarak mereka langsung menutup hidung.
“Mas, pindah dari sini yuk,”
kataku.
“Didamel maskernya neng.”
Aku menggelengkan kepala, dan dia
sudah paham.
“Ayo kita pindah kesana,” ajaknya
“Teng pundi?”
“Udah ayo...” lalu aku berjalan
dibelakangnya.
“Nitip nggeh, tak ke kamar mandi
dulu, ikut mboten?” candanya.
“Ih.. mboten lah, sana-sana mangke
ngompol”
Masih ingat kata – katanya beberapa
waktu lalu, “Neng, mau kan sampean jadi
sekertaris dan bendahara mas selamanya?”
bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar